Memori Masa Depan

Memori masa depan terdengar aneh bagi kita semua, karena biasanya memori adalah ingatan akan masa lampau. Mana mungkin kita memiliki sebuah memori kalau hal itu belum terjadi?

Pernah melihat sebuah drama teater? Para pemainnya berlatih setiap saat sebelum pertunjukkan untuk menciptakan memori masa depan, sehingga ketika drama dilangsungkan didepan panggung mereka langsung memainkan perannya. Mereka menghafalkan dialog, lokasi adegan,  dan lain-lain untuk menyajikan tontonan yang terbaik bagi penonton.

Ternyata pada kenyataannya kita semua memiliki memori masa depan. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Ingver terhadap otak manusia, ditemukan bahwa manusia setiap saat melakukan pembentukan alternatif-alternatif kejadian di masa yang akan datang dan rencana persiapan untuk mengatasi setiap alternatif yang diciptakan tadi. (Mirip yaa dengan proses pemodelan dan simulasi).

Lanjutkan membaca “Memori Masa Depan”

Selamat Tahun Baru 2012

Tahun baru bermakna kebaruan, resolusi hidup baru, belajar hal yang baru, menemukan kembali hal “lama” menjadi baru.

Tentunya kebaruan bisa pula menimbulkan sedikit ketakutan akan timbulnya ketidakpastian baru.

Therefore, allow me to share a nice story that I read this morning:

After Observing O Sensei, the founder of Aikido, sparring with an accomplished fighter, a young student said to the master: “You never lose your balance, what is your secret?”
“You are Wrong”, O Sensei Replied, “I am constantly losing my balance. My skill lies in my ability to regain it“.

Dengan terus membarukan pengetahuan kita, maka kita akan memiliki kemampuan untuk cepat untuk beradaptasi.

Happy New Year 2012

May we keep on learning by trying new things, even finding new “old” things.

Menciptakan Ketakutan

I must not fear. Fear is the Mind Killer. (Frank Helbert in “Dune”)

Mengamati permasalahan partai besar pemenang pemilu yang sedang disorot media massa beberapa waktu ini, seperti mengamati drama dengan berbagai adegan babaknya. Yang hebatnya adalah dramanya tidak jelas apakah drama romantis, drama komedi, drama musikal, atau jenis drama lainnya. Tetapi yang jelas ada beberapa adegan yang mirip tujuan sebuah drama horror, yaitu bermain dengan ketakutan.

Ketakutan memang luar biasa. Dari tingkat personal, dia bisa membuat kita mengubah prioritas kehidupan kita. Sejak anda kecil, anda juga dilatih dan belajar dari ketakutan, “awas lho, kalau makanannya nggak habis nanti kamu dimarahin ….” (silahkan diisi: polisi, setan, badut, petruk, atau hal-hal yang bisa menakutkan). Pada tingkat kelompok, ketakutan bisa menyatukan semua anggota kelompok menjadi satu kesatuan komando, tanpa adanya bantahan sedikit pun. Bahkan pada tingkat negara, Michael Crichton pernah menuliskan sebuah novel berjudul “state of fear”, yaitu ketika negara atau kelompok tertentu menciptakan dan mengkampanyekan ketakutan untuk menggoalkan kepentingannya. Dalam film Michael Moore, Capitalism: A love story, yang membahas tentang dampak negatif kapitalisme di Amerika, juga membahas tentang bagaimana lobby orang-orang kaya wall street untuk menciptakan suasana “memaksa” konggres/dpr menggunakan pajak uang rakyat untuk menalangi kerugian mereka.

