Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1

Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah.

Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama.

Lalu diskusi dimulai.

Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak konsisten.* Orang kedua menyimpulkan: *masalahnya ada di strateginya sendiri. Eksekusi yang lebih baik tidak akan mengubah apapun kalau arahnya memang salah.*

Keduanya cerdas. Keduanya serius. Keduanya bisa menjelaskan alasannya dengan koheren dan meyakinkan. Lalu siapa yang benar? Dan mengapa dua orang yang melihat realita yang sama bisa tiba di tempat yang sangat berbeda?

Jawabannya bukan pada datanya. Jawabannya ada di sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang kita bawa masuk ke ruangan itu jauh sebelum rapatnya dimulai.

Lanjutkan membaca “Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1”

Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?

Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah.


Kita sudah pernah di sini sebelumnya. Nama saat ini adalah Reformasi Birokrasi

Nama programnya berganti. Slogannya diperbarui. Strukturnya direorganisasi. Pelatihannya diselenggarakan dengan penuh semangat. Bahkan seragamnya pun kadang ikut diganti. Dan tiga tahun kemudian atau lima tahun, atau sepuluh dan ceritanya terasa sama. Antrian masih panjang. Dokumen masih sering hilang. Koordinasi antar lembaga masih terasa seperti negosiasi antar negara.

Sebuah alat pel basah di lantai yang mengkilap dengan keran yang menetes air di latar belakang.

Bukan karena orangnya malas. Bukan karena pemimpinnya tidak serius. Tapi mungkin, dan ini yang jarang diucapkan dengan jujur, karena kita selalu mendorong di tempat yang tidak bisa bergerak.

Ada yang namanya titik ungkit

Donella Meadows, seorang pemikir sistem dari MIT yang karyanya terus relevan hingga hari ini, pernah menulis sesuatu yang sederhana tapi menggelisahkan: dalam setiap sistem yang kompleks, ada titik-titik tertentu di mana intervensi kecil bisa menghasilkan perubahan yang besar. Dan sebaliknya, ada tempat-tempat di mana usaha yang sangat besar telah dilakukan hampir tidak mengubah apapun.

Ia menyebutnya leverage points. Titik ungkit.

Yang mengejutkan adalah ini: titik ungkit yang paling kuat justru bukan yang paling mudah dilihat. Biasanya yang paling mudah dilihat dan paling sering dikerjakan, justru yang pengaruhnya paling lemah terhadap sistem secara keseluruhan.

Lanjutkan membaca “Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?”

Mengapa Kita Selalu Memadamkan Api dengan Ember Kecil?

Tentang kebijakan energi, sistem yang terjebak, dan otak kita yang semakin tidak sabar.


Suatu pagi, mungkin sambil sarapan atau di perjalanan ke kantor, Anda membaca sebuah berita di feed media sosial yang anda ikuti di gadget anda. Pemerintah berencana mendorong elektrifikasi sepeda motor besar-besaran, wacana masuk kerja empat hari seminggu untuk mengurangi konsumsi BBM dan sekolah tatap muka dikurangi harinya. Semua dibingkai sebagai langkah berani menuju efisiensi energi karena ada tekanan geopolitik di dunia saat ini akibat perang.

Anda mungkin mengangguk atau menggeleng, dan kemudian lalu pindah scroll ke konten berikutnya.

Tapi sebelum kita lanjut scroll, ada baiknya kita berhenti sebentar. Bukan untuk menghakimi kebijakannya. Tapi untuk bertanya sesuatu yang lebih mendasar: ini solusi, atau kita sedang memadamkan api dengan ember kecil … lagi?

Solusi yang terlihat seperti solusi

Mari kita periksa logikanya. Masalah yang ingin diselesaikan adalah konsumsi BBM yang tinggi dan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang akan memakan anggaran negara untuk disubsidi. Solusi yang dipilih: kurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak dengan menggantinya ke listrik, dan kurangi mobilitas masyarakat dengan memangkas hari kerja dan hari sekolah.

Lanjutkan membaca “Mengapa Kita Selalu Memadamkan Api dengan Ember Kecil?”

Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?

