Apakah berbeda berarti bertentangan?

Istri saya mengemukakan kesimpulan pengamatannya yang menarik ketika makan siang hari ini, yaitu apakah karena kita berbeda pendapat maka kita berarti bertentangan? Sebuah pertanyaan yang menarik pada masa “pendewasaan” kebangsaan Indonesia, yang sedang tumbuh dengan semakin besarnya pengaruh media yang tidak lagi bisa dikatakan netral. (kalau dipikir-pikir, ada nggak yaa di negara manapun dunia ini, yang mengaku demokratis, media nasional yang benar-benar netral?)

Kasusnya sendiri bukan dipicu oleh kasus nasional yang ada saat ini, tetapi lebih “mikro”, yaitu keluhan ibu mertua saya yang bingung sama ketua organisasi sosial yang diikutinya ketika mengambil beberapa keputusan yang memiliki dampak organisasi tetapi tidak melakukan usaha untuk meminimalisasi dampak ini. Bahasa singkatnya: melarang ini itu yang berakibat organisasinya nggak bisa berbuat apa-apa, tetapi tidak ngasih jalan keluar. Ibu mertua saya ingin mendebat atau mengemukakan pendapatnya tetapi takut karena “berbeda” nanti dianggap menantang, apalagi ngerasa sendirian.

Memang dalam dunia politik dan media, kita digiring untuk menjadi lawan atau kawan dari suatu isu, padahal mereka tahu bahwa tidak ada kondisi politik yang benar-benar hitam dan putih, semua memiliki gradasi warna yang halus. Semua yang hitam mengandung putih, semua yang putih mengandung hitam.

Apa artinya? kita seperti sedang diajarkan bahwa berbeda itu berarti menentang, padahal berbeda memiliki pengertian yang jauh beda dengan menentang apalagi menantang. Berbeda adalah berbeda. titik.

Berbeda memiliki makna positif, yaitu ada yang kritis dan ingin mengetahui logika pengambilan keputusan. Berbeda memiliki dampak positif, yaitu membuka kesempatan untuk melakukan dialog dan argumentasi sehat untuk saling mengeksplorasi perbedaan pendapat.

Berikanlah kesempatan untuk berbeda, tanpa harus menganggapnya menentang.

Bisa bukan berarti Boleh

“Menikmati” perjalanan pagi ke kampus beberapa hari yang lalu, saya dihujani oleh pemandangan yang “asyik” dari para pengemudi kendaraan bermotor yang memasuki jalur busway (atau bahasa aslinya dedicated buslane), saya jadi bertanya-tanya, kenapa yaa kok mereka melakukannya?

Sebelumnya perkenalkan prinsip saya dulu, saya punya prinsip pribadi yang mengatakan kalau orang berbuat salah, maka yang pertama kali yang harus saya cari tahu penyebabnya adalah kenapa sistemnya “membiarkan” dia salah, bukan menyalahkan pribadinya terlebih dahulu.

Nah, saya baru sadar bahwa konsep “pencegahan” yang biasa kita lakukan memang cenderung ekstrem, kita mencegah supaya orang tidak bisa melakukannya. Kita belum mencapai titik dimana orang tidak boleh melakukannya. Mirip kalau anak kecil dirumahnya mau dilarang makan permen yang tersaji di meja, buat tamu alasannya. Maka kita menyatakan tidak boleh, kalau si anak ini terdidik dengan baik, memiliki nilai pribadi yang ditanamkan dengan kuat, maka yang terjadi dia akan menuruti larangan tersebut (tidak boleh). Tapi cara lainnya ada, yang tidak bisa, yaitu bagaimana kalau anak tersebut kita ikat atau kita kurung dikamar.

Lanjutkan membaca “Bisa bukan berarti Boleh”

Inovasi dan Teknologi

Ketika saya mendapatkan tugas untuk mengelola sebuah kuliah wajib baru: Manajemen Teknologi, maka saya menjadi teringat kebingungan yang terjadi ketika saya pernah mengambil kuliah yang sama di S2 saya yang berjudul managing innovation and technology. Kebingungan tersebut adalah tentang arti dari inovasi: Apakah inovasi dan penemuan sama (innovation vs invention)? Bagaimana ruang lingkup dan hubungan antara inovasi dan teknologi? Terutama karena ternyata di internet atau judul buku textbook, ada manajemen inovasi sendiri dan manajemen teknologi sendiri, dan ada yang menggabungkannya. Jadi bagaimana? Untung akhirnya saya bisa mendapatkan jawabannya dan akan saya share disini.

Tips utama yang harus anda perhatikan adalah bahwa semua kata-kata ini mirip dan perlu anda lihat dalam konteksnya. Dan penggunaan kedua kata ini di surat kabar dan media merancukan arti dari keduanya, karena media terkadang suka mengambil kata-kata ini tergantung kebutuhan “pasar” (headline mana yang laku), jadi jangan dibuat bingung oleh arti “pasa” ini.

Lanjutkan membaca “Inovasi dan Teknologi”

Comfort Zone

Kita semua pasti memiliki comfort zone (Zona Nyaman) masing-masing. Makna dari kata zona ini adalah bisa berupa sebuah zona geografis yang riil, bisa juga yang tidak riil .

Zona yang riil contohnya adalah rumah kita, tempat bekerja, kota atau negara kita. Kita udah terbiasa di zona ini, kita tahu jalan harus kemana untuk membeli makanan dan stok dapur. Mau beli kertas, tahu angkutan mana yang harus diambil. Jalan ke kampus atau tempat kerja juga yang itu-itu saja.

Zona yang tidak riil (virtual) adalah yang berada didalam otak kita. Jika anda lebih suka mengerjakan yang anda sudah ketahui dan tidak mau menyentuh atau mencoba yang tidak adan ketahui maka inilah contoh lain dari comfort zone yang tidak riil.

Apa yang kita pelajari (pengalaman), apa-yang-kita-tahu (pengetahuan) dan apa-yang-kita-pikir-kita-tahu (imajinasi) adalah yang membangun zona virtual kita. Dizona ini kita akan nyaman. Kita akan merasa bahwa apa yang tidak kita tahu, tidak akan menyakiti kita. dan ini akan mempengaruhi pola persepsi kita dalam memandang masalah, mana yang kita anggap penting atau tidak penting.

Lanjutkan membaca “Comfort Zone”

Tentang Kompetensi Soft-skills Lulusan Teknik Industri (Apa itu Soft Skills?)

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan sebuah hal yang sedang diketengahkan dewasa ini sebagai akibat UU Sistem Pendidikan Nasional yang mensyaratkan bahwa sebuah program pendidikan harus mengacu kepada standar ini.

SKL secara tidak langsung meminta pendidikan tinggi untuk market-oriented, karena konsep kompetensi merupakan sesuatu hal yang sebenarnya didorong oleh kebutuhan industri di lapangan. Sehingga dalam tulisan ini kita tidak akan melakukan perdebatan klasik tentang apakah pendidikan tinggi market-oriented atau research-oriented atau jika kedua-duanya mungkin.

Yang menarik mengikuti proses penentuan SKL ini untuk teknik industri adalah ketika ada tahapan untuk melakukan visitasi ke Industri untuk mendapatkan masukan tentang lulusan teknik industri yang telah bekerja, permasalahan yang klasik muncul kembali, yaitu soft-skills.

Seluruh industri secara relatif memandang untuk perguruan tinggi (terutama di Jawa) mereka tidak memiliki masalah dalam kompetensi teknis, tetapi dari sisi kompetensi non-teknis mereka tetap mendapatkan masih banyak kelemahan yang sering disebut sebagai soft-skills.

Apa sebenarnya soft-skills? Di Teknik Industri UI ada sebuah mata kuliah pilihan Keterampilan Interpersonal, yang ketika disusun konten dari perkuliahan ini, timbul pertanyaan ini. Akhirnya kita membagi 2 softskills, yaitu personal skills dan interpersonal skills.

Personal Skills merupakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik. Ini lebih ke arah self development yang mencakup personal time management, problem solving skills, research skills, kreativitas, learning capability (learn to learn … effectively), Team Thinks (kemampuan untuk berpikir sebagai bagian dari tim)

Interpersonal Skills merupakan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan dengan orang lain, baik orang lain secara individu (one to one) atau sebagai audiens (one to many). Ini yang mencakup negosiasi, interview, sikap dan penampilan yang sesuai dengan situasi, listening skills, public speaking and presentation, effective meetings, writing reports and proposals, project management, working with teams, and etc.

Apa itu Kompetensi?

Tulisan ini merupakan serangkaian tulisan, dalam rangka mendefinisikan Standard Kompetensi Lulusan Teknik Industri, yang diamanatkan oleh UU Sistem Pendidikan Nasional.

Dulu ada senior saya yang menterjemahkan kompetensi menjadi ke”bisa”an. Penterjemahan ini menarik, karena “bisa” melakukan suatu tugas memang merupakan salah satu bukti bahwa anda memiliki kompetensi dalam melakukan tugas tersebut. Tetapi “bisa” merupakan sebenarnya merupakan penilaian dari kompetensi, bukan kompetensi itu sendiri.

Untuk bisa melakukan sesuatu di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) – PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.

Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap. Lanjutkan membaca “Apa itu Kompetensi?”

Apa itu Systems Engineering

Systems Engineering diindonesiakan pertama kali dengan sebutan Teknik Sistem, walaupun secara arti sebenarnya lebih tepat jika digunakan pengindonesiaan berupa rekayasa sistem, tetapi memang kata rekayasa itu memiliki konotasi negatif, sehingga istilah rekayasa banyak ditinggalkan. Walaupun demikian, dalam tulisan ini kita akan menggunakan rekayasa sistem sebagai penterjemahan istilah Systems Engineering.

Rekayasa sistem adalah kumpulan konsep, pendekatan dan metodologi, serta alat-alat bantu (tools) untuk merancang dan menginstalasi sebuah kompleks sistem. Kompleksitas sistem bisa diakibatkan karena 2 hal yaitu kompleksitas dinamis dan kompleksitas detail (baca artikel berikut). Kompleksitas detail ketika komponen atau sub-sistem yang dirancang tidak hanya banyak tetapi ditambah pula dengan multi-sourcing (multi suplier), multi standard, multi criteria dan lainnya.

Rekayasa sistem dewasa ini, terutama di Amerika, lekat dengan dunia militer, karena produk-produk militer memang memiliki kriteria akan kompleksitas detail seperti ini, misalnya pesawat tempur, kapal induk, sistem pertahanan rudal patrior dsb, dimana timbul kombinasi yang kompleks antara sub-sistem mekanis, sub-sistem elektronik dan sub-sistem manusia.

Disiplin ilmu sistem engineering sendiri dewasa ini sedang berevolusi untuk mencari jati diri. Sebagian besar masih bergabung dengan bidang ilmu lainnya seperti biologi, teknik industri, teknik komputer, teknik kimia (instalasi sebuah processing plant membutuhkan skill rekayasa sistem). Di teknik industri UI, rekayasa sistem menjelma menjadi sebuah kelompok keahlian yang berfokus kepada kompleksitas dinamis, yaitu kompleksitas akibat banyaknya alternatif kejadian yang terjadi pada setiap keputusan atau pergerakan sistem tadi.