Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3

Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya.

Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan.

Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini. Anda menyimpulkan apakah meeting jam sembilan bisa digeser atau lebih baik tetap dijalankan. Paling sederhana, Anda mungkin juga memutuskan apakah sarapan dulu atau langsung berangkat dan memperkirakan konsekuensinya terhadap konsentrasi Anda nanti.

Namun demikian, tidak satu pun dari keputusan itu terasa seperti “menggunakan model.” Semua terasa seperti akal sehat biasa, intuisi dan pengalaman. Hal yang dilakukan secara otomatis tanpa perlu berpikir terlalu keras.

Tapi mari kita berhenti sebentar. Dan periksa lebih cermat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika membuat keputusan-keputusan yang terasa “otomatis” itu.

Asumsi di balik akal sehat

Ketika Anda memilih rute, Anda menggunakan model tentang kondisi lalu lintas: hari apa ini dalam sepekan (senin/jumat memiliki kebiasaan traffic berbeda), jam berapa kemacetan biasanya terjadi di titik mana, rute mana yang lebih terprediksi, apakah ada informasi tentang kejadian tidak biasa hari ini (misalnya ada pertandingan timnas). Anda tidak menyebutnya “model lalu lintas.” Tapi itulah yang sedang Anda gunakan: sebuah representasi mental tentang bagaimana sistem transportasi kota bekerja pada jam-jam tertentu.

Lanjutkan membaca “Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3”

Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1

Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah.

Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama.

Lalu diskusi dimulai.

Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak konsisten.* Orang kedua menyimpulkan: *masalahnya ada di strateginya sendiri. Eksekusi yang lebih baik tidak akan mengubah apapun kalau arahnya memang salah.*

Keduanya cerdas. Keduanya serius. Keduanya bisa menjelaskan alasannya dengan koheren dan meyakinkan. Lalu siapa yang benar? Dan mengapa dua orang yang melihat realita yang sama bisa tiba di tempat yang sangat berbeda?

Jawabannya bukan pada datanya. Jawabannya ada di sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang kita bawa masuk ke ruangan itu jauh sebelum rapatnya dimulai.

Lanjutkan membaca “Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1”