Coba bayangkan skenario ini. Seorang mahasiswa S2, duduk di depan laptopnya jam 10 malam sebelum deadline tugas kuliah berpikir sistem untuk menyusun Causal Loop Diagram (CLD). Causal Loop Diagram (CLD) adalah sebuah alat visual untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem, terutama bagaimana variabel saling memengaruhi melalui feedback loops (lingkaran umpan balik). Diagram ini sering digunakan dalam system thinking untuk mengidentifikasi pola, lingkaran setan (vicious cycles), atau lingkaran baik (virtuous cycles) dalam dinamika organisasi, bisnis, maupun fenomena sosial.

Alih-alih membuka buku teks atau mengulang materi kuliah, ia membuka ChatGPT, mengetik deskripsi masalah yang diberikan dosennya, dan dalam dua menit mendapatkan causal loop diagram lengkap dengan penjelasan feedback loop positif dan negatifnya.

Hasilnya? Cukup masuk akal. Tidak jenius, tapi cukup. Mungkin 75 persen dari apa yang akan dihasilkan mahasiswa yang belajar serius selama satu semester.

Pertanyaannya kemudian menjadi tidak nyaman: jadi apa gunanya kita mengajarkan systems thinking ketika analisa complex yang biasa dilakukan bisa digantikan oleh AI?

Lanjutkan membaca “Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?”

Memori Institusi

Ketika kita berbicara tentang memori, biasanya yang pertama terlintas di benak adalah memori manusia—kemampuan kita untuk menyimpan, mengingat, dan menggunakan kembali informasi dari pengalaman masa lalu. Namun, konsep serupa juga berlaku dalam organisasi dan pemerintahan dalam bentuk memori institusi (institutional memory).


Apa Itu Memori Institusi?

Memori institusi adalah kumpulan pengetahuan, pengalaman, kebijakan, prosedur, dan praktik yang telah dikembangkan oleh suatu organisasi atau institusi dalam jangka waktu tertentu. Ini mencakup bagaimana keputusan diambil, bagaimana masalah dipecahkan, serta bagaimana budaya dan nilai-nilai berkembang dalam suatu organisasi.

Memori institusi dapat berupa:

  • Dokumentasi tertulis, seperti arsip kebijakan, laporan, dan peraturan.
  • Sistem dan prosedur, seperti SOP (Standard Operating Procedures) dan mekanisme koordinasi.
  • Pengalaman individu, yang diwariskan secara informal melalui mentoring atau pembelajaran di tempat kerja.
  • Norma dan budaya organisasi, yang membentuk kebiasaan dan bagaimana institusi beroperasi dan berinteraksi dengan pihak lain.

Apakah Memori Institusi Mirip dengan Memori Manusia?

Dalam banyak hal, ya. Seperti halnya manusia yang mengandalkan memori untuk bertindak berdasarkan pengalaman masa lalu, institusi juga bergantung pada memori institusi untuk mempertahankan keberlanjutan dan efektivitasnya.

Lanjutkan membaca “Memori Institusi”

Sustainability – An Industrial and System Engineer Perspective

My Perspectives in a Slide Deks on the Changing Role of Industrial and Systems Engineering in Contributing to the Sustainable Development Goals in the Industry 4.0 Era with special focuses on Lean and Green Concepts.

Sistem harus memiliki Umpan Balik

Di berbagai workshop dan seminar yang saya ikuti, saya sering mendengar bahwa sebuah institusi mengklaim telah menciptakan sebuah sistem ini, sistem itu, yang lebih baik dari sebelumnya. Ada juga yang mengklam bahwa sebelumnya tidak ada sistemnya, sehingga sekarang dengan adanya sistem yang baru dirancang maka akan lebih tertata dst.

Namun yang menarik buat saya dari konsep, rancangan, atau akhirnya di implementasi, sistem tersebut tidak memuat adanya sub-sistem umpan balik. Umpan balik adalah sub-sistem yang seringkali lupa merupakan bagian penting dan memang seharusnya ada dalam sistem. Definisi sistem klasik adalah input proses output umpan-balik. Sehingga ketika sebuah klaim sistem dilakukan, namun ternyata tidak memiliki sub-sistem umpan balik, maka seharusnya tidak bisa diklaim sebagai sistem

Lanjutkan membaca “Sistem harus memiliki Umpan Balik”