Tentang trade-off antara efisiensi dan resiliensi yang terlalu lama kita abaikan, dan mengapa hal ini semakin mendesak di tengah ketidakpastian global yang semakin dalam.
Selama puluhan tahun, dunia industri dan manajemen merayakan efisiensi sebagai pencapaian tertinggi. Just-in-time. Zero inventory. Lean everything. Sistem yang paling ramping, paling teroptimasi, dan paling tidak memboroskan itulah yang paling dikagumi, paling banyak diajarkan, dan paling sering dijadikan tolok ukur keunggulan. Buku teks manajemen dipenuhi kisah sukses perusahaan yang berhasil memangkas biaya, menghilangkan redundansi, dan memaksimalkan output dari setiap unit input yang digunakan.
Lalu datanglah 2020.
Dan tiba-tiba, sistem-sistem yang paling efisien itu yang pertama kali kolaps. Masker medis tidak ada. Semikonduktor tidak ada. Obat-obatan esensial sulit didapat. Rantai pasok global, yang sudah dioptimalkan selama bertahun-tahun hingga hampir tidak ada slack di mana pun, membeku dalam hitungan minggu. Bukan karena tidak ada yang pintar merancangnya. Bukan karena orang-orangnya tidak kompeten. Tapi sistem yang terlalu ramping tidak punya ruang untuk bernapas saat sesuatu yang tidak terprediksi terjadi.
Pertanyaannya bukan hanya mengapa hal ini terjadi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kita tidak melihatnya sebelumnya? Dan ini juga menjadi semakin relevan ketika ketidakpastian datang kembali dengan adanya perang dan konflik di Timur tengah.
Lanjutkan membaca “Sistem yang Paling Efisien Adalah yang Paling Rapuh dan Kita Baru Saja Membuktikannya (Refleksi Keilmuan Teknik Industri)”
