Bahaya Ketergantungan terhadap AI untuk salah satu aspek penting dalam belajar: Meringkas

Seorang mahasiswa meminta izin memakai AI untuk meringkas presentasinya sendiri, dan pertanyaan kecil itu membuka sesuatu yang lebih besar tentang apa yang sebenarnya kita pertaruhkan ketika belajar berpikir.

Di akhir semester lalu, seorang mahasiswa baru selesai mempresentasikan analisis soft systems methodology untuk studi kasusnya di kuliah Model Based Decision Making. Saya minta dia menutup sesi dengan meringkas sendiri apa yang baru dia paparkan, 1–2 menit saja, cukup untuk menunjukkan bahwa dia tahu bagian mana yang paling penting dari analisisnya sendiri. Dia mengangkat tangan dan bertanya, sungguh-sungguh, bukan bercanda: boleh tidak dia minta AI yang meringkaskannya?

Saya diam sebentar. Bukan karena marah. Karena saya tidak langsung tahu jawabannya, dan itu sendiri yang mengganggu saya lebih dari pertanyaannya.

Hand writing neural network study notes beside tablet displaying AI learning interface

Beberapa bulan sebelum kejadian ini, saya sempat membagikan sebuah artikel CNN di salah satu grup chat. Liputannya soal mahasiswa-mahasiswa di Yale yang mulai menyadari sesuatu yang aneh di kelas seminar mereka: argumen yang dilontarkan teman-temannya makin rapi, tapi diskusinya makin terasa hambar. Salah satu dari mereka bilang ke wartawannya,

“everyone now kind of sounds the same”

semua orang sekarang rasanya kedengaran sama saja. Bukan cuma perasaan dia sendiri. Ada riset yang dirujuk artikel itu, dipublikasikan awal tahun ini di jurnal Trends in Cognitive Sciences oleh tim dari University of Southern California, yang menemukan bahwa model bahasa secara sistematis meratakan cara manusia berbahasa, mengambil sudut pandang, dan bernalar.

Kalau itu benar, ada satu hal yang berubah secara diam-diam: kompetisi di antara mahasiswa justru terlihat adil. Seolah-olah tidak lagi berdasarkan kemampuan intelektual, karena AI sudah bisa menyamakan itu. Jawaban rapi, terbaca atau terdengar logis, dan bahkan menurut kita, lebih baik dari tulisan kita sendiri.

Lanjutkan membaca “Bahaya Ketergantungan terhadap AI untuk salah satu aspek penting dalam belajar: Meringkas”

Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?

Coba bayangkan skenario ini. Seorang mahasiswa S2, duduk di depan laptopnya jam 10 malam sebelum deadline tugas kuliah berpikir sistem untuk menyusun Causal Loop Diagram (CLD). Causal Loop Diagram (CLD) adalah sebuah alat visual untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem, terutama bagaimana variabel saling memengaruhi melalui feedback loops (lingkaran umpan balik). Diagram ini sering digunakan dalam system thinking untuk mengidentifikasi pola, lingkaran setan (vicious cycles), atau lingkaran baik (virtuous cycles) dalam dinamika organisasi, bisnis, maupun fenomena sosial.

Alih-alih membuka buku teks atau mengulang materi kuliah, ia membuka ChatGPT, mengetik deskripsi masalah yang diberikan dosennya, dan dalam dua menit mendapatkan causal loop diagram lengkap dengan penjelasan feedback loop positif dan negatifnya.

Hasilnya? Cukup masuk akal. Tidak jenius, tapi cukup. Mungkin 75 persen dari apa yang akan dihasilkan mahasiswa yang belajar serius selama satu semester.

Pertanyaannya kemudian menjadi tidak nyaman: jadi apa gunanya kita mengajarkan systems thinking ketika analisa complex yang biasa dilakukan bisa digantikan oleh AI?

Lanjutkan membaca “Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?”

Kuliah-kuliah Pada Tahun Pertama di Teknik Industri UI

Perhatian: Penjelasan ini adalah untuk membantu anda memahami bagaimana kuliah-kuliah yang dirancang di teknik industri berketerkaitan sedemikian rupa untuk membangun kompetensi sebagai seorang Sarjana Teknik Industri. Secara khusus, bagian ini merefleksikan kurikulum yang berjalan di Teknik Industri Universitas Indonesia, yang sangat mungkin berbeda dengan kurikulum yang akan anda jalani di Perguruan Tinggi Anda. Perlu juga anda ketahui bahwa perancangan kurikulum Teknik Industri UI bergantung kepada penterjemahan tentang dan Persepsi Bidang Kerja sesuai dengan studi alumni yang dilakukan TIUI.

Bagi mahasiswa bimbingan akademis saya, pasti sudah mendapatkan email penjelasan berikut ini, jadi anggap saja sebuah pengulangan yaa, biar nggak lupa.

Semester 1&2 masih merupakan tahun dasar keteknikan (Kalkulus, Aljabar Linear, Dasar Komputer, Fisika Mekanika dan Panas) dan Universitas (seperti MPK, Bahasa Inggris, Seni Olahraga, Agama dll) yang kebanyakan dikelola oleh Fakultas, dasar dasar teknik industri sudah mulai diajarkan(Pengantar Teknik Industri, Statistik dan Probabilitas, Menggambar Teknik, Pengantar Ilmu Ekonomi & Bisnis, Pengetahuan Bahan).

Lanjutkan membaca “Kuliah-kuliah Pada Tahun Pertama di Teknik Industri UI”

Apa itu Kompetensi?

Tulisan ini merupakan serangkaian tulisan, dalam rangka mendefinisikan Standard Kompetensi Lulusan Teknik Industri, yang diamanatkan oleh UU Sistem Pendidikan Nasional.

Dulu ada senior saya yang menterjemahkan kompetensi menjadi ke”bisa”an. Penterjemahan ini menarik, karena “bisa” melakukan suatu tugas memang merupakan salah satu bukti bahwa anda memiliki kompetensi dalam melakukan tugas tersebut. Tetapi “bisa” merupakan sebenarnya merupakan penilaian dari kompetensi, bukan kompetensi itu sendiri.

Untuk bisa melakukan sesuatu di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) – PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.

Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap. Lanjutkan membaca “Apa itu Kompetensi?”