My Perspectives in a Slide Deks on the Changing Role of Industrial and Systems Engineering in Contributing to the Sustainable Development Goals in the Industry 4.0 Era with special focuses on Lean and Green Concepts.


Tulisan tentang berpikir secara sistemik
Di berbagai workshop dan seminar yang saya ikuti, saya sering mendengar bahwa sebuah institusi mengklaim telah menciptakan sebuah sistem ini, sistem itu, yang lebih baik dari sebelumnya. Ada juga yang mengklam bahwa sebelumnya tidak ada sistemnya, sehingga sekarang dengan adanya sistem yang baru dirancang maka akan lebih tertata dst.
Namun yang menarik buat saya dari konsep, rancangan, atau akhirnya di implementasi, sistem tersebut tidak memuat adanya sub-sistem umpan balik. Umpan balik adalah sub-sistem yang seringkali lupa merupakan bagian penting dan memang seharusnya ada dalam sistem. Definisi sistem klasik adalah input proses output umpan-balik. Sehingga ketika sebuah klaim sistem dilakukan, namun ternyata tidak memiliki sub-sistem umpan balik, maka seharusnya tidak bisa diklaim sebagai sistem
Lanjutkan membaca “Sistem harus memiliki Umpan Balik”Bounded Rationality atau Rasionalitas Terbatas adalah sebuah konsep dalam pengambilan keputusan bahwa kemampuan manusia memiliki keterbatasan dalam mendapatkan dan mengolah informasi. Ini akibat keterbatasan kognitif manusia dan waktu yang tersedia dalam mengambil keputusan. Kemampuan kognitif didefinisikan secara sederhana sebagai kemampuan memproses informasi untuk memiliki makna yang akan membantu proses pengambilan keputusan. Kemampuan ini akan tergantung dari kesehatan fisik, mental, pengetahuan dan pengalaman. Ketika anda lelah secara fisik maka pengambilan keputusan kompleks biasanya menjadi terasa lebih berat, sehingga disarankan untuk menunda mengambil keputusan.
Bounded rationality memberikan rem kuat terhadap konsep ideal dalam pengambilan keputusan tentang informasi lengkap dan sempurna akan menghasilkan keputusan sempurna. Dalam sebuah permasalahan kompleks, informasi lengkap akan menimbulkan timbunan informasi yang luar biasa sehingga pada akhirnya manusia tidak akan sanggup untuk mengolahnya. Secara sederhana, jika anda diminta untuk mengingat sarapan apa pada 249 hari yang lalu, apakah anda mengingatnya? Ini berarti ada keterbatasan dalam kemampuan manusia sehingga banyak informasi yang tidak relevan secara otomatis seperti dihilangkan dari otak kita.
Ini mengapa jika anda berdiskusi dengan orang lain, anda bisa saja seperti berhadapan dengan tembok yg tidak mau bergeser, karena sebenarnya anda berhadapan dengan batasan rasionalitas dari orang tersebut. Anda juga disarankan tidak mengambil keputusan strategis ketika emosional, lelah, kaget atau dalam situasi dimana rationalitas anda menjadi berkurang.
Bounded rationality membuat pengambil keputusan seperti menjustifikasi pengambilan keputusan yang kurang dari ideal dengan memberikan alasan atau konteks yang dianggap benar dan menjadi pengekang dari target ideal. Dan yang seru adalah logika alasan ini akan terlihat masuk akal atau dikenal logis. Padahal belum tentu sama masuk akal bagi anda atau bagi orang kebanyakan namun tetap masuk akal. Karena memang kata masuk akal sendiri kan berarti tergantung akal siapa yg digunakan. Logika juga sama, tergantung logika apa yang dipakai. Sehingga sebenarnya pendidikan formal itu mencoba menguatkan logika bersama universal yg bisa menjamin kemajuan umat manusia. Loh kok jadi kemana-mana, mari kembali ke bounded rationality.
Jadi apa yang sebenarnya kenapa kita perlu memahami bounded rationality? Karena jika anda ingin berdiskusi, mengubah pendapat orang lain, atau tidak baper dalam berkomunikasi, maka perlu disadari bahwa anda dan lawan komunikasi anda bisa jadi memiliki rasionalitas berbeda, sehingga jika hal yang didiskusikan penting, maka anda perlu berstrategi untuk melakukan komunikasi.
