ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Mengikuti heboh mobil nasional yang sedang terjadi saat ini, menarik melihat berbagai macam pandangan dan harapan yang timbul akibat “kerinduan” akan produk dalam negeri. Kerinduan ini dipicu oleh kenapa negara tetangga atau agak tetangga (korea/jepang) berhasil mengembangkan industrinya, walaupun jangan lupa tetangga lain (australia) malah menutup pabrikan mobilnya (masih ingat  mobil merk Holden?).

Apa artinya? technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Tanpa bermaksud mengurangi antusiasme yang menggebu-gebu dari politik dan media, sehingga mungkin berkesan tidak tahu diri, tidak mendukung karya dan inisiatif yang bagus, dst. Saya pribadi sangat menghargai usaha para profesional keteknikan yang berhasil membangun kompetensi yang cocok dengan kebutuhan industri.

Itu mungkin yang membuat para perekayasa industri (industrial engineers) malah tidak banyak suara, karena bingung gimana ngasih tahunya bahwa tidak mudah membangun industri, dibandingkan membuat mobil saja. Takut nanti kalau ngasih tahu, diprotes: kok malah tidak mendukung sih?

Lanjutkan membaca “ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges”

Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)

Hari ini di kampus, kami kedatangan seorang alumni yang berprofesi sebagai arsitek untuk mencari tenaga teknik industri untuk bekerja di grup perusahaannya sebagai asisten direktur utama yang bertugas meningkatkan efisiensi dan efektivitas usahanya. Sebuah diskusi menarik timbul karena ternyata dia ditugaskan secara spesifik ke TI karena kebutuhan yang mendesak serta pengakuan kemampuan perekayasa industri untuk  menetapkan kontrol utama kepada setiap proses sehingga kerugian akibat ineffisiensi dapat ditekan.

Berita ini menarik saya untuk menulis tentang pentingnya peran pendukung, yang terkadang tidak terlihat di luar atau langsung, tetapi berperan sangat penting dalam menciptakan "konsistensi” kualitas layanan langsungnya. Dan sebagai teknik industri pada dewasa ini, sangat besar kemungkinan anda tidak akan bekerja sebagai pemeran utama klasik sesuai bidang ilmu anda di bidang manufaktur misalnya sebagai PPIC manager, QC atau lainnya. Banyak alumni yang bekerja dibidang jasa atau dibidang manufaktur tetapi berbasis proses kimia (pabrik semen, minyak dan energi, minuman, consumer goods, farmasi dll).

Pada bidang-bidang ini, perekayasa industri memang akan banyak berperan sebagai peran pendukung dan peran pendukung ini jangan dianggap lebih kecil daripada pemeran utama, bahkan peran pendukung sebenarnya jauh lebih penting daripada pemeran utama

Lanjutkan membaca “Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)”

Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)

Siang hari di kampus setelah makan siang:

Seorang mahasiswi datang ke rekan kerja saya yang pria, kemudian berkata “Pak, saya positif”.

??????

 

Sering saya kemukakan ketika mengajar bahwa medium komunikasi kita: suara, tulisan, gambar, adalah medium yang sangat lemah untuk mengkomunikasikan apa yang kita maksudkan, karena banyaknya keterbatasan pada medium tersebut dan betapa bergantungnya kita terhadap kesamaan konteks antara pembicara dan pendengar (dalam hal suara misalnya). Sebuah kata kasar bisa menyinggung pendengarnya ketika dalam suasana hati jelek pada suasana formal, tetapi bisa merupakan gurauan pada suasana hati gembira dalam suasana informal.

Untuk itu, sangat penting bagi pemikir sistem untuk memiliki struktur dalam bertanya atau menjawab pertanyaan ketika berkomunikasi, yang akan mengurangi kesalahpahaman ini. Struktur itu dapat disingkat sebagai SPQ&ISA – Situation, Perception, Questions dan Interpretation Structure Answer.

Bertanya dengan SPQ

Situation, uraikan situasi yang membuat anda akan bertanya secara apa adanya (tanpa adanya interpretasi atau pendapat anda terlebih dahulu). Pengantar situasi penting untuk memberikan gambaran bagi penjawab dalam konteks apa anda akan bertanya, sehingga mengurani mis-interpretasi dari pertanyaan anda.

