Berpikir Sistem
Berpikir sistem (systems thinking) dapat didefinisikan sebagai
Sebuah pola berpikir yang bertujuan untuk mengurai kompleksitas suatu permasalahan agar dapat dipahami secara lebih utuh dan gampang dimengerti melalui serangkaian pertanyaan untuk mengurai proses dan struktur.
Berbeda dengan analisis tradisional yang hanya memecah masalah menjadi komponen-komponen kecil, berpikir sistem menekankan pada pemahaman terhadap dinamika konektivitas dan konteks yang menyelimuti permasalahan tersebut.
Secara praktis, berpikir sistem diterjemahkan sebagai upaya mendapatkan jawaban dari serangkaian pola pertanyaan yang mengurai ciri-ciri sistem melalui kerangka PK3 dimana P adalah Proses, sedangkan K3 merupakan cara melihat Struktur, yaitu:
- Proses (Process): Memahami aktivitas transformasi dan mekanisme umpan balik (feedback) yang menghasilkan keluaran tertentu.
- Komponen (Component): Mengidentifikasi bagian-bagian atau sub-sistem yang saling terkait.
- Koneksi (Connection): Menelusuri interaksi dan hubungan antar komponen yang bisa berubah secara dinamis.
- Konteks (Context): Memperhatikan batasan sistem dan bagaimana perubahan lingkungan atau perspektif mempengaruhi perilaku sistem tersebut.
Dengan mengubah pola berpikir menjadi berpikir sistem, pengambil keputusan dapat melihat permasalahan secara holistik (utuh) sekaligus detail, sehingga mampu membedakan antara keruwetan struktural dan kerumitan fungsional demi menghasilkan keputusan atau kebijakan yang lebih baik.
Sehingga saya membuat beberapa tulisan untuk menjelaskan ciri-ciri seseorang telah berpikir sistemik. Tulisan itu akan dirangkum dalam daftar dibawah ini,
- Berpikir Sistem
- Optimal Bukan Maksimal
- Selalu mencari konteks pada Permasalahan yang dihadapi
- Fokus mencari Struktur dengan Helicopter Views
- Ada batas. Cari dan pahami batas
- Belajar dari Sebuah Masalah secara Analisa Sistemik
- Sadari bahwa asumsi adalah asumsi, bukan fakta
- Mencari Titik Ungkit
- Cari, Perjelas, dan Sejajarkan Tujuan Sistem
- Apakah berbeda berarti bertentangan?
- Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara
- Aplikasi Berpikir Sistem: Tentang Hoax dan Media: Artikel 1, Artikel 2, Artikel 3
Berpikir Sistem dan Membumikan Konsep
Istilah membumikan konsep tiba-tiba terlintas didalam pikiran ketika akan menulis blog ini. Salah satu motivasi penulisan ini adalah begitu banyaknya konsep-konsep yang baik di dunia ini, tetapi begitu kita dicoba diimplementasikan di negara kita atau “rencananya” akan diimplementasikan, timbul pertanyaan: gimana caranya?, mulai dari mana? atau bahkan: bisa nggak konsep ini dijalankan?
Mengingat tatanan konsep biasanya berada di”atas” sana atau awang-awang, maka perlu untuk diturunkan ke tingkat lebih terjangkau yang berarti dibumikan. Teman saya memberikan pula sebuah kata alternatif yaitu “meng-operasionalkan” konsep. Akan tetapi, kata operasionalisasi itu sebenarnya telah melewati beberapa tahapan penting, yang salah satunya adalah “menterjemahkan” konsep kedalam sebuah rencana langkah-langkah (process design). Jadi operasional bisa dilakukan setelah “dibumikan”: diterjemahkan dalam konteksnya
Berikut adalah beberapa blog tentang membumikan konsep
- Membumikan Analisa
- 3C Dalam Manajemen Perubahan
- Memudahkan vs Menganggap Mudah
- Membumikan Buku Manajemen
- Membumikan Konsep Transparansi di Pemerintahan
- Konsep, Model, Metode dan Alat dalam Manajemen Kualitas
- Apa itu softskills?