Anda harus menyeimbangkan antara bertanya dan berpendapat untuk saling melihat struktur logika rasionalitas anda dan lawan bicara dalam proses dialog secara seimbang. Sering melakukan konfirmasi apakah apa yang anda pahami dari logika dia adalah sesuai dengan yg dimaksud (hindari dulu benar salah). Tawarkan rasionalitas anda kepada lawan bicara dan minta pendapatnya.
Apakah akan selalu sukses? tentu tidak, ini juga yang menjadi aspek dalam bounded rationality, karena keterbatasan yang timbul biasanya terjadi karena sejarah panjang kehidupan lawan bicara kita. Sederhananya yaa sudah diusahakan, berikutnya yaa tinggal didoakan untuk mau berubah.
Dalam diskusi di rumah pagi ini, ada yang membahas tentang prediksi pemodelan pandemic yang dilakukan di negara tetangga tentang kapan berakhirnya pandemic dengan memberikan judul “data-driven”. Seolah-olah kata data-driven memberikan bobot lebih tinggi terhadap hasil pemodelan, karena berbasis data. Namun bukankah jika datanya tidak valid maka sebenarnya hasil modelnya tidak valid? Apalagi ketika negara tetangga melakukan prediksi kondisi Indonesia, lha datanya dari mana? ketika kita sendiri masih berdebat tentang data yang ditampilkan oleh pemerintah.
Jika kita lihat konteksnya, Data-driven menjadi istilah populer ketika dunia memasuki masa big data, yaitu ketika aktivitas manusia untuk pertama kalinya dapat dikumpulkan secara masif melalui interaksi dia dengan perangkat digitalnya. Setiap halaman yang anda click, video yang anda pilih, berapa lama anda berada dalam satu halaman, aplikasi apa yang anda install, anda jalan kemana saja dengan bantuan peta digital, itu menjadi sebuah timbunan data yang luar biasa besar tentang diri anda. Timbunan data ini kemudian di”masuk-akal”kan untuk melakukan prediksi tentang profil anda. Profil ini bisa saja akan mengungkapkan kejutan tentang apa sebenarnya yang anda sukai, yang bisa berbeda dari apa yang anda pikir anda sukai.
Jika diagregasi ke skala yang lebih besar, timbunan data personal ini bisa menjadi data group, group menjadi organisasi, lalu industri, hingga wilayah, nasional dan dunia. Contoh dari agregasi ini adalah Laporan tahunan google tentang apa yang sering dicari di Indonesia adalah salah satu contohnya (2019 Report). Laporan ini menarik karena seperti membuka kebiasaan orang Indonesia mungkin tidak diketahui oleh orang Indonesia sendiri. Ada mungkin sekelompok kecil orang Indonesia yang berbeda, namun ketika ini adalah big-data, maka seolah-olah menjadi pembenaran bahwa kerikil-kerikil kecil berupa ketidaksesuaian atau ketidavaliditasan data pasti kalah dan dihaluskan dengan data lain yang lebih banyak jumlahnya.


Evidence Based Policy Making (EBPM) atau Pengambilan Kebijakan berbasis Bukti/Fakta merupakan sebuah proses pengambilan kebijakan yang berbasis kepada bukti. Ini merupakan lawan dari pengambilan kebijakan yang hanya berlandaskan kepada preferensi pribadi yang cenderung emosional, berjangka pendek, berbasis pengalaman lampau, apalagi hanya untuk menyenangkan atasan.
Indonesia memang masih harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan, dengan berbagai ketidaktepatan kebijakan yang telah kita buat dimasa lampau. Namun bekerja keras tanpa ada tujuan yang jelas dengan basis asumsi masa lampau yang tidak tepat, akan membuat kita salah arah dan juga berpeluang membuat kesalahan baru. Kesalahan baru yang berbeda dari kesalahan yang telah dibuat, yang akhirnya menjebak diri kita ke sebuah pusaran tanda akhir membuat kesalahan kebijakan.
Sebagai contoh konsep sasaran yang ingin dicapai dalam kebijakan, para pengambil kebijakan sering lupa bahwa konsep sasaran tidaklah statis, tapi dinamis tergantung perubahan yang terjadi. Sebagai contoh ketika terjadi diskusi di Universitas Indonesia untuk mengejar ketertinggalan publikasi internasional dibandingkan negara tetangga, timbul optimisme bahwa secara trend kita akan mengalahkan saingan terdekat kami di regional Asia. Namun, optimisme itu menjadi berkurang, ketika diskusi mengarah, bukankah di universitas pesaing akan melihat posisi kita yang mengejar, sehingga bereaksi pula untuk meningkatkan publikasinya pula. Inilah yang disebut “Dynamic Moving Target” atau sasaran bergerak.
The best will be copied by the next best, and some copies will be better than the original.
Sehingga inovasi harus terus dikembangkan dan rasa nyaman terhadap status quo harus selalu secara rutin digoyang untuk berkreasi. Biasanya ketika dipaksa berubah, maka manusia akan melawan balik dengan berbagai cara untuk membatalkan perubahan. Cara yang terbaik adalah berbasis kepada fakta. Jika sebuah diskusi perdebatan berlandaskan kepada fakta, maka lebih mudah mengarahkan perubahan. Karena fakta memiliki kekuatan yaitu sulit didebat dibandingkan asumsi maupun emosi. Ketika fakta lingkungan berubah maka kita juga harus mengubah strategi antisipasinya.
Disinilah letak EBPM.

Nilai yang berasal dari kata Value, merupakan sebuah kata yang penting bagi perekayasa industri untuk keluar dari cara pandang lama untuk menuju ke cara pandang sistem yang lebih utuh.
Bagi mahasiswa Teknik Industri, kata nilai biasanya dikenalkan di kuliah pengantar teknik industri atau kuliah pengendalian kualitas. Nilai secara umum didefinisikan sebagai perbandingan antara harga dan kualitas. Jika harga sama namun kualitas meningkat, maka nilai meningkat. Atau sebalikanya jika harga turun namun kualitas tetap sama maka nilai meningkat. Simplifikasi yang sangat sederhana ini tidak salah, bahkan tepat, namun jika fokus pendidikan teknik industri ke arah desain, maka fokus kepada kedua hal ini saja tidak akan mendorong kita mendesain lebih kreatif. Seolah-olah satu-satunya cara untuk meningkatkan kualitas adalah dengan efisiensi biaya, yang masuk ke ranah operasi, bukan ke arah desain.
Jadi apa yang dibutuhkan? Pemahaman yang lebih terhadap definisi nilai

Pagi ini membaca sebuah artikel tentang mogoknya LRT di Sumatera yang terjadi yang terjadi sering dalam satu minggu kembali mengusik kenangan diskusi di masa lalu di PT MRT Jakarta tentang pentingnya perspektif rekayasa sistem untuk meningkatkan kesiapan operasional bahkan dalam sebaiknya sudah dimulai dengan fase konstruksi.
Ketika sebuah sistem kompleks dibangun maka sebuah ciri sistem akan mengemuka, yaitu kumpulan dari komponen terbaik belum tentu menghasilkan sebuah sistem terbaik, terutama jika tingkat konektivitas sistem tinggi. Yang dimaksud dengan tingkat konektivitas adalah secara kuantitas (prosentase setiap komponen terkoneksi dengan yang lain) dan kualitas (ketika koneksi yang terjadi didesain atau tidak disadari mampu membuat sistem berhenti).
Dalam kasus LRT diatas, sebuah door sensor didesain untuk menghentikan kereta karena berbasis keselamatan penumpang, jangan sampai ada yang bisa meloncat ketika kereta sedang berjalan. Namun, semoga door sensor itu tidak dimatikan, karena dianggap malah mengganggu operasional kereta dan dianggap tidak penting. Sesuatu kebiasaan di negara kita untuk mencari quick fix daripada masuk korang terus menerus (ini juga gejala permasalahan sistem).
Rekayasa sistem secara sederhana adalah sebuah komitmen untuk menselaraskan konektivitas sistem sejak dari perancangan, mengawalnya ketika operasional, serta memperbaiki rancangan berikutnya melalui pengalaman operasional. Di organisasi membuat sebuah tim khusus yang multi-bagian dan multi-disiplin untuk melakukan proses ini dengan menggunakan manajemen resiko dalam memetakan kemungkinan berbagai aspek kegagalan. Lanjutkan membaca “LRT dan MRT … dan Rekayasa Sistem”