Model-based decision making bukan tentang lebih banyak data. Tapi tentang pertanyaan yang lebih baik.
Ada situasi yang terasa sangat membingungkan — dan sangat menggelisahkan.
Semua data sudah ada. Semua angka sudah dianalisis. Laporan sudah dibaca sampai halaman terakhir. Rapat sudah dijalankan, diskusi sudah panjang, dan keputusan akhirnya diambil dengan penuh keyakinan.
Lalu hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Bukan karena datanya keliru. Bukan karena analisisnya ceroboh. Bukan karena orangnya tidak kompeten. Tapi ada sesuatu yang hilang di antara data dan keputusan — sesuatu yang tidak tampak di spreadsheet manapun, tidak terlihat di dashboard apapun, dan tidak bisa ditemukan dengan menambah lebih banyak data lagi.
Apa yang hilang itu?
Mengapa data saja tidak cukup
Data menggambarkan apa yang terjadi. Ia merekam, mengukur, dan merangkum kondisi yang sudah ada. Tapi ia tidak otomatis menjelaskan mengapa hal itu terjadi; apalagi apa yang akan terjadi jika kita mengubah sesuatu.
Ada jarak antara deskripsi dan pemahaman. Dan jarak itu tidak bisa diisi hanya dengan menambah lebih banyak data.
Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya.
Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan.
Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini. Anda menyimpulkan apakah meeting jam sembilan bisa digeser atau lebih baik tetap dijalankan. Paling sederhana, Anda mungkin juga memutuskan apakah sarapan dulu atau langsung berangkat dan memperkirakan konsekuensinya terhadap konsentrasi Anda nanti.
Namun demikian, tidak satu pun dari keputusan itu terasa seperti “menggunakan model.” Semua terasa seperti akal sehat biasa, intuisi dan pengalaman. Hal yang dilakukan secara otomatis tanpa perlu berpikir terlalu keras.
Tapi mari kita berhenti sebentar. Dan periksa lebih cermat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika membuat keputusan-keputusan yang terasa “otomatis” itu.
Asumsi di balik akal sehat
Ketika Anda memilih rute, Anda menggunakan model tentang kondisi lalu lintas: hari apa ini dalam sepekan (senin/jumat memiliki kebiasaan traffic berbeda), jam berapa kemacetan biasanya terjadi di titik mana, rute mana yang lebih terprediksi, apakah ada informasi tentang kejadian tidak biasa hari ini (misalnya ada pertandingan timnas). Anda tidak menyebutnya “model lalu lintas.” Tapi itulah yang sedang Anda gunakan: sebuah representasi mental tentang bagaimana sistem transportasi kota bekerja pada jam-jam tertentu.
Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah.
Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama.
Lalu diskusi dimulai.
Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak konsisten.* Orang kedua menyimpulkan: *masalahnya ada di strateginya sendiri. Eksekusi yang lebih baik tidak akan mengubah apapun kalau arahnya memang salah.*
Keduanya cerdas. Keduanya serius. Keduanya bisa menjelaskan alasannya dengan koheren dan meyakinkan. Lalu siapa yang benar? Dan mengapa dua orang yang melihat realita yang sama bisa tiba di tempat yang sangat berbeda?
Jawabannya bukan pada datanya. Jawabannya ada di sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang kita bawa masuk ke ruangan itu jauh sebelum rapatnya dimulai.
Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah.
Kita sudah pernah di sini sebelumnya. Nama saat ini adalah Reformasi Birokrasi
Nama programnya berganti. Slogannya diperbarui. Strukturnya direorganisasi. Pelatihannya diselenggarakan dengan penuh semangat. Bahkan seragamnya pun kadang ikut diganti. Dan tiga tahun kemudian atau lima tahun, atau sepuluh dan ceritanya terasa sama. Antrian masih panjang. Dokumen masih sering hilang. Koordinasi antar lembaga masih terasa seperti negosiasi antar negara.
Bukan karena orangnya malas. Bukan karena pemimpinnya tidak serius. Tapi mungkin, dan ini yang jarang diucapkan dengan jujur, karena kita selalu mendorong di tempat yang tidak bisa bergerak.
Ada yang namanya titik ungkit
Donella Meadows, seorang pemikir sistem dari MIT yang karyanya terus relevan hingga hari ini, pernah menulis sesuatu yang sederhana tapi menggelisahkan: dalam setiap sistem yang kompleks, ada titik-titik tertentu di mana intervensi kecil bisa menghasilkan perubahan yang besar. Dan sebaliknya, ada tempat-tempat di mana usaha yang sangat besar telah dilakukan hampir tidak mengubah apapun.
Ia menyebutnya leverage points. Titik ungkit.
Yang mengejutkan adalah ini: titik ungkit yang paling kuat justru bukan yang paling mudah dilihat. Biasanya yang paling mudah dilihat dan paling sering dikerjakan, justru yang pengaruhnya paling lemah terhadap sistem secara keseluruhan.
Tentang kebijakan energi, sistem yang terjebak, dan otak kita yang semakin tidak sabar.
Suatu pagi, mungkin sambil sarapan atau di perjalanan ke kantor, Anda membaca sebuah berita di feed media sosial yang anda ikuti di gadget anda. Pemerintah berencana mendorong elektrifikasi sepeda motor besar-besaran, wacana masuk kerja empat hari seminggu untuk mengurangi konsumsi BBM dan sekolah tatap muka dikurangi harinya. Semua dibingkai sebagai langkah berani menuju efisiensi energi karena ada tekanan geopolitik di dunia saat ini akibat perang.
Anda mungkin mengangguk atau menggeleng, dan kemudian lalu pindah scroll ke konten berikutnya.
Tapi sebelum kita lanjut scroll, ada baiknya kita berhenti sebentar. Bukan untuk menghakimi kebijakannya. Tapi untuk bertanya sesuatu yang lebih mendasar: ini solusi, atau kita sedang memadamkan api dengan ember kecil … lagi?
Solusi yang terlihat seperti solusi
Mari kita periksa logikanya. Masalah yang ingin diselesaikan adalah konsumsi BBM yang tinggi dan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang akan memakan anggaran negara untuk disubsidi. Solusi yang dipilih: kurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak dengan menggantinya ke listrik, dan kurangi mobilitas masyarakat dengan memangkas hari kerja dan hari sekolah.
Di berbagai workshop dan seminar yang saya ikuti, saya sering mendengar bahwa sebuah institusi mengklaim telah menciptakan sebuah sistem ini, sistem itu, yang lebih baik dari sebelumnya. Ada juga yang mengklam bahwa sebelumnya tidak ada sistemnya, sehingga sekarang dengan adanya sistem yang baru dirancang maka akan lebih tertata dst.
Namun yang menarik buat saya dari konsep, rancangan, atau akhirnya di implementasi, sistem tersebut tidak memuat adanya sub-sistem umpan balik. Umpan balik adalah sub-sistem yang seringkali lupa merupakan bagian penting dan memang seharusnya ada dalam sistem. Definisi sistem klasik adalah input proses output umpan-balik. Sehingga ketika sebuah klaim sistem dilakukan, namun ternyata tidak memiliki sub-sistem umpan balik, maka seharusnya tidak bisa diklaim sebagai sistem
Bounded Rationality atau Rasionalitas Terbatas adalah sebuah konsep dalam pengambilan keputusan bahwa kemampuan manusia memiliki keterbatasan dalam mendapatkan dan mengolah informasi. Ini akibat keterbatasan kognitif manusia dan waktu yang tersedia dalam mengambil keputusan. Kemampuan kognitif didefinisikan secara sederhana sebagai kemampuan memproses informasi untuk memiliki makna yang akan membantu proses pengambilan keputusan. Kemampuan ini akan tergantung dari kesehatan fisik, mental, pengetahuan dan pengalaman. Ketika anda lelah secara fisik maka pengambilan keputusan kompleks biasanya menjadi terasa lebih berat, sehingga disarankan untuk menunda mengambil keputusan.
Bounded rationality memberikan rem kuat terhadap konsep ideal dalam pengambilan keputusan tentang informasi lengkap dan sempurna akan menghasilkan keputusan sempurna. Dalam sebuah permasalahan kompleks, informasi lengkap akan menimbulkan timbunan informasi yang luar biasa sehingga pada akhirnya manusia tidak akan sanggup untuk mengolahnya. Secara sederhana, jika anda diminta untuk mengingat sarapan apa pada 249 hari yang lalu, apakah anda mengingatnya? Ini berarti ada keterbatasan dalam kemampuan manusia sehingga banyak informasi yang tidak relevan secara otomatis seperti dihilangkan dari otak kita.
Ini mengapa jika anda berdiskusi dengan orang lain, anda bisa saja seperti berhadapan dengan tembok yg tidak mau bergeser, karena sebenarnya anda berhadapan dengan batasan rasionalitas dari orang tersebut. Anda juga disarankan tidak mengambil keputusan strategis ketika emosional, lelah, kaget atau dalam situasi dimana rationalitas anda menjadi berkurang.
Bounded rationality membuat pengambil keputusan seperti menjustifikasi pengambilan keputusan yang kurang dari ideal dengan memberikan alasan atau konteks yang dianggap benar dan menjadi pengekang dari target ideal. Dan yang seru adalah logika alasan ini akan terlihat masuk akal atau dikenal logis. Padahal belum tentu sama masuk akal bagi anda atau bagi orang kebanyakan namun tetap masuk akal. Karena memang kata masuk akal sendiri kan berarti tergantung akal siapa yg digunakan. Logika juga sama, tergantung logika apa yang dipakai. Sehingga sebenarnya pendidikan formal itu mencoba menguatkan logika bersama universal yg bisa menjamin kemajuan umat manusia. Loh kok jadi kemana-mana, mari kembali ke bounded rationality.
Jadi apa yang sebenarnya kenapa kita perlu memahami bounded rationality? Karena jika anda ingin berdiskusi, mengubah pendapat orang lain, atau tidak baper dalam berkomunikasi, maka perlu disadari bahwa anda dan lawan komunikasi anda bisa jadi memiliki rasionalitas berbeda, sehingga jika hal yang didiskusikan penting, maka anda perlu berstrategi untuk melakukan komunikasi.
Anda harus menyeimbangkan antara bertanya dan berpendapat untuk saling melihat struktur logika rasionalitas anda dan lawan bicara dalam proses dialog secara seimbang. Sering melakukan konfirmasi apakah apa yang anda pahami dari logika dia adalah sesuai dengan yg dimaksud (hindari dulu benar salah). Tawarkan rasionalitas anda kepada lawan bicara dan minta pendapatnya.
Apakah akan selalu sukses? tentu tidak, ini juga yang menjadi aspek dalam bounded rationality, karena keterbatasan yang timbul biasanya terjadi karena sejarah panjang kehidupan lawan bicara kita. Sederhananya yaa sudah diusahakan, berikutnya yaa tinggal didoakan untuk mau berubah.