- Apa itu Kompetensi?
- Apa itu System Engineering (Rekayasa Sistem)
Silahkan mengeksplorasi …
Data dan Riset Sudah Ada, Lalu Mengapa Kebijakan Kita Masih Jalan di Tempat? – Part 6
Evidence-based policy adalah kemajuan besar. Tapi ia punya batas yang jarang diakui, dan batas itulah yang sering menentukan apakah kebijakan benar-benar bekerja. Indonesia tidak kekurangan data tentang energi. Laporan demi laporan sudah dihasilkan: oleh peneliti universitas, lembaga pemerintah, konsultan internasional, dan organisasi multilateral. Target sudah ditetapkan. Komitmen internasional sudah ditandatangani. Para ahli sudah memberikan rekomendasi…
All Models are Wrong, but some are useful… and some are dangerous – Part 5
Menggunakan model disarankan, namun hati-hati karena ada model yang menyesatkan, model yang memperbudak, dan model yang digunakan untuk membenarkan, bukan untuk memahami. Pada tahun 2020, model-model epidemiologi dari universitas terkemuka di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memprediksi puncak dan akhir COVID-19 dengan angka yang sangat spesifik. Model-model itu dibangun oleh orang-orang cerdas dengan data terbaik yang…
Data Sudah Lengkap, Tapi Keputusannya Tetap Salah — Ada yang Hilang di Antara Keduanya – Part 4
Model-based decision making bukan tentang lebih banyak data. Tapi tentang pertanyaan yang lebih baik. Ada situasi yang terasa sangat membingungkan — dan sangat menggelisahkan. Semua data sudah ada. Semua angka sudah dianalisis. Laporan sudah dibaca sampai halaman terakhir. Rapat sudah dijalankan, diskusi sudah panjang, dan keputusan akhirnya diambil dengan penuh keyakinan. Lalu hasilnya tidak seperti…
Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3
Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya. Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan. Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini.…
Kemacetan, Antrean, dan Banjir: Mengapa Masalah yang Berbeda Sering Punya Wajah yang Sama? – Part 2
Tentang model, pola, dan cara pandang yang mengubah bagaimana kita melihat masalah Ada momen tertentu yang terasa seperti déjà vu intelektual. Anda sedang membaca berita tentang kemacetan Jakarta yang tidak kunjung selesai meski jalan terus dibangun. Lalu tiba-tiba teringat antrean panjang di instalasi gawat darurat rumah sakit yang selalu penuh meski bed terus ditambah. Lalu…
Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1
Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah. Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama. Lalu diskusi dimulai. Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak…
Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?
Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah. Kita sudah pernah di sini sebelumnya. Nama saat ini adalah Reformasi Birokrasi Nama programnya berganti. Slogannya diperbarui. Strukturnya direorganisasi. Pelatihannya diselenggarakan dengan penuh semangat. Bahkan seragamnya pun kadang ikut diganti. Dan tiga tahun kemudian atau lima tahun, atau sepuluh dan ceritanya terasa…
Mengapa Kita Selalu Memadamkan Api dengan Ember Kecil?
Tentang kebijakan energi, sistem yang terjebak, dan otak kita yang semakin tidak sabar. Suatu pagi, mungkin sambil sarapan atau di perjalanan ke kantor, Anda membaca sebuah berita di feed media sosial yang anda ikuti di gadget anda. Pemerintah berencana mendorong elektrifikasi sepeda motor besar-besaran, wacana masuk kerja empat hari seminggu untuk mengurangi konsumsi BBM dan…
Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?
Coba bayangkan skenario ini. Seorang mahasiswa S2, duduk di depan laptopnya jam 10 malam sebelum deadline tugas kuliah berpikir sistem untuk menyusun Causal Loop Diagram (CLD). Causal Loop Diagram (CLD) adalah sebuah alat visual untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem, terutama bagaimana variabel saling memengaruhi melalui feedback loops (lingkaran umpan balik). Diagram ini sering…


selamat siang bapak hidayanto
saya mau bertanya
Apa karakter dan keunggulan dari system thinking?