Lanjutkan membaca “Menciptakan Ketakutan”

Apa yg anda putuskan tidak-anda-lakukan adalah hal yg penting

Membaca artikel tentang Steve Jobs dan filosofi designnya di Apple yg saat ini produknya sedang mendominasi mobile computing dan gosipnya menyudahi era PC untuk masuk ke era tablet, ada satu pernyataan yg menarik dari Guru Apple ini:

‘It is what you decide NOT to do that matters’

Filosofi design ini ternyata mendorong fungsi-fungsi sederhana tapi brillian yang ada dalam produk-produk Apple (note: walaupun saya sangat menghargai Apple, tapi saya bukan pengguna produknya). Hingga kini produk Apple tidak datang dengan manual yg tebal, dia sangat spesifik memenuhi kebutuhan generik penggunanya. (Spesifik ke Generik). Sehingga bagi para maniak teknologi mungkin produk Apple menjadi terkesan ‘terbatas’ atau terkukung. Saya menggunakan Apple sebagai contoh untuk menjelaskan ‘simplicity is the ultimate sophistication’, yaitu upaya untuk membuat sederhana terkadang membuat kita harus berusaha keras untuk mencapainya.

Dalam proses pemecahan masalah, biasanya ada tahapan dimana kita memiliki banyak alternatif sumber permasalahan serta kemudian banyak alternatif pemecahan permasalahan. Kita harus memilih atau menyeleksinya, hanya saja fokusnya biasanya untuk memilih yang “terbaik”, kemudian meluakan yang lainnya. Saran saya: jangan lupakan yang tidak terpilih, simpan dan gunakan sebagai bahan olahan, walau bagaimanapun sebuah proses eliminasi seharusnya tidak hanya untuk mendapatkan yang terbaik tetapi memberikan kesempatan bagi proses pemahaman terhadap semua alternatif yang ada dan kenapa tidak memilihnya.

Dalam penyusunan rencana strategis perusahaan misalnya, fase terpenting bukanlah selesainya dokumen renstra, tetapi proses eliminasi yang membahas berbagi asumsi, berbagai alternatif, dan berbagai tantangan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua elemen organisasi, sehingga jikapun apa yang dipilih dalan dokumen renstra tidak terjadi, tetapi melalui proses tadi, semuanya seolah-olah sudah “berlatih” untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dalam teori sistem, dikenal pula kategori kompleksitas detail, yaitu kompleksitas akibat banyaknya komponen. Sebuah sistem yang ingin mengakomodasi banyak keinginan dan pandangan, pasti akan berkembang untuk memiliki kompleksitas tinggi akibat banyaknya “komponen” atau variasi. Orang tua mungkin akan bingung melihat handphone yang saat ini sudah bisa merekam video, foto, main game dll padahal dulu bisa terima telpon dimana saja sudah ajaib. Bayangkan kalau setiap fungsi telpon punya tombol khusus, mungkin tombol handphone akan sama banyaknya dengan tombol keyboard.

Mengurangi kompleksitas dengan mengurangi komponen adalah tidak mudah, suatu proses yang sebenarnya jauh lebih kompleks dan sulit.

Simplicity is the Ultimate Sophistication “Leonardo Da Vinci”

Namun, belajar dari Apple: kesabaran menjual visi, “memaksa” user untuk berkompromi terhadap keterbatasan yang sekaligus memberikan kebebasan dari kerumitan (aneh yaa, tapi mungkin saya bisa buat artikel tentang ini), atensi terhadap detail yang sangat luar biasa, dll merupakan sebuah inspirasi bahwa pencarian kemudahan adalah suatu hal yang berat namun memungkinkan.

Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri

Topik tentang sustainability yang diterjemahkan bisa ke “keberlanjutan” atau “kelestarian” telah semakin mengemuka di dunia seiring dengan kejadian cuaca buruk dan tidak terduga yang terlihat semakin sering melanda dunia, yang kita rasakan bersama. Terlepas dari kontroversi dan perdebatan tentnag pemanasan global dengan adanya pendapat bahwa peristiwa ini adalah peristiwa “natural” rutin tanpa ada campur tangan manusia, sebagai perekayasa industri, kita semua wajib memasukkan unsur keberlanjutan kedalam fokus perhatian kita.

