Failing to Plan is Planning to Fail

Gagal memiliki rencana berarti Merencanakan untuk gagal.

Sebuah kutipan untuk pergantian tahun 2013 ini, yang menurut temen saya namanya sedang diusulkan menjadi 2012A karena takut 2013 mengandung angka sial 13, mengacu kepada kebiasaan gedung-gedung tinggi di Indonesia yang mengganti dan menghilangkan nomor-nomor lantai gedung yang dianggap tidak hoki atau sial (seperti 4 menjadi 3A, dan 13 menjadi 12A, atau tidak ada sama sekali). Walaupun ternyata ada temen saya lagi yang asli insinyur mengatakan berbahaya menjadi 2012A, karena kalau iya bisa jadi ramalan Maya tentang kiamat masih berlaku, karena biasa lah, khan ramalannya sudah lama banget, plus-minus toleransi harusnya ada. Lha wong merancang beban lift saja ada toleransi sampai 200% seandainya ada hubungannya dengan nyawa manusia.

Tapi saya sebenarnya mau membahas hal yang lain, yang saya dapatkan pagi ini ketika melihat acara gosip di TV tentang jawaban para artis kita tentang rencana tahun depan menyambut pergantian tahun malam ini, ada yang mengatakan “going with the flow”, yaitu pendapat bahwa sudahlah tidak usah berencana apa-apa, ikuti saja. Pendapat ini seolah mewacanakan bahwa buat apa ada rencana, toh belum tentu bisa dilaksanakan.

Lanjutkan membaca “Failing to Plan is Planning to Fail”

Persiapan Presentasi Skripsi

Setelah mengikuti banyak sekali sidang ujian seminar dan skripsi, maka ada beberapa hal penting yang terlihat harus selalu diperhatikan oleh para peserta ujian selain yang telah dituliskan dalam buku pedoman penulisan skripsi. Untuk itu tulisan ini bermaksud membantu anda untuk menyiapkan diri anda lebih baik. Beberapa tulisan akan berfokus kepada penyusunan slide, pelaksanaan presentasi dan bagaimana menghadapi tanya jawab.

Perhatikan preferensi individu dari anggota tim dosen penguji

Setiap anggota tim dosen pasti memiliki preferensi dan fokus perhatian yang berbeda-beda. Ada yang berfokus terhadap korelasi antara tujuan penelitian dengan kesimpulan, fokus kepada cara presentasi anda, fokus terhadap kedisiplinan anda dalam menulis karya ilmiah dsb. Preferensi-preferensi ini harus bisa anda identifikasikan sehingga anda bisa menyesuaikan diri dengan preferensi tersebut. Anggaplah ini adalah latihan anda untuk tantangan sesungguhnya didunia kerja, pasti ada boss anda yang meminta berbeda dibandingkan yang lain.

Tips Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian sebaiknya adalah tujuan akhir dari skripsi anda berupa produk yang anda hasilkan. Bukan tujuan antara, karena hal ini seharusnya ditekankan ketika menjelaskan metodologi penelitian. Pengecualian jika memang tujuan akhir anda ternyata memiliki 2 produk atau lebih yang berbeda dan bukan merupakan input bagi yang lainnya. Misalnya anda memiliki 2 tujuan akhir, produk A dan B, maka jika A adalah input bagi B, maka sebaiknya yang ditulis hanya B.

Begin with the End in Mind

Konsep begin with the end in mind adalah konsep dari 7 kebiasaan manusia yang efektif, dan menjelaskan pentingnya kita berfikir tentang apa yang ingin kita dapatkan pada akhirnya sebagai panduan dan patokan dalam merencanakan kegiatan kita. Semakin detail dan jelas hasil akhir yang kita ingin dapatkan semakin mudah pula anda mencari hal-hal yang harus kita lakukan untuk mencapainya.