Anda akan memandang masalah dengan lebih baik sehingga memahami masalah dan solusinya lebih baik sehingga biaa mengambil keputusan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah.
Selamat malam, saya mau bertanya, Berpikir system membantu kita secara efektif mengubah system. Apa maksud pernyataan tersebut. Dan apa contoh konkritnya?
Mohon bantuannya
Efektif didefinisikan mendapatkan hasil yg diinginkan dan biasanya didefinisikan sejak awal. Berpikir sistem memandu kita untuk melihat dan memahami masalah sehingga output ideal yaitu hasil yg diinginkan dapat didefinisikan. Lalu kita membantu kita mendapatkan proses perubahan supaya kondisi ideal tadi tercapai, yg berarti efektif.
Gejala konkrit adalah ketika masalah yg dihadapi berulang timbul atau ketika pemecahan masalah tidak menyelesaikan masalah.. berarti tidak efektif.
Berarti contoh konkrit semua masalah yg berulang.
pak Hidayanto, mohon penjelasanya apa sih kekurangan dan kelebihan dari berpikir sistem?. makasih pak
Secara singkat kekurangan berpikir sistem adalah waktu dan sumber daya untuk melakukannya pada saat awal, namun ini akan menjadi lebih mudah ketika sudah semakin terlatih. Kelebihannya yaa memahami permasalahan secara utuh akan menghasilkan solusi yang lebih baik
Karakter apa saja yang harus dimiliki dalam mengasah berpikir sistem?
Pertanyaan bagus.. saya tidak berpikir ke karakter, tapi rasa keingintahuan, semangat untuk terus belajar dan memperbaiki diri biasanya penting ketika kita sedang berlatih untuk mengubah kebiasaan
Siang pak. Saya abduh. Mahasiswa T industri smt 2, menyimak dari pembicaraan kakak tingkat saya mereka pernah mengatakan bahwa sistem sebagai black box dan hirarki. Ini penjelasanya gimana ya pak. ?
Sistem sebagai black box adalah ketika kita tidak bisa memvisualisasikan struktur hubungan antara variabel didalam sistem tersebut. Salah satu bentuk klasik struktur hubungan dari variabel adalah sebagai hierarki, yaitu struktur mirip piramida yang sering digunakan untuk menggambarkan struktur organisasi dari pimpinan ke bawahnya.
Hari ini resmi jadi mahasiswanya Dr. Hidayatno di Salemba nih,.mantap 👍
Selamat siang Pak Hidayatno,
Saya mau bertanya apakah penting autoCad dalam teknik industri? dan jika iya apakah saya harus fokus disitu?.
Terima kasih.
Tergantung dari masing-masing teknik industrinya. Untuk di UI kemampuan menggambar teknik digital penting karena merupakan dasar dalam perancangan lainnya (untuk merk tidak harus dengan AutoCAD, bisa dengan NX atau CATIA). Tentang fokus, saya agak bingung karena fokus biasanya tidak ke arah skills dasar, namun ke arah skills yang lebih komplek seperti desain produk, desain jasa dll
Pak Hidayatno ,mohon penjelasan Bapak apa sebenarnya kegunaan belajar system thingking ini.tks ya Pak
Sederhananya: pemecaham masalah yang lebih baik, dan jika kamu bisa memecahkan masalah dengan baik dibandingkan orang lain, maka itu akan berguna buat karir kamu.
