Coba bayangkan skenario ini. Seorang mahasiswa S2, duduk di depan laptopnya jam 10 malam sebelum deadline tugas kuliah berpikir sistem untuk menyusun Causal Loop Diagram (CLD). Causal Loop Diagram (CLD) adalah sebuah alat visual untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem, terutama bagaimana variabel saling memengaruhi melalui feedback loops (lingkaran umpan balik). Diagram ini sering digunakan dalam system thinking untuk mengidentifikasi pola, lingkaran setan (vicious cycles), atau lingkaran baik (virtuous cycles) dalam dinamika organisasi, bisnis, maupun fenomena sosial.
Alih-alih membuka buku teks atau mengulang materi kuliah, ia membuka ChatGPT, mengetik deskripsi masalah yang diberikan dosennya, dan dalam dua menit mendapatkan causal loop diagram lengkap dengan penjelasan feedback loop positif dan negatifnya.
Hasilnya? Cukup masuk akal. Tidak jenius, tapi cukup. Mungkin 75 persen dari apa yang akan dihasilkan mahasiswa yang belajar serius selama satu semester.
Pertanyaannya kemudian menjadi tidak nyaman: jadi apa gunanya kita mengajarkan systems thinking ketika analisa complex yang biasa dilakukan bisa digantikan oleh AI?
Ketika kita berbicara tentang memori, biasanya yang pertama terlintas di benak adalah memori manusia—kemampuan kita untuk menyimpan, mengingat, dan menggunakan kembali informasi dari pengalaman masa lalu. Namun, konsep serupa juga berlaku dalam organisasi dan pemerintahan dalam bentuk memori institusi (institutional memory).
Apa Itu Memori Institusi?
Memori institusi adalah kumpulan pengetahuan, pengalaman, kebijakan, prosedur, dan praktik yang telah dikembangkan oleh suatu organisasi atau institusi dalam jangka waktu tertentu. Ini mencakup bagaimana keputusan diambil, bagaimana masalah dipecahkan, serta bagaimana budaya dan nilai-nilai berkembang dalam suatu organisasi.
Memori institusi dapat berupa:
Dokumentasi tertulis, seperti arsip kebijakan, laporan, dan peraturan.
Sistem dan prosedur, seperti SOP (Standard Operating Procedures) dan mekanisme koordinasi.
Pengalaman individu, yang diwariskan secara informal melalui mentoring atau pembelajaran di tempat kerja.
Norma dan budaya organisasi, yang membentuk kebiasaan dan bagaimana institusi beroperasi dan berinteraksi dengan pihak lain.
Apakah Memori Institusi Mirip dengan Memori Manusia?
Dalam banyak hal, ya. Seperti halnya manusia yang mengandalkan memori untuk bertindak berdasarkan pengalaman masa lalu, institusi juga bergantung pada memori institusi untuk mempertahankan keberlanjutan dan efektivitasnya.
My Perspectives on the Changing Role of Industrial and Systems Engineering in Contributing to the Sustainable Development Goals in the Industry 4.0 Era with special focuses on Lean and Green Concepts
Di berbagai workshop dan seminar yang saya ikuti, saya sering mendengar bahwa sebuah institusi mengklaim telah menciptakan sebuah sistem ini, sistem itu, yang lebih baik dari sebelumnya. Ada juga yang mengklam bahwa sebelumnya tidak ada sistemnya, sehingga sekarang dengan adanya sistem yang baru dirancang maka akan lebih tertata dst.