Apa sih output dari skripsi anda? apakah berupa tabel rencana produksi, sebuah daftar rekomendasi perbaikan, sebuah gambar desain sistem/produk, sebuah daftar hasil analisa yang berguna dalam mengambil keputusan. Artinya secara sederhana hasil skripsi anda adalah bisa berupa gambar, flowchart, tabel, daftar, tulisan yg terstruktur (rencana) dan lainnya.

Waspada Virus

Komputer presentasi biasanya digunakan bersama. Teknologi USB Disk memang memudahkan kita memindahkan file2 besar presentasi, tetapi memudahkan juga untuk mentransfer virus. Hati-hati karena begitu komputer terkena virus berarti presenter berikut bisa tidak menggunakan komputer yang sama. Siapkanlah komputer cadangan. Anda juga sebaiknya tidak menggunakan usb kerja anda, karena data anda di usb bisa hilang akibat virus tersebut. Gunakanlah spesial usb khusus buat presentasi skripsi dan data2 pendukungnya.

Siapkan alur cerita yang logis

Hati-hati dengan Kontras tanpa basis Data

Saya sangat suka memperhatikan gaya orang membangun dan menyampaikan argumennya. Sebagai pengajar manajemen kualitas, saya sering kebingungan menghadapi rapat orang Indonesia, yang kebanyakan berdiskusi, berdebat bahkan bisa emosional tetapi bukan berlandaskan kepada data atau fakta, namun kepada asumsi dan persepsi. Masih mending jika asumsi diambil dari data.  Lebih sering asumsi diambil dari logika atau persepsi umum (common perception) yang suka melupakan ada konteksnya.

Logika tanpa fakta lebih berbahaya, karena biasanya akan lebih menyakinkan kebenarannya.

Logika berbasis kepada data bisa terasa kurang seru, karena bisa jadi ada beberapa bagian yang berlubang akibat data yang kurang lengkap, sehingga tidak bisa diambil keputusan. Lebih enak kalau tanpa fakta, karena lebih gurih dan lebih imajinatif. Lihat saja kesukaan pemirsa TV Indonesia terhadap acara gosip. Baik acara gosip beneran atau acara gosip terselubung (acara berita/news).

Derajat Kontras Hitam Putih
Derajat Kontras Hitam Putih

Kontras adalah cara yang paling mudah untuk membandingkan. Mata kita dilatih untuk lebih menangkap perbedaan warna yang memiliki kontras yang berbeda. Sehingga otak kita juga terlatih untuk melakukan versus (vs) dan or (atau). Yang sering saya dapatkan ketika pemilihan kandidat misalnya adalah fokus kepada kontras antara kandidat A vs kandidat B. Strateginya biasanya dua: SAMA atau BEDA/UBAH. Bagi yang pokoknya beda, nggak penting apakah perbedaan itu akan bisa diaplikasikan berdasarkan data yang ada, sehingga sebenarnya hanya sekedar janji saja. Bagi yang ubah, nggak penting apakah perubahan menjadi lebih baik atau tidak, yang penting berubah. Semuanya lebih sering tanpa data. Bagaimana prestasi calon pemimpin tersebut? Apa ukuran obyektif untuk mengukurnya? Lanjutkan membaca “Hati-hati dengan Kontras tanpa basis Data”

Manajemen Jalan-Jalan – Gemba – Management by Walking Around

Judul manajemen jalan-jalan merupakan terjemahan bebas dari konsep management by walking around (MWA) yang pertama kali saya baca dilakukan oleh duo Hewlett & Packard, para pendiri produsen komputer HP. Pada masa pertumbuhan HP, duo pendiri ini sering berjalan-jalan ke lantai produksi dan operasi untuk berdiskusi langsung dengan insinyur, desainer produk, dll. Konsep manajemen ini untuk memotong penyakit perusahaan yang besar yang biasanya memiliki alur komando pengambilan keputusan yang panjang, sehingga bisa lebih responsif terhadap keinginan pelanggan atau peluncuran produk baru.