Perception, jelaskan bagaimana menurut anda situasi tadi, disini anda memberikan perspektif anda terhadap situasi, like or dislike, agree or not agree

Questions, pertanyaan yang ingin diajukan

Menjawab dengan ISA

Lanjutkan membaca “Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)”

Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri

Topik tentang sustainability yang diterjemahkan bisa ke “keberlanjutan” atau “kelestarian” telah semakin mengemuka di dunia seiring dengan kejadian cuaca buruk dan tidak terduga yang terlihat semakin sering melanda dunia, yang kita rasakan bersama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan tentnag pemanasan global dengan adanya pendapat bahwa peristiwa ini adalah peristiwa “natural” rutin tanpa ada campur tangan manusia, sebagai perekayasa industri, kita semua wajib memasukkan unsur keberlanjutan kedalam fokus perhatian kita.

Kita sadari atau tidak, kita telah menkonsumsi energi dan sumber daya yang semakin lama semakin besar dibandingkan pendahulu kita. Dulu orang membeli daging dengan dibungkus daun singkong (sehingga sampai ada joke kotornya he..he..), sekarang we go to nearest hypermart that use plastics. Plastics use more energy and more non-degradable waste. Jadi adalah tugas kita, untuk menjadi pendahlu dari anak cucu kita, mempertimbangkan gaya hidup dan pendekatan pemecahan masalah. Saya pribadi yakin Perekayasa Industri (Industrial Engineers), memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dalam usaha ini.

Tapi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Setelah membaca berbagai majalah dan jurnal, dan yang terakhir saya sedang membaca special report dari majalah MIT Sloan Management Review: Sustainability as Competitive Advantage, saya tiba pada pada kesimpulan bahwa peranan kita adalah menggunakan pendekatan dan metode di Teknik Industri untuk sebuah target baru (old proven ways with new indicators)

Lanjutkan membaca “Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri”

Mencari Topik Skripsi yang “benar-benar” Teknik Industri

Judul diatas perlu diperjelas dengan cerita sebagai berikut, suatu ketika ketika saya pulang sekolah di akhir 90-an, sedang timbul demam Balanced Scorecard (BSC) sebagai topik skripsi di Teknik Industri. Ketika menguji topik ini, seorang dosen TI menanyakan apakah topik BSC boleh dikerjakan oleh anak TI, karena bukankah topik ini adalah yang berasal dari manajemen/bisnis? (waktu itu program MBA di dunia juga sedang “demam” BSC)

Teman dosen inimengkritik dengan bertanya dimana cabang Ilmu TI yang mengayomi topik ini? Ini masakTeknik, khan tidak ada unsur kuantitatifnya?

Waktu itu saya berargumen 2 hal (khusus utk kasus BSC ini):

1. BSC bisa dikategorikan merupakan varian dalam manajemen kinerja perusahaan. Kinerja adalah urusan TI (lihat definisi saya tentang Keilmuan TI di blog ini). BSC juga memasukkan unsur produktivitas yang menjadi bagian utama dalam keilmuan TI. Jadi BSC dapat dikatakan merupakan cabang ilmu produktivitas di TI. Unsur kuantitatif harus didapatkan oleh mahasiswa dari perhitungan-perhitungan untuk menyusun indikator dalam BSC.

2. Keilmuan TI adalah keilmuan yang inklusif, ini bisa dilihat pada definisi TI. Inklusif adalah lawan kata dari ekslusif. Inklusif berarti kita tidak boleh mengurung diri dengan metode yang itu-itu saja, selalu mencari dan mengadopsi metode-metode yang bisa diambil untuk diterjemahkan di TI. Inklusifitas juga berati aplikasi kekuatan keilmuan TI ke bidang-bidang lain yang bukan merupakan bidang “tradisional” TI, seperti bidang jasa.

Diskusi berlanjut dengan menukik ke akar permasalahan pertanyaan yang menjadi judul blog ini: Bagaimana mendefinisikan bahwa sebuah topik skripsi itu adalah topik dalam keilmuan Teknik Industri? Apakah berarti bila kita mengukur kepuasan karyawan dengan metode psikologi, termasuk dalam keilmuan Teknik Industri? Apa bedanya TI dengan departemen manajemen di ekonomi?

