Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?

Coba bayangkan skenario ini. Seorang mahasiswa S2, duduk di depan laptopnya jam 10 malam sebelum deadline tugas kuliah berpikir sistem untuk menyusun Causal Loop Diagram (CLD). Causal Loop Diagram (CLD) adalah sebuah alat visual untuk memahami hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem, terutama bagaimana variabel saling memengaruhi melalui feedback loops (lingkaran umpan balik). Diagram ini sering digunakan dalam system thinking untuk mengidentifikasi pola, lingkaran setan (vicious cycles), atau lingkaran baik (virtuous cycles) dalam dinamika organisasi, bisnis, maupun fenomena sosial.

Alih-alih membuka buku teks atau mengulang materi kuliah, ia membuka ChatGPT, mengetik deskripsi masalah yang diberikan dosennya, dan dalam dua menit mendapatkan causal loop diagram lengkap dengan penjelasan feedback loop positif dan negatifnya.

Hasilnya? Cukup masuk akal. Tidak jenius, tapi cukup. Mungkin 75 persen dari apa yang akan dihasilkan mahasiswa yang belajar serius selama satu semester.

Pertanyaannya kemudian menjadi tidak nyaman: jadi apa gunanya kita mengajarkan systems thinking ketika analisa complex yang biasa dilakukan bisa digantikan oleh AI?

Lanjutkan membaca “Kalau AI Bisa Menganalisis Sistem, Kenapa Kita Masih Perlu Mengajarkan Systems Thinking?”

Kecelakaan Kerja: Kesalahan Manusia atau Kesalahan Sistem

Ketika musibah terjadi, maka adalah sebuah respons umum bahwa kita akan mencari kesalahan yang menyebabkan musibah itu terjadi. Kita merasa marah dan ingin rasa marah kita diobati dengan menghukum siapa yang salah. Perhatikan kalimat sebelumnya, “siapa” yang salah. Artinya kita akan masuk kedalam mode mencari kesalahan manusia.

Berbagai teori dan komentator bergerak untuk memberikan analisa tentang kesalahannya. Masing-masing akan bergerak sesuai dengan bidang ilmunya dan agenda yang ingin disampaikan. Tidak usah saya sebutkan kembali, namun kita bisa melihat komentar secara politik, keteknikan/rekayasa, profesi insinyur, keagamaan (hukuman dari Atas katanya), dan lain sebagainya. Beberapa komentar diberikan dengan baik, sehingga kita mungkin menjadi bingung kok masalahnya jadi banyak dan semuanya bener sebagai masalah, lalu sudah diketahui atau diprediksi sebelumnya, tapi kok tidak ada solusi sebelumnya yang diterapkan. Lha terus siapa yang harus dihukum? pimpinan politik, pimpinan negara, tokoh agama, organisasi profesi?

Mari kita tinggalkan dulu emosi untuk mendapatkan siapa, dan memberikan jarak kepada kecelakaan yang terjadi, lalu melihat kembali apakah kesalahan yang terjadi murni karena manusia yang salah, atau sistem yang membiarkan manusia tersebut melakukan kesalahan. Di Teknik Industri dan Sistem, kita tahu bahwa manusia, secara inheren, memiliki potensi melakukan kesalahan. Sehingga kita sebagai perekayasa Industri dan sistem, wajib untuk menciptakan sistem yang mengurangi kemungkinan kesalahan yang terjadi. Jika sistem sudah dirancang tetap membuat manusia melakukan kesalahan, maka evaluasi wajib dilakukan di tingkat sistem terlebih dahulu, sebelum akhirnya melihat apakah memang manusianya yang tidak menepati sistem yang dirancang.

Kesalahan manusia mudah solusinya, ganti saja manusianya. Namun kesalahan sistem, maka jauh lebih sulit, karena anda mengganti orang pun, maka kesalahan akan tetap terjadi dan berulang terjadi.

Kombinasi Pola Berpikir dalam Berpikir Sistem

Jika membahas tentang berpikir sistem, sering orang menduga bahwa berpikir sistem itu adalah sebuah pola berpikir baru yang revolusioner yang berbeda dibandingkan dengan pola yang sudah ada. Ternyata pada kenyataannya pola berpikir sistem adalah pola kombinasi dari berbagai pola yang sudah ada. Lalu apa yang baru dong? Kombinasi yang pas terhadap berbagai pola berpikir lainnya lah yang membuat pola berpikir sistem itu berbeda.

Seperti nasi goreng, sebuah makanan khas Indonesia yang sedang dipromosikan di dunia. Kombinasi yang pas akan menentukan rasa enak yang kita dapatkan di warung favorit nasi goreng kita. Itupun masih ada variasi-variasi hebat lainnya, seperti nasi goreng teri, trasi, seafood dan jangan lupa .. spesial pake telor.

Jadi pola berpikir apa saja yang minimal ada dalam berpikir sistem? Menurut Barry Richmond, sebenarnya ada 7 Essential Thinking Skills untuk dikombinasikan menjadi berpikir sistem: dynamic thinking, systems-as-cause thinking, forest thinking, operational thinking, closed-loop thinking, quantitative thinking dan scientific thinking.

Lanjutkan membaca “Kombinasi Pola Berpikir dalam Berpikir Sistem”

Apa itu Service Systems Engineering (SSE)?

Tulisan ini sebagai tulisan lanjutan dari  artikel tentang pendefinisian ulang teknik industri untuk menjelaskan fokus pendidikan Teknik Industri di Universitas Indonesia. Setiap Perguruan Tinggi Teknik Industri di Indonesia sebenarnya akan beradaptasi dan memiliki warna yang tergantung dengan kebutuhan, tuntutan serta peluang yang terjadi pada komunitas tempat pendidikan berlangsung. Sebuah fenomena yang sama juga terjadi di negara asal teknik industri, yaitu Amerika. Namun tentunya, ciri-ciri sebagai perekayasa Industri secara dasar harus tetap ada, sehingga warna biasanya terlihat bukan hanya dari kurikulum, namun dari fokus materi dan tugas perkuliahan yang terjadi.

SSE Explanation Slide

Evolusi Perkembangan Teknik Industri

Pada awal berdirinya, teknik industri yang umumnya berasal dari teknik mesin memang berfokus kepada bagaimana meningkatkan proses manufaktur sehingga meningkat produktivitasnya.Pada masa awal ini, perekayasa industri sadar bahwa pendekatan mekanistis (mechanical approach) memiliki keterbatasan maksimum peningkatan produktivitas yang bisa diraih, sehingga mereka beralih ke pendekatan yang multi perspectif namun terintegrasi dengan menggunakan singkatan sederhana 5M: manusia, mesin, material, metode dan money. Lanjutkan membaca “Apa itu Service Systems Engineering (SSE)?”

Memori Masa Depan

Memori masa depan terdengar aneh bagi kita semua, karena biasanya memori adalah ingatan akan masa lampau. Mana mungkin kita memiliki sebuah memori kalau hal itu belum terjadi?

Pernah melihat sebuah drama teater? Para pemainnya berlatih setiap saat sebelum pertunjukkan untuk menciptakan memori masa depan, sehingga ketika drama dilangsungkan didepan panggung mereka langsung memainkan perannya. Mereka menghafalkan dialog, lokasi adegan,  dan lain-lain untuk menyajikan tontonan yang terbaik bagi penonton.

Ternyata pada kenyataannya kita semua memiliki memori masa depan. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Ingver terhadap otak manusia, ditemukan bahwa manusia setiap saat melakukan pembentukan alternatif-alternatif kejadian di masa yang akan datang dan rencana persiapan untuk mengatasi setiap alternatif yang diciptakan tadi. (Mirip yaa dengan proses pemodelan dan simulasi).

Lanjutkan membaca “Memori Masa Depan”

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Cari, Perjelas, dan Sejajarkan Tujuan Sistem

Sistem memiliki tujuan. Sadari bahwa tujuan bersifat dinamis. Dinamis berarti berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya, dinamis terjadi akibat umpan balik dari lingkungannya. Perubahan lingkungan ini mencakup berjalannya waktu, perubahan lokasi, perubahan struktur fisik maupun non-fisik dan perubahan lain yang signifikan merupakan umpan balik.

Carilah tujuan sistem saat ini. Apakah tujuan sistem merupakan evolusi dari tujuan lalu? Bagaimana tujuan sistem nantinya? Apakah tujuan sistem berubah pada lokasi yang berbeda (contoh: apakah tujuan dari kantor pusat, diterjemahkan berbeda pada kantor cabang). Apakah tujuan juga berbeda-beda antara tujuan bersama (tujuan organisasi) dengan tujuan individu?

Perjelaslah tujuan. Komunikasi verbal maupun tulisan memiliki keterbatasan dalam menyampaikan informasi. Semua kata bisa memiliki lebih dari 2 makna. Kata “rekayasa” yang pernah menjadi kata utama pengganti “engineering”, telah diberikan stigma negatif ketika digunakan oleh media massa untuk menggambarkan suatu proses yang tidak baik. Hingga sekarang dunia engineering, masih kebingungan menemukan kembali apa yaa kata yang tepat yang menunjukkan rekayasa. Jadi perjelaslah tujuan, termasuk memperjelas interpretasi dari tujuan. Gunakan 7-7-7 rules dalam komunikasi, ulangi pesan dengan 7 kali dengan 7 cara melalui 7 media berbeda.

Sejajarkan tujuan sistem. Terkadang kita lupa bahwa setelah organisasi menetapkan tujuan baru dalam sebuah rencana strategis, maka langkah terpenting adalah “menyelaraskan” tujuan, yaitu suatu proses komunikasi, sehingga terjadi pergeseran tujuan yang masih sejajar dan pelemahan terhadap tujuanyang bertentangan. Hal ini penting sehingga tidak ada interpretasi yang terlalu berbeda terhadap tujuan sehingga bisa melambatkan arah. Mirip dengan aturan keluar masuk bus, biasanya yang turun di dahulukan baru yang naik. Apa yang terjadi jika interpretasinya beda?

Apakah berbeda berarti bertentangan?

Istri saya mengemukakan kesimpulan pengamatannya yang menarik ketika makan siang hari ini, yaitu apakah karena kita berbeda pendapat maka kita berarti bertentangan? Sebuah pertanyaan yang menarik pada masa “pendewasaan” kebangsaan Indonesia, yang sedang tumbuh dengan semakin besarnya pengaruh media yang tidak lagi bisa dikatakan netral. (kalau dipikir-pikir, ada nggak yaa di negara manapun dunia ini, yang mengaku demokratis, media nasional yang benar-benar netral?)

Kasusnya sendiri bukan dipicu oleh kasus nasional yang ada saat ini, tetapi lebih “mikro”, yaitu keluhan ibu mertua saya yang bingung sama ketua organisasi sosial yang diikutinya ketika mengambil beberapa keputusan yang memiliki dampak organisasi tetapi tidak melakukan usaha untuk meminimalisasi dampak ini. Bahasa singkatnya: melarang ini itu yang berakibat organisasinya nggak bisa berbuat apa-apa, tetapi tidak ngasih jalan keluar. Ibu mertua saya ingin mendebat atau mengemukakan pendapatnya tetapi takut karena “berbeda” nanti dianggap menantang, apalagi ngerasa sendirian.

Memang dalam dunia politik dan media, kita digiring untuk menjadi lawan atau kawan dari suatu isu, padahal mereka tahu bahwa tidak ada kondisi politik yang benar-benar hitam dan putih, semua memiliki gradasi warna yang halus. Semua yang hitam mengandung putih, semua yang putih mengandung hitam.

Apa artinya? kita seperti sedang diajarkan bahwa berbeda itu berarti menentang, padahal berbeda memiliki pengertian yang jauh beda dengan menentang apalagi menantang. Berbeda adalah berbeda. titik.

Berbeda memiliki makna positif, yaitu ada yang kritis dan ingin mengetahui logika pengambilan keputusan. Berbeda memiliki dampak positif, yaitu membuka kesempatan untuk melakukan dialog dan argumentasi sehat untuk saling mengeksplorasi perbedaan pendapat.

Berikanlah kesempatan untuk berbeda, tanpa harus menganggapnya menentang.