Kenapa kok bisa memecahkan masalah lebih baik, karena langkag terpenting dalam problem solving adalah problem understanding.
selamat mlm pak hidayanto sya mau nya,, sya mhsiswa yg sdh bekerja diperusahaan franchise bahan baku plastik dan kertas… sekarang saya semester 7 dan sya sdh prkatek kerja di perusahaan sya sendiri .. kira klau kita kerja prktek di perusahaan jasa franchise bahan baku plastik dan kertas itu mengunkan judul kp yang tepat apa pak.. trims
Saya tidak familiar dengan deskripsi perusahaan yang kamu berikan. Ini ada produksi atau hanya franchise saja?
fenomena yg terbaca oleh saya adalah kebanyakan orang dalam beljar system dinamic kurang memhami system thinking padahal “thinking system” bagian dari “system thinking”
Setuju dengan pendapat anda. Banyak sekali pemikiran tentang bagaimana berpikir sistem dan sistem dinamis “berhubungan”. Salah satunya yang populer adalah dari forrester sendiri yang berpendapat berpikir sistem dapat membantu proses sistem dinamis (dalam proses konseptualisasi). Ada yang mengatakan bahwa system thinking yang istilahnya dipopulerkan oleh Peter Senge dalam 5th Discipline, adalah versi strip down dari SD jika mengacu kepada penggunaan archetypes (yg sebenarnya adalah mekanisme feedback).
Namun arti dan definisi berpikir sistem serta sistem dinamis sendiri terkadang dimaknai berbeda. Apakah memang jika mampu membuat model stock and flow maka otomatis mampu berpikir sistem?
Sehingga dalam pendidikan formal SD sangat ditekankan pola berpikirnya terlebih dahulu, baru pemodelannya.
Pak Hidayatno,
Salam kenal, saya Soniel R Tulak, panggilan Sony.
Saat ini sedang belajar tentang berpikir sistem.
Menurut pendapat Bapak, apakah permasalahan penggunaan software license merupakan suatu permasalahan yang sistemik, karena tetap saja muncul pembajakan di negara kita. Meskipun saat ini sebenarnya ada software yang open source seperti Linux untuk OS dan OpenOffice untuk aplikasi office, namun pada kenyataannya susah sekali merubah mindset orang untuk beralih dari proprietary software (closed source) yang memang sejak dari dulu mendominasi. Tetapi kenapa di negara lain sepeti Cina, Malaysia, suskes dalam menerapkan peggunaan opensource sehingga setidaknya dapat menekan pembajakan software khususnya di bidang IT.
Mohon pendapatnya.
Terima kasih
Salah satu syarat permasalahan bisa diselesaikan secara sistemik adalah kompleksitas. Kompleksitas ada 2 yaitu kompleksitas detail dan dinamis. Kompleksitas dinamis adalah kompleksitas akibat banyaknya kemungkinan output dari permasalahan. Kemungkinan ini terjadi akibat adalah ke-multidimensi-an dari permasalahan. Dalam kasus yang anda ajukan, memang terdapat kondisi multi-aktor, multi-disiplin. Jadi kita bisa sependapat untuk mengatakan bahwa ada kompleksitas dalam permasalahan yang memang sesuai jika dipahami dengan pendekatan sistemik.
Dalam kasus pembajakan ini, argumen yang anda bangun memang terlihat memiliki tingkatan helicopter views yang berbeda, anda berbicara soal mindset (tingkat individu), kemudian anda berbicara tingkat negara. Keduanya memiliki tingkatan agregasi yang berbeda, sehingga akan membuat kompleksitas permasalahan ini akan sangat luas.
Saya pribadi selalu berhati-hati untuk membandingkan Indonesia dengan negara lain. Negara kita unik pak, semakin saya mendalami konsep systems thinking, semakin saya sadar bahwa solusi di negara lain berhasil untuk diadopsi ke Indonesia harus selalu pasti harus kita “tweaking” untuk bisa berhasil.
Cina menggunakan alasan strategis dan keamanan untuk beralih ke opensource, (mereka takut dengan aplikasi barat yang mungkin memiliki “bug” mengirimkan informasi sensitif) dengan sentral planning yang kuat. Malaysia jumlah penduduknya tidak banyak dan bukanlah negara demokrasi murni. Kita sedang bereksperimen dengan demokrasi, GDPnya masih nanggung, penduduknya banyak, negara kepulauan luas sekali, jadi kompleksitas kita pasti lebih tinggi daripada 2 negara yang anda sebutkan tadi.
[…] Berpikir Sistem […]