Konsep ini juga ternyata ada dalam kualitas yang disebut dalam bahasa jepang sebagai Gemba, lihatlah masalah pada tempatnya. Secara tersurat, kita diminta turun ke lokasi permasalahan untuk memahami permasalahannya secara langsung. Namun yang lebih penting lagi, secara tersirat, lihatlah masalah dalam konteksnya. Pemahaman Kontekstual bisa mencakup dimensi ruang lokasi, waktu, fungsi atau skala.

Ada trend baru politik Indonesia dengan konsep yang mirip dengan MWA atau Gemba. Di politik saya dengar namanya adalah Retail Politics, yaitu sebuah proses mencari suara dengan datang ke kantong-kantong suara secara langsung dan “menyapa warga”. Kalau di Amerika, secara sejarah ternyata memang ada beberapa negara bagian atau provinsi yang “mewajibkan” kandidat presiden untuk melakukan ini, baik secara pribadi atau melalui sukarelawan yang mengetuk pintu untuk berkampanye. Mereka tidak peduli program kerja, artis, facebook, twitter selama belum ketemu langsung maka mereka tidak akan memilih. Memang terlalu dini dalam sejarah demokrasi Indonesia untuk mengetahui apakah hal ini juga berlaku, namun sementara ini kesimpulan umum saya, kita suka hal yang “beda”. Terkadang ndak peduli bahwa beda belum tentu lebih baik. Dulu presiden ndak suka ngomong, sekarang suka yang curhat, nanti berikutnya mungkin ndak ngomong lagi. Lanjutkan membaca “Manajemen Jalan-Jalan – Gemba – Management by Walking Around”

Kurva Belajar (Learning Curve) dalam Politik

Fenomena kurva belajar ternyata tidak saja ditemukan di teknik industri, namun juga ternyata berlaku pada masa transisi pergantian pimpinan daerah yang merupakan ranah politik. Di teknik industri, kurva belajar diajarkan pada kuliah faktor manusia, untuk memberikan pemahaman bahwa setiap produk baru akan membutuhkan waktu sebelum tingkat produktivitas akan menyamai produk lama. Produk baru akan membutuhkan penyesuaian dari operator lapangan untuk mempelajari peletakan, urutan operasi, apa yang perlu diperhatikan dan sebagainya. Perekayasa industri harus menyiapkan diri terhadap penurunan ini termasuk mencari cara agar kurva belajar berlaku dengan lebih cepat daripada kompetitor.

Pergantian gubernur di tempat saya tinggal sarat pula dengan fenomena kurva belajar. Dan saya yakin ini akan menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat jakarta tentang dampak dari pergantian pimpinan dan lebih arif ketika mendengarkan janji-janji para calon yang tampil.
Lanjutkan membaca “Kurva Belajar (Learning Curve) dalam Politik”

Refleksi 10 Tahun Menjadi Pendidik Teknik Industri

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan penghargaan kesetiaan dari pemerintah karena telah bekerja selama 10 tahun lebih. Asisten dan mahasiswa banyak yang memberikan selamat kepada saya dan bertanya apa kesan saya menjadi pendidik Teknik Industri. Saya sempat bingung menjawabnya karena tidak pernah memikirkan akan harus menjawab pertanyaan ini, namun beberapa hari yang lalu saya menyadari apa jawaban dari pertanyaan ini, ketika saya sibuk menyusun bahan presentasi untuk kuliah di kelas simulasi industri.

Jawabannya adalah: Saya mencintai pekerjaan sebagai pendidik teknik industri karena saya tidak bisa berhenti belajar.

Jawaban ini saya dapatkan karena saya baru sadar bahwa hingga saat ini tidak ada hari dimana saya tidak harus merevisi materi untuk mengajar dan saya bisa membuka kuliah-kuliah pilihan baru (yang berarti kerja keras lagi menyiapkan materi dan presentasi). Suatu pekerjaan yang mungkin tidak menyenangkan karena ngapain capek-capek bikin materi, lebih mudah dengan kasih buku ke mahasiswa, suruh baca, kerjain kuis dan tugas, kemudian ujian. Namun bagi saya, jika sebuah kuliah sudah memiliki buku ajar baku, dan tanpa tambahan update dari jurnal, kuliah tersebut pasti tidak akan membahas hal-hal baru. Tanpa membahas hal-hal baru, maka saya tidak belajar. Jika dosen tidak belajar hal baru, apalagi mahasiswanya.