Lanjutkan membaca “Mencari Topik Skripsi yang “benar-benar” Teknik Industri”

Larangan Belok Kiri Langsung di Wilayah Polda Metro Jaya dalam kacamata Teknik Industri

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan percakapan di radio yang sedang membahas tentang ditegaskannya kembali bahwa belok kiri harus mengikuti rambu. Jadi kita baru boleh belok kiri langsung kalau ada rambu khusus boleh kiri atau traffic lights khusus kelap-kelip kiri maka baru boleh langsung. Jika tidak, maka tidak serta merta langsung. Dendanya nggak tanggung-tanggung sudah “disepakati” yaitu 250rb rupiah.

Tetapi terlepas dari perdebatan soal sosialisasi atau denda yang sudah “dipatok”, saya ingin membahasnya dalam kerangka ilmu teknik industri. Saya jadi teringat tentang artikel yang membahas soal penghematan BBM dari sebuah perusahaan angkutan barang di Amerika yang unik, yaitu dengan melakukan optimasi rute pengirimannya sehingga menghindari sedapat mungkin mesin idle (nyala tapi tidak bergerak) akibat menunggu traffic lights di perempatan jalan. Perusahaan angkutan barang itu UPS namanya (United Parcel Services), konsep ini bahkan dikenal sebagai “UPS always turn right”. Ingat di Amerika, orang mengemudi di sebelah kanan, jadi belok kanan adalah mirip dengan belok kiri disini, dan kebetulan hampir di seluruh negara bagian di Amerika belok kanan boleh langsung. Jadi kebalikannya di Indonesia, yang tidak boleh belok kiri langsung. Lanjutkan membaca “Larangan Belok Kiri Langsung di Wilayah Polda Metro Jaya dalam kacamata Teknik Industri”

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus mencari Struktur dengan Helicopter Views

Sudah pernah mendengar helicopter views? Jika kita naik helikopter maka kita memiliki kemampuan untuk naik dan turun untuk mendapatkan sisi pandang yang lebih luas atau lebih detail. Jika anda sedang terjebak macet dijalan, maka anda pasti berharap kendaraan anda bisa naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi untuk mengambil keputusan: apakah anda perlu ikuti saja karena ternyata mobil mogok yang sedang dipinggirkan di samping jalan; atau ternyata pohon tumbang sehingga anda sebaiknya mengambil jalan ke kiri berikutnya yang walaupun lebih jauh, bisa lebih cepat. Anda akan turun kembali dan mengambil keputusan

Helicopter views berarti memang tidak hanya satu tingkatan saja tetapi beberapa tingkatan sekaligus dari yang terdetail hingga yang terabstrak (mikro ke makro ke meso). Terkadang kita terjebak dalam tingkatan dunia mikro, kita mencoba mencari solusi pada tingkat mikro tetapi tidak menyelesaikan permasalahannya, kenapa yaa? Karena mungkin problemnya adalah pada struktur makronya.

Dalam sistem dinamis kondisi mikro disebut sebagai events (kejadian), kejadian-kejadian yang berulang atau memiliki keterkaitan pasti terjadi akibat adanya “struktur” yang membuat kejadian-kejadian tersebut. Kejadian-kejadian biasa tersebar pada dimensi waktu, bisa kemarin dan hari ini, bisa setahun yang lalu – 6 bulan yang lalu dan hari ini, dst. sehingga kita lupa dan terfokus pada kejadian saat ini saja, padahal “dulu” pernah terjadi atau ada yang serupa. Kejadian–kejadian juga tersebar pada dimensi ruang, sehingga kita terkadang menjadi sumber permasalahan tempat lain atau menjadi korban permasalah tempat lain. Penipisan ozon pada kutub bumi diprediksi berkontribusi pada perubahan cuaca pada khatulistiwa. Para ahli sedang memperhitungkan bahwa perubahan moonsoon cycles (siklus muson) yang kita telah rasakan di Indonesia (termasuk arah anginnya) akan mengubah peta produksi padi dunia akibat perubahan curah hujan.

Kejadian-kejadian jika kita rangkai akan bisa menampilkan sebuah imaji struktur yang ternyata telah menjebak kita sehingga kita tidak memiliki pilihan lain melakukan atau menerima kejadian tersebut. Kalau kita ingin memperbaikinya maka ubahlah struktur.

Struktur bisa berupa fisik (jalan, bangunan), bisa berupa non-fisik (kebiasaan, peraturan, norma dsb). Milikilah kemampuan untuk menggambarkan struktur, supaya anda tidak terjebak didalamnya.