Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya.
Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan.
Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini. Anda menyimpulkan apakah meeting jam sembilan bisa digeser atau lebih baik tetap dijalankan. Paling sederhana, Anda mungkin juga memutuskan apakah sarapan dulu atau langsung berangkat dan memperkirakan konsekuensinya terhadap konsentrasi Anda nanti.
Namun demikian, tidak satu pun dari keputusan itu terasa seperti “menggunakan model.” Semua terasa seperti akal sehat biasa, intuisi dan pengalaman. Hal yang dilakukan secara otomatis tanpa perlu berpikir terlalu keras.
Tapi mari kita berhenti sebentar. Dan periksa lebih cermat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika membuat keputusan-keputusan yang terasa “otomatis” itu.
Asumsi di balik akal sehat
Ketika Anda memilih rute, Anda menggunakan model tentang kondisi lalu lintas: hari apa ini dalam sepekan (senin/jumat memiliki kebiasaan traffic berbeda), jam berapa kemacetan biasanya terjadi di titik mana, rute mana yang lebih terprediksi, apakah ada informasi tentang kejadian tidak biasa hari ini (misalnya ada pertandingan timnas). Anda tidak menyebutnya “model lalu lintas.” Tapi itulah yang sedang Anda gunakan: sebuah representasi mental tentang bagaimana sistem transportasi kota bekerja pada jam-jam tertentu.
Ketika Anda memutuskan membawa payung, Anda menggunakan model tentang hubungan antara kondisi langit: warna awan, kelembapan yang terasa, arah angin, dan kemungkinan hujan dalam beberapa jam ke depan, dan ada rapat penting yang sebaiknya tidak basah kuyup nanti. Model ini mungkin Anda bangun selama bertahun-tahun tanpa pernah menuliskannya. Tapi ia bekerja dengan cukup baik, dengan pengecualian sesekali yang membuat Anda basah kuyup di halte.
Ketika Anda mempertimbangkan menggeser meeting, Anda menggunakan model tentang prioritas organisasi, dinamika tim, toleransi atasan terhadap perubahan jadwal mendadak, dan konsekuensi dari menunda keputusan yang seharusnya diambil hari ini. Ini adalah model yang jauh lebih kompleks dari sekadar prakiraan cuaca, dan ia bekerja di bawah permukaan kesadaran Anda dengan kecepatan yang luar biasa.
Semua model. Semua implisit. Semua bekerja begitu cepat dan begitu otomatis sehingga kita tidak menyadarinya sebagai model.
Yang membedakan keputusan yang baik dari yang buruk bukan apakah kita menggunakan model atau tidak. Kita selalu menggunakan model; tidak ada pilihan lain, karena tanpa model kita tidak bisa berpikir sama sekali. Yang membedakannya adalah kualitas model yang kita gunakan dan seberapa sadar kita terhadap asumsi yang ada di dalamnya.
Tiga jenis keputusan, tiga model yang berbeda
Tidak semua keputusan membutuhkan model dengan tingkat eksplisitasi yang sama. Ada spektrum: dari yang paling implisit hingga yang paling perlu dieksplisitkan; dan memahami di mana sebuah keputusan berada dalam spektrum itu adalah keterampilan tersendiri yang sering diabaikan.
Keputusan rutin adalah keputusan yang modelnya sudah terotomatisasi lewat pengulangan. Rute ke kantor. Menu makan siang. Waktu membalas pesan. Model yang digunakan sudah teruji ratusan bahkan ribuan kali dan jarang perlu dipertanyakan; kecuali konteksnya berubah secara fundamental. Pindah kota, misalnya, membuat seluruh model rute Anda menjadi tidak berlaku. Di situlah keputusan yang tadinya rutin tiba-tiba membutuhkan perhatian penuh lagi.
Keputusan taktis adalah keputusan yang modelnya perlu sedikit dieksplisitkan secara sadar. Apakah mengajukan proposal ini sekarang atau menunggu timing yang lebih baik. Apakah merekrut orang dari dalam tim atau mencari dari luar. Apakah memprioritaskan kecepatan atau kualitas dalam proyek yang sedang berjalan. Di sini, meluangkan waktu untuk menuliskan asumsi di balik pertimbangan kita, bahkan sekadar dalam beberapa kalimat, sudah mulai memberikan nilai yang nyata.
Keputusan strategis adalah keputusan yang modelnya perlu benar-benar dieksplisitkan karena taruhannya besar, konsekuensinya panjang, dan kondisinya terlalu berbeda dari pengalaman masa lalu untuk bisa diandalkan begitu saja. Apakah berekspansi ke pasar baru. Apakah mengubah model bisnis secara fundamental. Apakah merancang kebijakan yang akan mempengaruhi ribuan atau jutaan orang. Di sini, model yang implisit bukan hanya tidak cukup; ia berbahaya. Karena kepercayaan diri yang lahir dari pengalaman bisa menyembunyikan asumsi yang tidak lagi valid dalam konteks yang baru.
Apa yang dimaksud membuat model lebih eksplisit
Membuat model lebih eksplisit tidak berarti harus membuat simulasi komputer atau persamaan matematika yang rumit. Dalam banyak konteks keputusan personal dan profesional, tiga langkah sederhana sudah cukup untuk mengubah kualitas keputusan secara signifikan.
Langkah pertama: tuliskan asumsinya. Apa yang kita percaya tentang bagaimana situasi ini bekerja? Apa yang kita asumsikan akan terjadi jika kita mengambil pilihan A dibanding pilihan B? Ini terdengar sederhana, dan memang sederhana, tapi jarang dilakukan. Asumsi yang tidak dituliskan tidak bisa diuji. Dan asumsi yang tidak diuji adalah sumber terbesar dari keputusan yang disesali belakangan, karena baru setelah hasilnya kelihatan kita sadar bahwa asumsi awalnya sudah tidak tepat sejak awal.