Namun yang menarik buat saya dari konsep, rancangan, atau akhirnya di implementasi, sistem tersebut tidak memuat adanya sub-sistem umpan balik. Umpan balik adalah sub-sistem yang seringkali lupa merupakan bagian penting dan memang seharusnya ada dalam sistem. Definisi sistem klasik adalah input proses output umpan-balik. Sehingga ketika sebuah klaim sistem dilakukan, namun ternyata tidak memiliki sub-sistem umpan balik, maka seharusnya tidak bisa diklaim sebagai sistem
Bounded Rationality atau Rasionalitas Terbatas adalah sebuah konsep dalam pengambilan keputusan bahwa kemampuan manusia memiliki keterbatasan dalam mendapatkan dan mengolah informasi. Ini akibat keterbatasan kognitif manusia dan waktu yang tersedia dalam mengambil keputusan. Kemampuan kognitif didefinisikan secara sederhana sebagai kemampuan memproses informasi untuk memiliki makna yang akan membantu proses pengambilan keputusan. Kemampuan ini akan tergantung dari kesehatan fisik, mental, pengetahuan dan pengalaman. Ketika anda lelah secara fisik maka pengambilan keputusan kompleks biasanya menjadi terasa lebih berat, sehingga disarankan untuk menunda mengambil keputusan.
Bounded rationality memberikan rem kuat terhadap konsep ideal dalam pengambilan keputusan tentang informasi lengkap dan sempurna akan menghasilkan keputusan sempurna. Dalam sebuah permasalahan kompleks, informasi lengkap akan menimbulkan timbunan informasi yang luar biasa sehingga pada akhirnya manusia tidak akan sanggup untuk mengolahnya. Secara sederhana, jika anda diminta untuk mengingat sarapan apa pada 249 hari yang lalu, apakah anda mengingatnya? Ini berarti ada keterbatasan dalam kemampuan manusia sehingga banyak informasi yang tidak relevan secara otomatis seperti dihilangkan dari otak kita.
Ini mengapa jika anda berdiskusi dengan orang lain, anda bisa saja seperti berhadapan dengan tembok yg tidak mau bergeser, karena sebenarnya anda berhadapan dengan batasan rasionalitas dari orang tersebut. Anda juga disarankan tidak mengambil keputusan strategis ketika emosional, lelah, kaget atau dalam situasi dimana rationalitas anda menjadi berkurang.
Bounded rationality membuat pengambil keputusan seperti menjustifikasi pengambilan keputusan yang kurang dari ideal dengan memberikan alasan atau konteks yang dianggap benar dan menjadi pengekang dari target ideal. Dan yang seru adalah logika alasan ini akan terlihat masuk akal atau dikenal logis. Padahal belum tentu sama masuk akal bagi anda atau bagi orang kebanyakan namun tetap masuk akal. Karena memang kata masuk akal sendiri kan berarti tergantung akal siapa yg digunakan. Logika juga sama, tergantung logika apa yang dipakai. Sehingga sebenarnya pendidikan formal itu mencoba menguatkan logika bersama universal yg bisa menjamin kemajuan umat manusia. Loh kok jadi kemana-mana, mari kembali ke bounded rationality.
Jadi apa yang sebenarnya kenapa kita perlu memahami bounded rationality? Karena jika anda ingin berdiskusi, mengubah pendapat orang lain, atau tidak baper dalam berkomunikasi, maka perlu disadari bahwa anda dan lawan komunikasi anda bisa jadi memiliki rasionalitas berbeda, sehingga jika hal yang didiskusikan penting, maka anda perlu berstrategi untuk melakukan komunikasi.
Anda harus menyeimbangkan antara bertanya dan berpendapat untuk saling melihat struktur logika rasionalitas anda dan lawan bicara dalam proses dialog secara seimbang. Sering melakukan konfirmasi apakah apa yang anda pahami dari logika dia adalah sesuai dengan yg dimaksud (hindari dulu benar salah). Tawarkan rasionalitas anda kepada lawan bicara dan minta pendapatnya.
Apakah akan selalu sukses? tentu tidak, ini juga yang menjadi aspek dalam bounded rationality, karena keterbatasan yang timbul biasanya terjadi karena sejarah panjang kehidupan lawan bicara kita. Sederhananya yaa sudah diusahakan, berikutnya yaa tinggal didoakan untuk mau berubah.
EUREKA! EUREKA! adalah kata yang diteriakkan oleh ilmuwan yunani kuno Archimedes ketika akan mandi lalu muncul pemahaman ketika memperhatikan ketika memasukkan badannya kedalam bak mandi perubahan ketinggian air setara dengan massa badan yang dimasukkan kedalam air. Jika kaki, maka naik sekian, badan naik sekian, seluruh tubuh, naik hingga tumpah dsb. Ide ini telah menjadi sebuah Hukum Archimedes telah menjadi fondasi berbagai aplikasinya contohnya pembuatan kapal modern.
Momen Eureka! sering dicari-cari ketika seseorang mendapat ide dan pemahaman baru terhadap apa yang dipikirkannya. Didalam berpikir sistem, Eureka! adalah sebuah fenomena emergence, yang di bahasa Indonesia dialihbahasakan menjadi kemunculan/munculnya/timbulnya. (catatan: alih bahasa berbeda dengan penterjemahan)
Emergence Jika dikontekstualisasi dalam berpikir sistem dapat didefinisikan sebagai munculnya pemahaman yang menyeluruh terhadap kompleksitas akibat kesisteman suatu permasalahan yang berbeda dari pemahaman awal atau umum yang biasa didapatkan tanpa memandang permasalahan sistem. Panjang ya definisinya. Karena memang kita sering terjebak dalam pemahaman pertama dari sebuah permasalahan, padahal pemahaman pertama tersebut biasanya tidak utuh atau tidak menyentuh akar permasalahan yang harus diselesaikan.
Di kelas Magister Teknik Industri UI, saya mengilustrasikan hal ini dengan menyajikan video youtube tentang optical illusions, lalu berdiskusi pertama bagaimana mata kita sebenarnya melihat dengan bantuan otak kita ketika ingin memahami apa yang ingin kita lihat. Sehingga apa yang kita lihat pertama, tergantung dari apa yang otak kita biasa temui atau proses. Kita perlu menahan pengambilan kesimpulan pertama untuk mencari perspektif lain yang bisa timbul. Berbagai perspektif yang berbeda akan menhasilkan kesimpulan yang berbeda-beda yang biasanya memiliki unsur pembenaran yang bisa dipahami. Pemahaman perbedaan bisa menjadi modal awal untuk memulai proses penguraian masalah untuk mencari solusi sistem terbaik.
Iterasi adalah aktivitas/proses dalam berpikir sistem untuk mencari kemunculan (emergence).
Masih ingatkah kita ketika para pakar, politikus, para pemimpin Indonesia dan dunia, di tahun lalu, mencoba memprediksi kapan COVID-19 berakhir? Misalnya ada di berita ini, ini atau ini. Beberapa waktu ini kok tidak terdengar kembali para P3 ini melakukan prediksi kembali, padahal tahun lalu begitu yakinnya dikeluarkan dengan mengunakan model-model matematika yang rumit. Bahkan tahun lalu seperti sebuah kompetisi ketika para kampus-kampus besar di Indonesia seperti berlomba-lomba mengeluarkan prediksinya.
All Models are Wrong, but some are useful (George Box) adalah sebuah kredo bagi para modeler ketika menyusun, menganalisa, menginterpretasikan dan menjelaskan hasil simulasi modelnya, terutama jika harus dijelaskan ke publik yang awam. Modeler sebagai ilmuwan memiliki kewajiban untuk menjaga supaya hasil temuannya tidak disalahartikan baik oleh publik atau awak media yang menjadi corong ke publik. Sudah sering terjadi sebuah hasil penelitian secara tidak sengaja, namun lebih sering pula dengan sengaja dibelokartikan untuk kepentingan politik maupun ekonomi. Dalam ekonomi digital, strategi untuk menaikkan click-bait dengan memberikan judul-judul bombastis sudah menjadi kebiasaan dewasa ini.
Berbasis kredo diatas, jadi apa saja yang membuat semua prediksi ini gagal?