Kita sadari atau tidak, kita telah menkonsumsi energi dan sumber daya yang semakin lama semakin besar dibandingkan pendahulu kita. Dulu orang membeli daging dengan dibungkus daun singkong (sehingga sampai ada joke kotornya he..he..), sekarang we go to nearest hypermart that use plastics. Plastics use more energy and more non-degradable waste. Jadi adalah tugas kita, untuk menjadi pendahlu dari anak cucu kita, mempertimbangkan gaya hidup dan pendekatan pemecahan masalah. Saya pribadi yakin Perekayasa Industri (Industrial Engineers), memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi pemimpin dalam usaha ini.

Tapi pertanyaan bagi kita semua adalah, apa yang bisa kita lakukan?

Setelah membaca berbagai majalah dan jurnal, dan yang terakhir saya sedang membaca special report dari majalah MIT Sloan Management Review: Sustainability as Competitive Advantage, saya tiba pada pada kesimpulan bahwa peranan kita adalah menggunakan pendekatan dan metode di Teknik Industri untuk sebuah target baru (old proven ways with new indicators)

Lanjutkan membaca “Membumikan Keberlanjutan bagi Teknik Industri”

Ciri-ciri berpikir sistem: Mencari Titik Ungkit

Titik ungkit atau leverage, merupakan salah satu kata yang penting dalam berpikir sistem. Konsep untuk mencari leverage atau titik ungkit dapat dikatakan merupakan ciri khas dalam berpikir sistem yang membedakannya dalam analisa biasa.

Jika kita ingin memindahkan sebuah batu besar dan berat, maka cara yang paling baik mencari papan panjang atau besi panjang, kemudian mencari pijakan titik ungkit (dengan batu kecil atau kayu balok), sehingga kita bisa memanfaatkan perbedaan panjang lengan gaya untuk bisa mengungkit batu tersebut. Titik ungkit bisa kita geser-geser untuk mencari gaya terkecil yang perlu kita berikan tanpa mematahkan papan atau besi yang kita gunakan.

Logika yang sama juga digunakan dalam berpikir sistem, dengan pemahaman secara sistemik terhadap sistem yang ada, yang berarti mengidentifikasikan hubungan-hubungan antara variabel, kita bisa menvari variabel yang dapat memberikan kita hasil ungkit yang signifikan dengan usaha yang tidak besar.

Dalam  Thinking in Systems, karya terakhir dari almarhum Donella Meadows, ditulis ada 12 titik umum yang bisa kita cari dalam sistem yang merupakan kandidat dari titik ungkit, saya akan sajikan 3 diantaranya Lanjutkan membaca “Ciri-ciri berpikir sistem: Mencari Titik Ungkit”

Inovasi dan Teknologi

Ketika saya mendapatkan tugas untuk mengelola sebuah kuliah wajib baru: Manajemen Teknologi, maka saya menjadi teringat kebingungan yang terjadi ketika saya pernah mengambil kuliah yang sama di S2 saya yang berjudul managing innovation and technology. Kebingungan tersebut adalah tentang arti dari inovasi: Apakah inovasi dan penemuan sama (innovation vs invention)? Bagaimana ruang lingkup dan hubungan antara inovasi dan teknologi? Terutama karena ternyata di internet atau judul buku textbook, ada manajemen inovasi sendiri dan manajemen teknologi sendiri, dan ada yang menggabungkannya. Jadi bagaimana? Untung akhirnya saya bisa mendapatkan jawabannya dan akan saya share disini.

Tips utama yang harus anda perhatikan adalah bahwa semua kata-kata ini mirip dan perlu anda lihat dalam konteksnya. Dan penggunaan kedua kata ini di surat kabar dan media merancukan arti dari keduanya, karena media terkadang suka mengambil kata-kata ini tergantung kebutuhan “pasar” (headline mana yang laku), jadi jangan dibuat bingung oleh arti “pasa” ini.

Lanjutkan membaca “Inovasi dan Teknologi”