Teknik Industri adalah keilmuan yang inklusif. Inklusif berarti lawan kata dari eksklusif. Inklusif memberi makna bahwa teknik industri akan terus mencari dan mengadopsi pendekatan dan metode baru yang dapat membantu perekayasa industri mendapatkan kenaikan efisiensi dan efektivitas hingga tetes terakhir. Saya masih ingat ketika TI pada masa akhir 90-an mengadopsi Balanced Scorecard, sebagai tambahan cara pengukuran kinerja yang secara tradisional hanya bertumpu pada produktivitias.  Adopsi proses AHP (analytical hierarchy process) sebagai proses pengambilan keputusan juga dilakukan. Dorongan teknologi informasi juga dimanfaatkan oleh TI untuk melakukan integrasi antar bagian dalam paket aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning). Evolusi manajemen kualitas dari SPC (Statistical Process Control), ke SQC (Statistical Quality Control), QI (Quality Improvement), TQM (Total Quality Management) kemudian Operational Excellence, dari QCC (Quality Control Circles) ke Lean Six Sigma.

Kita juga mengadopsi konsep simulasi dan pemodelan karena kemampuan prediksi kinerja dari sistem yang telah kita rancang, dan berkembang hingga kini. Dimulai dari Discrete Event Modeling, dengan ProModel sebagai aplikasi “populer” di TI Indonesia, bergerak ke Continuous Event Modeling melalui pendekatan sistem dinamis, kemudian ke arah object oriented modeling hingga ke agent based modeling. Pada pemodelan matematis dengan dasar-dasar riset operasional menjadi saat ini menjadi meta-heuristics programming dan combinatorial programming.

Bidang perancangan yang berevolusi menjadi Innovation Engineering, terintegrasi secara penuh secara digital sejak produk, proses, pabrik dan antar pabrik. Membahas pula aspek teknologi dan strategi, akan menjadi sangat menarik.

I am excited on what new things I will learn in the future … what’s next?

Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking

Ketika saya sedang membangun model sistem dinamis pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia, ada satu konstanta yang secara elegan diberi nama “budget effectiveness”, yang dihubungkan dengan variabel government spending (belanja pemerintah). Penterjemahan lapangan dari konstanta ini adalah “korupsi”. Tentunya dalam disertasi saya setelah dipertimbangkan dengan seksama akhirnya diputuskan untuk menghilangkan seluruh aspek politik sehingga nilai konstanta yang saya berikan adalah 100%, namun dalam prosesnya saya bertanya-tanya berapa nilai seharusnya yaa apakah 80% (20% korupsi), 75%, 70%, dan 60%. (Jadi ingat masa-masa jadi konsultan pemerintah, yang ternyata berbeda-beda, tidak ada konsensus nasional).

Sebagai Perekayasa Industri, saya menjadi tertarik untuk apakah memungkinkan melihat korupsi dalam kacamata kita, dan sementara ini kacamata yang cocok adalah kacamata ilmu lean thinking (lean management) dengan memandang korupsi sebagai waste. Lean adalah sebuah pola pikir untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi proses sehingga didapatkan aliran yang paling efisien untuk memberikan nilai yang diharapkan oleh pelanggan akhir. Karena berbasis pada pelanggan, maka proses yang dilakukan secara tidak langsung akan efektif. Jadi efisien dan efektif sebagai tujuan akhir perekayasa industri secara bersamaan dapat dicapai.

Nah kalau sebuah korupsi adalah waste, maka apakah dalam tools dan methods yang digunakan dalam lean ada yang bisa dipakai untuk mengatasinya?

Lanjutkan membaca “Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking”