ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Mengikuti heboh mobil nasional yang sedang terjadi saat ini, menarik melihat berbagai macam pandangan dan harapan yang timbul akibat “kerinduan” akan produk dalam negeri. Kerinduan ini dipicu oleh kenapa negara tetangga atau agak tetangga (korea/jepang) berhasil mengembangkan industrinya, walaupun jangan lupa tetangga lain (australia) malah menutup pabrikan mobilnya (masih ingat  mobil merk Holden?).

Apa artinya? technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Tanpa bermaksud mengurangi antusiasme yang menggebu-gebu dari politik dan media, sehingga mungkin berkesan tidak tahu diri, tidak mendukung karya dan inisiatif yang bagus, dst. Saya pribadi sangat menghargai usaha para profesional keteknikan yang berhasil membangun kompetensi yang cocok dengan kebutuhan industri.

Itu mungkin yang membuat para perekayasa industri (industrial engineers) malah tidak banyak suara, karena bingung gimana ngasih tahunya bahwa tidak mudah membangun industri, dibandingkan membuat mobil saja. Takut nanti kalau ngasih tahu, diprotes: kok malah tidak mendukung sih?

Lanjutkan membaca “ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges”

Lebaran dan Perekayasa Industri

Lebaran sebagai sebuah event tahunan merupakan hal yang sangat menarik dalam kacamata perekayasa industri.

Bagaimana melakukan peramalan yg tepat dengan keterbatasan tempat inventori dari setiap jalur distribusi hingga ke toko2 atau supermarket, utk barang dengan merk apa yg sedang ‘digandrungi’ tahun ini, berapa lama shelf lifenya dst.

Bagaimana mengatasi logistik bahan makanan segar khas utk hidangan lebaran ketika jalur transportasi tersesaki oleh mudik manusia dg kendaraan pribadi.

Bagaimana mengatur lebih baik antrean, melayani penjualan tiket, menjaga operasional seluruh peralatan transport, tetap menjaga resiko pada ancaman keamanan.

Memang utk membuat atau meningkatkan layanan yang kompleks semacam ini membutuhkan keahlian multi dari perekaya industri.

The world needs more industrial engineers..
.. especially during holidays.

Happy Hari Raya Lebaran.

Mohon maaf lahir dan batin.

Mari kembali ke titik nol, sehingga kita bisa melakukan Business Process Reengineering BPR terhadap diri kita dan tempat berkarya kita.

Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat – We only see what we wanted to see

Di kuliah faktor manusia di TIUI, ada tradisi memutar video dari BBC tentang Human Senses. Sebuah serial yg membahas tentang karakteristik 5 panca indera fisik utama manusia.

Ada satu segmen tentang cara kerja mata dan bagaimana mata sebagai sebuah indera yg luar biasa mampu menangkap semua gambar obyek didepan mata. Tetapi kita juga sering mendapatkan ada orang yg tidak melihat apa yg ada dihadapannya, dan kita terheran kenapa kok tidak lihat padahal sudah jelas ada didepannya. Dalam serial ini, terdapat sebuah adegan dimana seseorang berkostum gorilla yang berkali-kali lewat didepan kamera, tetapi hampir seluruh penonton (termasuk saya ketika menonton pertama kali) tidak memperhatikannya walaupun sebenarnya mata melihatnya.

Melihat membutuhkan mata, tetapi ternyata “melihat” lebih banyak merupakan “kerja” otak daripada mata. Mata bertindak sebagai alat untuk melakukan pengambilan gambar, tetapi memberikan makna terhadap gambar adalah kerja otak. Kenapa anda tahu sebuah benda ditangan rekan anda sebuah blackberry misalnya, tetapi bukan sebuah tv atau radio mini. Karena bentuk blackberry direkam oleh otak anda sebagai blackberry, jika anda membawa blackberry ke suku pedalaman yang tidak pernah membaca koran, tv atau apapun, mereka tidak akan tahu jika itu adalah blackberry, karena otak mereka tidak pernah menangkap gambar blackberry dan tidak mengasosiasikannya dengan sejenis smartphone. Mungkin anda anda bisa dianggap dukun sakti karena bisa punya alat yang bisa “mencuri” muka orang dengan kemampuan fotonya, atau malah harus dibunuh karena dianggap dukun jahat yang mau mengambil jiwa mereka dengan memfoto mereka.

Tidak Melihat yang Seharusnya Terlihat: Tidak Mampu dan Tidak Mau

Itulah mengapa banyak orang yang tidak melihat apa yang menurut kita seharusnya mereka melihat. Bisa karena 2 hal utama: tidak mau atau tidak mampu. Lanjutkan membaca “Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat – We only see what we wanted to see”

Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)

Hari ini di kampus, kami kedatangan seorang alumni yang berprofesi sebagai arsitek untuk mencari tenaga teknik industri untuk bekerja di grup perusahaannya sebagai asisten direktur utama yang bertugas meningkatkan efisiensi dan efektivitas usahanya. Sebuah diskusi menarik timbul karena ternyata dia ditugaskan secara spesifik ke TI karena kebutuhan yang mendesak serta pengakuan kemampuan perekayasa industri untuk  menetapkan kontrol utama kepada setiap proses sehingga kerugian akibat ineffisiensi dapat ditekan.

Berita ini menarik saya untuk menulis tentang pentingnya peran pendukung, yang terkadang tidak terlihat di luar atau langsung, tetapi berperan sangat penting dalam menciptakan "konsistensi” kualitas layanan langsungnya. Dan sebagai teknik industri pada dewasa ini, sangat besar kemungkinan anda tidak akan bekerja sebagai pemeran utama klasik sesuai bidang ilmu anda di bidang manufaktur misalnya sebagai PPIC manager, QC atau lainnya. Banyak alumni yang bekerja dibidang jasa atau dibidang manufaktur tetapi berbasis proses kimia (pabrik semen, minyak dan energi, minuman, consumer goods, farmasi dll).

Pada bidang-bidang ini, perekayasa industri memang akan banyak berperan sebagai peran pendukung dan peran pendukung ini jangan dianggap lebih kecil daripada pemeran utama, bahkan peran pendukung sebenarnya jauh lebih penting daripada pemeran utama

Lanjutkan membaca “Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)”

Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)

Siang hari di kampus setelah makan siang:

Seorang mahasiswi datang ke rekan kerja saya yang pria, kemudian berkata “Pak, saya positif”.

??????

 

Sering saya kemukakan ketika mengajar bahwa medium komunikasi kita: suara, tulisan, gambar, adalah medium yang sangat lemah untuk mengkomunikasikan apa yang kita maksudkan, karena banyaknya keterbatasan pada medium tersebut dan betapa bergantungnya kita terhadap kesamaan konteks antara pembicara dan pendengar (dalam hal suara misalnya). Sebuah kata kasar bisa menyinggung pendengarnya ketika dalam suasana hati jelek pada suasana formal, tetapi bisa merupakan gurauan pada suasana hati gembira dalam suasana informal.

Untuk itu, sangat penting bagi pemikir sistem untuk memiliki struktur dalam bertanya atau menjawab pertanyaan ketika berkomunikasi, yang akan mengurangi kesalahpahaman ini. Struktur itu dapat disingkat sebagai SPQ&ISA – Situation, Perception, Questions dan Interpretation Structure Answer.

Bertanya dengan SPQ

Situation, uraikan situasi yang membuat anda akan bertanya secara apa adanya (tanpa adanya interpretasi atau pendapat anda terlebih dahulu). Pengantar situasi penting untuk memberikan gambaran bagi penjawab dalam konteks apa anda akan bertanya, sehingga mengurani mis-interpretasi dari pertanyaan anda.

Perception, jelaskan bagaimana menurut anda situasi tadi, disini anda memberikan perspektif anda terhadap situasi, like or dislike, agree or not agree

Questions, pertanyaan yang ingin diajukan

Menjawab dengan ISA

Lanjutkan membaca “Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)”

Apa yg anda putuskan tidak-anda-lakukan adalah hal yg penting

Membaca artikel tentang Steve Jobs dan filosofi designnya di Apple yg saat ini produknya sedang mendominasi mobile computing dan gosipnya menyudahi era PC untuk masuk ke era tablet, ada satu pernyataan yg menarik dari Guru Apple ini:

‘It is what you decide NOT to do that matters’

Filosofi design ini ternyata mendorong fungsi-fungsi sederhana tapi brillian yang ada dalam produk-produk Apple (note: walaupun saya sangat menghargai Apple, tapi saya bukan pengguna produknya). Hingga kini produk Apple tidak datang dengan manual yg tebal, dia sangat spesifik memenuhi kebutuhan generik penggunanya. (Spesifik ke Generik). Sehingga bagi para maniak teknologi mungkin produk Apple menjadi terkesan ‘terbatas’ atau terkukung. Saya menggunakan Apple sebagai contoh untuk menjelaskan ‘simplicity is the ultimate sophistication’, yaitu upaya untuk membuat sederhana terkadang membuat kita harus berusaha keras untuk mencapainya.

