Have you asked a good question today?

Dalam kuliah yang saya kelola beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba dalam diskusi bersama di kelas tersebut saya tergelitik pertanyaan kepada mahasiswa saya, “Siapa di antara anda, selama masa kuliah 3 tahun terakhir, tidak pernah mengajukan pertanyaan didalam kelas?” dan sangat mencengangkan hampir lebih 50% kelas menunjukkan muka terkejut dan takut untuk mengangkat tangan. Dari pengalaman saya mengelola kelas, harus diakui bahwa ketika saya menanyakan “apakah ada yang mau bertanya?” hanya muka-muka yang itu-itu saja yang mengajukan pertanyaan. Apalagi dalam kelas saya yang berbahasa inggris, tidak ada muka yang tampak.

Pertanyaan adalah menunjukkan bahwa pikiran anda sedang mengolah sesuatu, dan menemukan ada beberapa hal yang tidak cocok satu dengan yang lain, ada yang tidak anda pahami, atau menimbulkan kebingungan. Sehingga bingung dalam sebuah kelas selalu saya pandang positif, karena berarti terjadi proses pemikiran.

Secara keseluruhan dosen-dosen anda adalah orang-orang yang pasti memiliki pengalaman yang lebih banyak, tetapi kita menggunakan slide terbatas yang kita siapkan sebelumnya karena ketika mengajar karena kita takut melupakan materi yang wajib diajarkan. Ketika anda bertanya, itu menimbulkan pemicu didalam pengalaman atau pengetahuan yang tidak akan dikeluarkan karena lupa atau tidak sadar bahwa itu berguna atau berkaitan dengan materi. Pasti ada beberapa dosen anda yang bisa menjadi tambang pengetahuan, tetapi anda harus “memukulnya” untuk mendengarkan suaranya.

Bagaimana caranya mendapatkan pertanyaan yang bagus? Beberapa ide berikut

Lanjutkan membaca “Have you asked a good question today?”

Tentang Kompetensi Soft-skills Lulusan Teknik Industri (Apa itu Soft Skills?)

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan sebuah hal yang sedang diketengahkan dewasa ini sebagai akibat UU Sistem Pendidikan Nasional yang mensyaratkan bahwa sebuah program pendidikan harus mengacu kepada standar ini.

SKL secara tidak langsung meminta pendidikan tinggi untuk market-oriented, karena konsep kompetensi merupakan sesuatu hal yang sebenarnya didorong oleh kebutuhan industri di lapangan. Sehingga dalam tulisan ini kita tidak akan melakukan perdebatan klasik tentang apakah pendidikan tinggi market-oriented atau research-oriented atau jika kedua-duanya mungkin.

Yang menarik mengikuti proses penentuan SKL ini untuk teknik industri adalah ketika ada tahapan untuk melakukan visitasi ke Industri untuk mendapatkan masukan tentang lulusan teknik industri yang telah bekerja, permasalahan yang klasik muncul kembali, yaitu soft-skills.

Seluruh industri secara relatif memandang untuk perguruan tinggi (terutama di Jawa) mereka tidak memiliki masalah dalam kompetensi teknis, tetapi dari sisi kompetensi non-teknis mereka tetap mendapatkan masih banyak kelemahan yang sering disebut sebagai soft-skills.

Apa sebenarnya soft-skills? Di Teknik Industri UI ada sebuah mata kuliah pilihan Keterampilan Interpersonal, yang ketika disusun konten dari perkuliahan ini, timbul pertanyaan ini. Akhirnya kita membagi 2 softskills, yaitu personal skills dan interpersonal skills.

Personal Skills merupakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik. Ini lebih ke arah self development yang mencakup personal time management, problem solving skills, research skills, kreativitas, learning capability (learn to learn … effectively), Team Thinks (kemampuan untuk berpikir sebagai bagian dari tim)

Interpersonal Skills merupakan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan dengan orang lain, baik orang lain secara individu (one to one) atau sebagai audiens (one to many). Ini yang mencakup negosiasi, interview, sikap dan penampilan yang sesuai dengan situasi, listening skills, public speaking and presentation, effective meetings, writing reports and proposals, project management, working with teams, and etc.

Kenapa ada 7 Tools of Quality & 7 New Tools of Quality?

7 Tools of Quality dan 7 New Tools of Quality merupakan kumpulan alat-alat yang dipakai dalam manajemen kualitas yang biasanya digunakan bagi yang menerapkan metodologi 7 Steps of Quality Improvement (jadi 7-7-7), seperti jenis pesawat penumpang merk Boeing. Di Indonesia, dikenal istilah TULTA (Tujuh Langkah Tujuh Alat)

Sebenarnya pengelompokan ini beraneka ragam, untuk metodologi Six Sigma, pengelompokan alat dikenal 2 kelompok, basic statistical tools dan advanced statistical tools. Dalam kelompok-kelompok tersebut juga terdapat 7 tools of quality dan 7 new tools of quality, hanya terkadang diberi nama berbeda. Dalam buku Quality Toolbox yang dikeluarkan oleh ASQ, diidentifikasi lebih dari 100 tools yang bisa digunakan untuk melakukan peningkatan kualitas.

Konsep alat (tools) adalah membantu langkah-langkah penerapan metodologi, jadi ketika anda sedang melakukan urutan langkat tertentu, apa yang anda butuhkan dapat disediakan dari hasil sebuah alat atau kombinasi beberapa alat.

Bayangkan anda ingin membuat sebuah lemari kayu langsung dari pohon didekat rumah anda. Anda tentunya merencanakan terlebih dahulu langkah-langkah yang harus dilakukan. Misalnya kita sederhanakan menjadi 3 langkah utama (1) desain lemari kayu (2) mendapatkan bahan dan material setengah jadi (3) merakit lemari kayu. Langkah (1) desain lemari kayu, tentunya anda perlu tahu untuk apa lemari tersebut, sehingga anda bisa saja menggunakan check-sheet, questionnaire, focus group discussion untuk mendapatkan dasar desain lemari kayu tersebut. Anda juga akan butuh meteran, pensil, dsb untuk membuat gambarnya. Langkah (2) anda membutuhkan tali, gergaji, kapak, dsb untuk mendapatkan kayu papan dan bentuk kayu lainnya untuk membuat lemari. Langkah (3) anda butuh palu, kuas dsb untuk menyelesaikan lemari kayu tersebut.

Lanjutkan membaca “Kenapa ada 7 Tools of Quality & 7 New Tools of Quality?”

Tips Problem Statement (Bg. 2)

Susunlah Problem Statement dalam bentuk pertanyaan

Pertanyaan ibarat sebuah "lubang" di dalam rumah anda, lubang itu "menarik" anda untuk untuk mengisinya, karena memandang lubang itu pasti membuat anda kesal karena memprediksi nanti ada yang kesandung. Jika seseorang bertanya kepada anda, maka anda akan berpikir untuk menjawab pertanyaannya. Artinya, pertanyaan membuat kita berpikir

Sebuah problem statement yang berbentuk pertanyaan akan memfokuskan solusi yang ingin anda dapatkan.

Apakah anda ingin mendapatkan cara? Gunakanlah kata tanya How – Bagaimana caranya?, apa langkah yang harus dilakukan?

Apakah anda baru ingin mendapatkan pemahaman lebih dalam? Gunakanlah kata tanya Who, When dan Where – Dimanakah? Siapa saja yang berperan? Kapan?

Apakah anda ingin mencari penyebabnya? Jika ya, gunakanlah kata why – Mengapa? Kenapa? Apa penyebabnya? Apa akibatnya? Dalam ilmu kualitas dalam mencari akar permasalahannya anda disarankan menanyakan "Mengapa" sebanyak 5 tingkat untuk setiap mengapa pada tingkat pertama.

 

Cobalah cari definisi dari setiap kata kunci yang akan anda gunakan dalam problem statement

Apa arti kata "analisa", apa arti kata "sasaran", apa arti beda "target" dan "tujuan" dst. Di google biasanya kita bisa menggunakan perintah "define:" walaupun hanya untuk bahasa inggris

Dengan mencari definisi dari sebuah kata atau menghighlight perbedaan definisi terkadang memberikan ide menyusun problem statement.

Selain itu juga akan menghindari terjadinya perbedaan interpretasi dari problem statement yang anda tuliskan. Kata "target" dan "tujuan" sering diartikan sama, padahal secara definisi berbeda. Try find "define: target" dan "define: aim"

Tips Tambahan Lain

  • Problem Statement bukanlah statement yang menyatakan ketiadaan sesuatu merupakan sebuah problem. Seolah-olah kesannya ketiadaan solusi anda merupakan masalah, dan solusi anda menjawab permasalahan tersebut. Misalnya ketidakadaan skedul pembelian yang baik merupakan sumber permasalahan, jadi butuh skedul. Problem Statement seperti ini terkesan anda dari awal sudah memiliki praduga bersalah dan tidak mulai dari kertas kosong bersih.

Apa itu Kompetensi?

Tulisan ini merupakan serangkaian tulisan, dalam rangka mendefinisikan Standard Kompetensi Lulusan Teknik Industri, yang diamanatkan oleh UU Sistem Pendidikan Nasional.

Dulu ada senior saya yang menterjemahkan kompetensi menjadi ke”bisa”an. Penterjemahan ini menarik, karena “bisa” melakukan suatu tugas memang merupakan salah satu bukti bahwa anda memiliki kompetensi dalam melakukan tugas tersebut. Tetapi “bisa” merupakan sebenarnya merupakan penilaian dari kompetensi, bukan kompetensi itu sendiri.

Untuk bisa melakukan sesuatu di dalam dunia pendidikan kita mengenal yang disebut kombinasi dari KSA (Knowledge Skills dan Attitude) – PKS (Pengetahuan Keterampilan dan Sikap). Kemampuan untuk meramu KSA sehingga bisa diimplementasikan untuk melaksanakan tugas merupakan kompetensi. Saya pribadi lebih menyukai istilah KSB (Knowledge Skill Behavior) atau PKP (Pengetahuan Ketrampilan Perilaku) karena perilaku merupakan perwujudan nyata dari attitude atau sikap.

Kebutuhan akan sebuah kata kompetensi sebenarnya adalah lahir dari kebutuhan bagian sumber daya manusia untuk mendapatkan sebuah deskripsi abstrak terhadap ramuan KSB dalam kerangka sebuah tugas atau pekerjaan tertentu. Harus diakui, tidak pernah ada sebuah tugas atau pekerjaan yang tidak mengandung unsur KSB. Anda menghitung uang saja misalnya, ada unsur kejujuran disitu yang merupakan sebuah perilaku atau sikap. Lanjutkan membaca “Apa itu Kompetensi?”

Apa itu Systems Engineering

Systems Engineering diindonesiakan pertama kali dengan sebutan Teknik Sistem, walaupun secara arti sebenarnya lebih tepat jika digunakan pengindonesiaan berupa rekayasa sistem, tetapi memang kata rekayasa itu memiliki konotasi negatif, sehingga istilah rekayasa banyak ditinggalkan. Walaupun demikian, dalam tulisan ini kita akan menggunakan rekayasa sistem sebagai penterjemahan istilah Systems Engineering.

Rekayasa sistem adalah kumpulan konsep, pendekatan dan metodologi, serta alat-alat bantu (tools) untuk merancang dan menginstalasi sebuah kompleks sistem. Kompleksitas sistem bisa diakibatkan karena 2 hal yaitu kompleksitas dinamis dan kompleksitas detail (baca artikel berikut). Kompleksitas detail ketika komponen atau sub-sistem yang dirancang tidak hanya banyak tetapi ditambah pula dengan multi-sourcing (multi suplier), multi standard, multi criteria dan lainnya.

Rekayasa sistem dewasa ini, terutama di Amerika, lekat dengan dunia militer, karena produk-produk militer memang memiliki kriteria akan kompleksitas detail seperti ini, misalnya pesawat tempur, kapal induk, sistem pertahanan rudal patrior dsb, dimana timbul kombinasi yang kompleks antara sub-sistem mekanis, sub-sistem elektronik dan sub-sistem manusia.

Disiplin ilmu sistem engineering sendiri dewasa ini sedang berevolusi untuk mencari jati diri. Sebagian besar masih bergabung dengan bidang ilmu lainnya seperti biologi, teknik industri, teknik komputer, teknik kimia (instalasi sebuah processing plant membutuhkan skill rekayasa sistem). Di teknik industri UI, rekayasa sistem menjelma menjadi sebuah kelompok keahlian yang berfokus kepada kompleksitas dinamis, yaitu kompleksitas akibat banyaknya alternatif kejadian yang terjadi pada setiap keputusan atau pergerakan sistem tadi.

Skala Kapasitas yang Besar untuk merancang Sistem Pelayanan di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke GraPari Telkomsel yang terletak di jl. Gatot Soebroto Jakarta untuk mendapatkan nomor kartu halo baru untuk kepentingan internet. Yang menarik adalah ketika saya harus mengambil waktu antrian dengan memasukkan nomor handphone saya ke dalam touchscreen sebuah stasiun antrian, sudah “diingatkan” bahwa saya akan menunggu lebih kurang 1 jam 20sekian-menit dengan rata-rata waktu layanan yang ada saat itu. Saya kira bercanda tuh stasiun, artinya dengan urutan masih 50 orang tapi dilayani oleh 10an stasiun layanan, asumsi saya stasiun itu hanya mengambil waktu terlama untuk “mengagetkan” atau “mengusir” saya jika tidak punya waktu. Ternyata stasiun itu “benar”! Saya harus menunggu kurang lebih selama itu, sehingga hampir semua sudut GraPari sudah saya dekati dan amati saking bosennya menunggu.

GraPari kelihatannya memang merupakan representasi dari telkomsel langsung, jadi akun-akun pelanggan yang ber”masalah” harus dibenahi di GraPari (terutama pengguna postpaid kartHalo). Lain dengan konsep Gerai Halo yang kelihatannya menggunakan konsep franchise dan lebih kearah sales. Apa artinya? Tentunya seharusnya sudah dapat diprediksi bahwa akan terjadi ledakan penggunaan GraPari pada waktu-waktu tertentu.

Pengalaman yang sama juga saya alami di XL Center, Plaza Semanggi ketika mengantarkan istri saya kesana. Kami harus menunggu kurang lebih 35 menit untuk mendapatkan jawaban tidak bisa, sehingga akhirnya kita memutuskan untuk menutup nomor explor XL. Yaa memang semua hal yang murah biasanya memang memiliki layanan yang sesuai dengan “kemurahan” hati saja.

Mirip dengan cerita tukang becak sewaktu saya tinggal di surabaya dulu, kalau sudah naik becak dan menawar abis dengan abang becaknya, maka kalau ada apa-apa dijalan kita ndak boleh komplain “Minta murah kok, juga minta selamat (Njalok murah kok arep njalok selamet)” Lanjutkan membaca “Skala Kapasitas yang Besar untuk merancang Sistem Pelayanan di Indonesia”