Langkah kedua: identifikasi apa yang tidak kita ketahui. Setiap model punya wilayah yang tidak ia gambarkan dan ketidakpastian yang harus diakui, bukan diabaikan dengan harapan bahwa ia tidak akan menjadi masalah. Keputusan yang baik bukan keputusan yang berhasil menghilangkan ketidakpastian, itu hampir tidak pernah mungkin. Keputusan yang baik adalah keputusan yang jujur tentang di mana ketidakpastian itu berada, seberapa besar pengaruhnya terhadap hasil, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi atau mengantisipasi dampaknya.
Langkah ketiga: bayangkan konsekuensi. Model yang hanya memikirkan konsekuensi langsung dari sebuah keputusan adalah model yang tidak lengkap. Setiap keputusan menghasilkan riak: dampak lanjutan yang mungkin tidak terlihat di langkah pertama, tapi sangat menentukan di langkah berikutnya, ketiga dan keempat. Kebijakan insentif yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas bisa secara tidak sengaja merusak kolaborasi. Program beasiswa yang dirancang untuk pemerataan akses bisa secara tidak sengaja menciptakan ketergantungan. Bertanya “dan kemudian apa?” sebanyak dua atau tiga kali setelah setiap asumsi adalah kebiasaan sederhana yang mencegah banyak kejutan yang tidak menyenangkan.
Dari keputusan personal ke keputusan profesional: skalanya berbeda, logikanya sama
Yang menarik, dan yang sering tidak disadari, adalah bahwa logika ini tidak berubah ketika kita bergerak dari keputusan personal ke keputusan profesional. Yang berubah hanya skalanya. Dan konsekuensi dari model yang buruk.
Ketika seorang manajer memutuskan untuk mengubah struktur tim, ia menggunakan model tentang bagaimana perubahan struktur mempengaruhi pola komunikasi, motivasi individu, dan produktivitas kolektif. Ketika seorang pemimpin bisnis memutuskan untuk masuk ke segmen pasar baru, ia menggunakan model tentang dinamika kompetisi, perilaku konsumen yang berbeda dari segmen sebelumnya, dan kapasitas internal yang mungkin belum siap.
Model-model ini sering tidak dituliskan. Tidak diperdebatkan secara terbuka. Tidak diuji sebelum keputusan diambil. Dan itulah mengapa banyak keputusan strategis yang tampak sangat masuk akal di atas kertas ternyata menghasilkan dampak yang sangat berbeda dari yang diharapkan di lapangan.
Bukan karena keputusannya tidak rasional. Bukan karena pembuatnya tidak cerdas atau tidak berpengalaman. Tapi karena model di baliknya tidak pernah dieksplisitkan secara cukup untuk bisa dipertanyakan; oleh diri sendiri, apalagi oleh orang lain.
Dan model yang tidak bisa dipertanyakan tidak bisa diperbaiki.
Satu kebiasaan yang mengubah segalanya
Anda tidak perlu menjadi seorang modeler profesional untuk mendapat manfaat dari cara berpikir ini. Yang dibutuhkan hanyalah satu kebiasaan yang, seperti semua kebiasaan yang baik, terdengar mudah tapi butuh latihan untuk benar-benar menjadi bagian dari cara kita berpikir.
Sebelum membuat keputusan yang penting, bukan yang rutin, tapi yang taktis dan strategis, tanyakan kepada diri sendiri tiga pertanyaan sederhana: Model apa yang sedang saya gunakan di sini? Asumsi apa yang belum saya pertanyakan? Dan apa yang akan terjadi jika asumsi terpenting itu ternyata salah?
Tidak perlu dijawab dengan sempurna. Tidak perlu menghasilkan dokumen analisis yang panjang. Cukup dipikirkan dan kalau keputusannya cukup penting, dituliskan dalam beberapa kalimat.
Tadi pagi Anda sudah menggunakan model tiga kali sebelum sampai di tempat kerja. Tidak ada yang salah dengan itu; memang begitulah cara otak bekerja, dan untuk keputusan rutin, model implisit yang terotomatisasi sudah sangat efisien.
Tapi untuk keputusan yang lebih besar, yang taruhannya lebih tinggi, yang konsekuensinya lebih panjang, yang konteksnya lebih berbeda dari pengalaman sebelumny,a, pertanyaannya bukan apakah Anda akan menggunakan model. Anda pasti akan menggunakannya.
Pertanyaannya adalah: apakah Anda akan menggunakannya secara sadar?
Di artikel berikutnya, kita akan melangkah lebih jauh: bukan sekadar menyadari model di balik keputusan kita, tapi menggunakannya secara aktif dan terstruktur sebagai alat untuk membuat keputusan yang lebih baik; khususnya ketika masalahnya kompleks, datanya tidak lengkap, dan taruhannya terlalu tinggi untuk diserahkan kepada intuisi semata.
Catatan editorial: Artikel ini adalah bagian ketiga dari seri tentang model dan pengambilan keputusan. Setelah memahami mental model dan kemampuan mengenali pola, artikel ini mengungkap ironi yang sering tidak kita sadari: kita selalu menggunakan model dalam setiap keputusan — dari memilih rute hingga memimpin organisasi. Yang membedakan keputusan yang baik dari yang buruk bukan apakah kita menggunakan model, tapi seberapa sadar kita terhadap model yang sedang kita gunakan. Artikel berikutnya akan masuk lebih dalam: ketika data sudah lengkap tapi keputusannya tetap salah — ada apa di antara keduanya?