Dalam proses pemecahan masalah, biasanya ada tahapan dimana kita memiliki banyak alternatif sumber permasalahan serta kemudian banyak alternatif pemecahan permasalahan. Kita harus memilih atau menyeleksinya, hanya saja fokusnya biasanya untuk memilih yang “terbaik”, kemudian meluakan yang lainnya. Saran saya: jangan lupakan yang tidak terpilih, simpan dan gunakan sebagai bahan olahan, walau bagaimanapun sebuah proses eliminasi seharusnya tidak hanya untuk mendapatkan yang terbaik tetapi memberikan kesempatan bagi proses pemahaman terhadap semua alternatif yang ada dan kenapa tidak memilihnya.

Dalam penyusunan rencana strategis perusahaan misalnya, fase terpenting bukanlah selesainya dokumen renstra, tetapi proses eliminasi yang membahas berbagi asumsi, berbagai alternatif, dan berbagai tantangan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua elemen organisasi, sehingga jikapun apa yang dipilih dalan dokumen renstra tidak terjadi, tetapi melalui proses tadi, semuanya seolah-olah sudah “berlatih” untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dalam teori sistem, dikenal pula kategori kompleksitas detail, yaitu kompleksitas akibat banyaknya komponen. Sebuah sistem yang ingin mengakomodasi banyak keinginan dan pandangan, pasti akan berkembang untuk memiliki kompleksitas tinggi akibat banyaknya “komponen” atau variasi. Orang tua mungkin akan bingung melihat handphone yang saat ini sudah bisa merekam video, foto, main game dll padahal dulu bisa terima telpon dimana saja sudah ajaib. Bayangkan kalau setiap fungsi telpon punya tombol khusus, mungkin tombol handphone akan sama banyaknya dengan tombol keyboard.

Mengurangi kompleksitas dengan mengurangi komponen adalah tidak mudah, suatu proses yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan sulit.

Simplicity is the Ultimate Sophistication “Leonardo Da Vinci”

Namun, belajar dari Apple: kesabaran menjual visi, “memaksa” user untuk berkompromi terhadap keterbatasan yang sekaligus memberikan kebebasan dari kerumitan (aneh yaa, tapi mungkin saya bisa buat artikel tentang ini), atensi terhadap detail yang sangat luar biasa, dll merupakan sebuah inspirasi bahwa pencarian kemudahan adalah suatu hal yang berat namun memungkinkan.

Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri

Topik tentang sustainability yang diterjemahkan bisa ke “keberlanjutan” atau “kelestarian” telah semakin mengemuka di dunia seiring dengan kejadian cuaca buruk dan tidak terduga yang terlihat semakin sering melanda dunia, yang kita rasakan bersama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan tentnag pemanasan global dengan adanya pendapat bahwa peristiwa ini adalah peristiwa “natural” rutin tanpa ada campur tangan manusia, sebagai perekayasa industri, kita semua wajib memasukkan unsur keberlanjutan kedalam fokus perhatian kita.

Kita sadari atau tidak, kita telah menkonsumsi energi dan sumber daya yang semakin lama semakin besar dibandingkan pendahulu kita. Dulu orang membeli daging dengan dibungkus daun singkong (sehingga sampai ada joke kotornya he..he..), sekarang we go to nearest hypermart that use plastics. Plastics use more energy and more non-degradable waste. Jadi adalah tugas kita, untuk menjadi pendahlu dari anak cucu kita, mempertimbangkan gaya hidup dan pendekatan pemecahan masalah. Saya pribadi yakin Perekayasa Industri (Industrial Engineers), memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dalam usaha ini.

Tapi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Setelah membaca berbagai majalah dan jurnal, dan yang terakhir saya sedang membaca special report dari majalah MIT Sloan Management Review: Sustainability as Competitive Advantage, saya tiba pada pada kesimpulan bahwa peranan kita adalah menggunakan pendekatan dan metode di Teknik Industri untuk sebuah target baru (old proven ways with new indicators)

Lanjutkan membaca “Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri”