Data Sudah Lengkap, Tapi Keputusannya Tetap Salah — Ada yang Hilang di Antara Keduanya – Part 4

Model-based decision making bukan tentang lebih banyak data. Tapi tentang pertanyaan yang lebih baik.

Ada situasi yang terasa sangat membingungkan — dan sangat menggelisahkan.

Semua data sudah ada. Semua angka sudah dianalisis. Laporan sudah dibaca sampai halaman terakhir. Rapat sudah dijalankan, diskusi sudah panjang, dan keputusan akhirnya diambil dengan penuh keyakinan.

Lalu hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Bukan karena datanya keliru. Bukan karena analisisnya ceroboh. Bukan karena orangnya tidak kompeten. Tapi ada sesuatu yang hilang di antara data dan keputusan — sesuatu yang tidak tampak di spreadsheet manapun, tidak terlihat di dashboard apapun, dan tidak bisa ditemukan dengan menambah lebih banyak data lagi.

Apa yang hilang itu?

Mengapa data saja tidak cukup

Data menggambarkan apa yang terjadi. Ia merekam, mengukur, dan merangkum kondisi yang sudah ada. Tapi ia tidak otomatis menjelaskan mengapa hal itu terjadi; apalagi apa yang akan terjadi jika kita mengubah sesuatu.

Ada jarak antara deskripsi dan pemahaman. Dan jarak itu tidak bisa diisi hanya dengan menambah lebih banyak data.

Gambar jaringan sirkuit digital dengan lingkaran berwarna cerah di latar belakang yang menunjukkan data dan konektivitas yang terputus
Lanjutkan membaca “Data Sudah Lengkap, Tapi Keputusannya Tetap Salah — Ada yang Hilang di Antara Keduanya – Part 4”

Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3

Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya.

Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan.

Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini. Anda menyimpulkan apakah meeting jam sembilan bisa digeser atau lebih baik tetap dijalankan. Paling sederhana, Anda mungkin juga memutuskan apakah sarapan dulu atau langsung berangkat dan memperkirakan konsekuensinya terhadap konsentrasi Anda nanti.

Namun demikian, tidak satu pun dari keputusan itu terasa seperti “menggunakan model.” Semua terasa seperti akal sehat biasa, intuisi dan pengalaman. Hal yang dilakukan secara otomatis tanpa perlu berpikir terlalu keras.

Tapi mari kita berhenti sebentar. Dan periksa lebih cermat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika membuat keputusan-keputusan yang terasa “otomatis” itu.

Asumsi di balik akal sehat

Ketika Anda memilih rute, Anda menggunakan model tentang kondisi lalu lintas: hari apa ini dalam sepekan (senin/jumat memiliki kebiasaan traffic berbeda), jam berapa kemacetan biasanya terjadi di titik mana, rute mana yang lebih terprediksi, apakah ada informasi tentang kejadian tidak biasa hari ini (misalnya ada pertandingan timnas). Anda tidak menyebutnya “model lalu lintas.” Tapi itulah yang sedang Anda gunakan: sebuah representasi mental tentang bagaimana sistem transportasi kota bekerja pada jam-jam tertentu.

Lanjutkan membaca “Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3”

Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1

Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah.

Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama.

Lalu diskusi dimulai.

Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak konsisten.* Orang kedua menyimpulkan: *masalahnya ada di strateginya sendiri. Eksekusi yang lebih baik tidak akan mengubah apapun kalau arahnya memang salah.*

Keduanya cerdas. Keduanya serius. Keduanya bisa menjelaskan alasannya dengan koheren dan meyakinkan. Lalu siapa yang benar? Dan mengapa dua orang yang melihat realita yang sama bisa tiba di tempat yang sangat berbeda?

Jawabannya bukan pada datanya. Jawabannya ada di sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang kita bawa masuk ke ruangan itu jauh sebelum rapatnya dimulai.

Lanjutkan membaca “Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1”

Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?

Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah.


Kita sudah pernah di sini sebelumnya. Nama saat ini adalah Reformasi Birokrasi

Nama programnya berganti. Slogannya diperbarui. Strukturnya direorganisasi. Pelatihannya diselenggarakan dengan penuh semangat. Bahkan seragamnya pun kadang ikut diganti. Dan tiga tahun kemudian atau lima tahun, atau sepuluh dan ceritanya terasa sama. Antrian masih panjang. Dokumen masih sering hilang. Koordinasi antar lembaga masih terasa seperti negosiasi antar negara.

Sebuah alat pel basah di lantai yang mengkilap dengan keran yang menetes air di latar belakang.

Bukan karena orangnya malas. Bukan karena pemimpinnya tidak serius. Tapi mungkin, dan ini yang jarang diucapkan dengan jujur, karena kita selalu mendorong di tempat yang tidak bisa bergerak.

Ada yang namanya titik ungkit

Donella Meadows, seorang pemikir sistem dari MIT yang karyanya terus relevan hingga hari ini, pernah menulis sesuatu yang sederhana tapi menggelisahkan: dalam setiap sistem yang kompleks, ada titik-titik tertentu di mana intervensi kecil bisa menghasilkan perubahan yang besar. Dan sebaliknya, ada tempat-tempat di mana usaha yang sangat besar telah dilakukan hampir tidak mengubah apapun.

Ia menyebutnya leverage points. Titik ungkit.

Yang mengejutkan adalah ini: titik ungkit yang paling kuat justru bukan yang paling mudah dilihat. Biasanya yang paling mudah dilihat dan paling sering dikerjakan, justru yang pengaruhnya paling lemah terhadap sistem secara keseluruhan.

Lanjutkan membaca “Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?”

Mengapa Kita Selalu Memadamkan Api dengan Ember Kecil?

Tentang kebijakan energi, sistem yang terjebak, dan otak kita yang semakin tidak sabar.


Suatu pagi, mungkin sambil sarapan atau di perjalanan ke kantor, Anda membaca sebuah berita di feed media sosial yang anda ikuti di gadget anda. Pemerintah berencana mendorong elektrifikasi sepeda motor besar-besaran, wacana masuk kerja empat hari seminggu untuk mengurangi konsumsi BBM dan sekolah tatap muka dikurangi harinya. Semua dibingkai sebagai langkah berani menuju efisiensi energi karena ada tekanan geopolitik di dunia saat ini akibat perang.

Anda mungkin mengangguk atau menggeleng, dan kemudian lalu pindah scroll ke konten berikutnya.

Tapi sebelum kita lanjut scroll, ada baiknya kita berhenti sebentar. Bukan untuk menghakimi kebijakannya. Tapi untuk bertanya sesuatu yang lebih mendasar: ini solusi, atau kita sedang memadamkan api dengan ember kecil … lagi?

Solusi yang terlihat seperti solusi

Mari kita periksa logikanya. Masalah yang ingin diselesaikan adalah konsumsi BBM yang tinggi dan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang akan memakan anggaran negara untuk disubsidi. Solusi yang dipilih: kurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak dengan menggantinya ke listrik, dan kurangi mobilitas masyarakat dengan memangkas hari kerja dan hari sekolah.

Lanjutkan membaca “Mengapa Kita Selalu Memadamkan Api dengan Ember Kecil?”

Memori Institusi

Ketika kita berbicara tentang memori, biasanya yang pertama terlintas di benak adalah memori manusia—kemampuan kita untuk menyimpan, mengingat, dan menggunakan kembali informasi dari pengalaman masa lalu. Namun, konsep serupa juga berlaku dalam organisasi dan pemerintahan dalam bentuk memori institusi (institutional memory).


Apa Itu Memori Institusi?

Memori institusi adalah kumpulan pengetahuan, pengalaman, kebijakan, prosedur, dan praktik yang telah dikembangkan oleh suatu organisasi atau institusi dalam jangka waktu tertentu. Ini mencakup bagaimana keputusan diambil, bagaimana masalah dipecahkan, serta bagaimana budaya dan nilai-nilai berkembang dalam suatu organisasi.

Memori institusi dapat berupa:

  • Dokumentasi tertulis, seperti arsip kebijakan, laporan, dan peraturan.
  • Sistem dan prosedur, seperti SOP (Standard Operating Procedures) dan mekanisme koordinasi.
  • Pengalaman individu, yang diwariskan secara informal melalui mentoring atau pembelajaran di tempat kerja.
  • Norma dan budaya organisasi, yang membentuk kebiasaan dan bagaimana institusi beroperasi dan berinteraksi dengan pihak lain.

Apakah Memori Institusi Mirip dengan Memori Manusia?

Dalam banyak hal, ya. Seperti halnya manusia yang mengandalkan memori untuk bertindak berdasarkan pengalaman masa lalu, institusi juga bergantung pada memori institusi untuk mempertahankan keberlanjutan dan efektivitasnya.

Lanjutkan membaca “Memori Institusi”

Pentingnya Ukuran

Tahu kata “kepentingan”? Kita tahu itu berarti berasal dari penting, yang bisa diartikan ukuran nilai atau bobot yang kita persepsikan terhadap sesuatu. Dalam sebuah diskusi, biasanya akan saling terjadi diskusi kepentingan, apa yang kita anggap penting – kita ingin juga dianggap penting oleh lawan diskusi kita, demikian pula sebaliknya. Artinya ketika kita berdiskusi, sebenarnya kita bernegosiasi tentang tingkatan skala penting milik kita supaya diadopsi oleh rekan diskusi.

Saya ingin mundur sedikit lebih kebelakang. Penting menandakan adanya ukuran. Ukuran merupakan tolok ukur kita melakukan evaluasi dan penilaian. Kepentingan berarti tergantung dengan ukuran. Perdebatan diskusi sering terjadi karena perbedaan ukuran yang mengakibatkan perbedaan kepentingan.

Dalam wacana politik, hal ini lebih seru lagi. Ukuran menjadi lebih membingungkan karena seolah-olah tidak ada ukuran universal yang disepakati bersama. Seorang pemimpin pemerintahan diserang karena dari sisi ukuran penyerapan anggarannya yang sangat parah. Artinya uang pemerintah yang mengalir ke masyarakat akan berkurang, sehingga ekonomi tentu tidak maksimal. Dahulu ini dosa besar yang memalukan bagi seorang pemimpin pemerintah. Namun saat ini ada ukuran baru seolah-olah timbul, yaitu persepsi korupsi. Daripada diserap penuh, tapi dikorupsi, lebih baik tidak terserap. Apakah yakin yang sudah diserap juga bebas korupsi? Tapi kembali ke topik artikel ini, adalah soal beda ukuran.

Mari kita telaah beda ukuran ke dalam 3 hal:

1. Yang diukur beda (.. termasuk persepsi terhadap definisi ukuran)
2. Ranking ukuran yang beda
3. Skala ukuran beda Lanjutkan membaca “Pentingnya Ukuran”