Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara

Dalam berpikir sistem kita menyadari bahwa sebuah data yang sama bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang berbeda. Illustrasi yang sering saya berikan di kelas adalah pengalaman pribadi saya ketika mengantar seorang professor dari Jepang yang ingin melihat langsung pasar “tradisional” di Indonesia. Ketika saya malu mengantarkan dia berdarmawisata di pasar, dia dengan santai mengatakan kepada saya, “you are lucky, you have so many rooms of improvement here” : Anda beruntung, anda punya banyak sekali kesempatan untuk memperbaiki disini. Kebetulan profesor ini juga seorang ahli kualitas, dan mencari topik kualitas di negara dia mungkin lebih “sulit” daripada di negara kita. Jadi: Same Data, Different Conclusion.

Proses pengambilan kesimpulan ini disebut proses tangga inferensial (ladder of inference), yaitu dari data yang netral ke proses-proses pengolahan data yang sangat subyektif dan terkadang emosional. Inferensial didefinisikan adalah prose pengambilan keputusan dari data yang kita berikan. Kita akan membahas proses-proses selanjutnya dalam tulisan yang lain, tetapi saya ingin memulainya dengan proses awal yang sangat penting yaitu ketika data pertama kali hadir didepan kita untuk kita simpulkan.

Lanjutkan membaca “Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara”

Bisa bukan berarti Boleh

“Menikmati” perjalanan pagi ke kampus beberapa hari yang lalu, saya dihujani oleh pemandangan yang “asyik” dari para pengemudi kendaraan bermotor yang memasuki jalur busway (atau bahasa aslinya dedicated buslane), saya jadi bertanya-tanya, kenapa yaa kok mereka melakukannya?

Sebelumnya perkenalkan prinsip saya dulu, saya punya prinsip pribadi yang mengatakan kalau orang berbuat salah, maka yang pertama kali yang harus saya cari tahu penyebabnya adalah kenapa sistemnya “membiarkan” dia salah, bukan menyalahkan pribadinya terlebih dahulu.

Nah, saya baru sadar bahwa konsep “pencegahan” yang biasa kita lakukan memang cenderung ekstrem, kita mencegah supaya orang tidak bisa melakukannya. Kita belum mencapai titik dimana orang tidak boleh melakukannya. Mirip kalau anak kecil dirumahnya mau dilarang makan permen yang tersaji di meja, buat tamu alasannya. Maka kita menyatakan tidak boleh, kalau si anak ini terdidik dengan baik, memiliki nilai pribadi yang ditanamkan dengan kuat, maka yang terjadi dia akan menuruti larangan tersebut (tidak boleh). Tapi cara lainnya ada, yang tidak bisa, yaitu bagaimana kalau anak tersebut kita ikat atau kita kurung dikamar.

Lanjutkan membaca “Bisa bukan berarti Boleh”

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Ada batas. Cari dan pahami batas

Sistem selalu memiliki batas (boundaries). Ada batas yang secara fisik mudah dilihat dan ada batas non-fisik yang tidak terlihat atau tidak bisa kita rasakan keberadaannya. Ruangan anda memiliki batas fisik: tembok, jendela, pintu, lantai, atap. Pikiran anda memiliki batas non-fisik: batas antara apa yang anda tahu dan anda tidak ketahui, batas antara apa yang anda ingin tahu dan anda tidak ingin tahu.

Di organisasi juga ada batas mirip dengan batas pribadi anda diatas. Kantor adalah batas fisik. Pelanggan yang dilayani organisasi ada didalam batas pelayanan organisasi. Lanjutkan membaca “Ciri-ciri Berpikir Sistem: Ada batas. Cari dan pahami batas”

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus mencari Struktur dengan Helicopter Views

Sudah pernah mendengar helicopter views? Jika kita naik helikopter maka kita memiliki kemampuan untuk naik dan turun untuk mendapatkan sisi pandang yang lebih luas atau lebih detail. Jika anda sedang terjebak macet dijalan, maka anda pasti berharap kendaraan anda bisa naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi untuk mengambil keputusan: apakah anda perlu ikuti saja karena ternyata mobil mogok yang sedang dipinggirkan di samping jalan; atau ternyata pohon tumbang sehingga anda sebaiknya mengambil jalan ke kiri berikutnya yang walaupun lebih jauh, bisa lebih cepat. Anda akan turun kembali dan mengambil keputusan

Helicopter views berarti memang tidak hanya satu tingkatan saja tetapi beberapa tingkatan sekaligus dari yang terdetail hingga yang terabstrak (mikro ke makro ke meso). Terkadang kita terjebak dalam tingkatan dunia mikro, kita mencoba mencari solusi pada tingkat mikro tetapi tidak menyelesaikan permasalahannya, kenapa yaa? Karena mungkin problemnya adalah pada struktur makronya.

Dalam sistem dinamis kondisi mikro disebut sebagai events (kejadian), kejadian-kejadian yang berulang atau memiliki keterkaitan pasti terjadi akibat adanya “struktur” yang membuat kejadian-kejadian tersebut. Kejadian-kejadian biasa tersebar pada dimensi waktu, bisa kemarin dan hari ini, bisa setahun yang lalu – 6 bulan yang lalu dan hari ini, dst. sehingga kita lupa dan terfokus pada kejadian saat ini saja, padahal “dulu” pernah terjadi atau ada yang serupa. Kejadian–kejadian juga tersebar pada dimensi ruang, sehingga kita terkadang menjadi sumber permasalahan tempat lain atau menjadi korban permasalah tempat lain. Penipisan ozon pada kutub bumi diprediksi berkontribusi pada perubahan cuaca pada khatulistiwa. Para ahli sedang memperhitungkan bahwa perubahan moonsoon cycles (siklus muson) yang kita telah rasakan di Indonesia (termasuk arah anginnya) akan mengubah peta produksi padi dunia akibat perubahan curah hujan.

Kejadian-kejadian jika kita rangkai akan bisa menampilkan sebuah imaji struktur yang ternyata telah menjebak kita sehingga kita tidak memiliki pilihan lain melakukan atau menerima kejadian tersebut. Kalau kita ingin memperbaikinya maka ubahlah struktur.

Struktur bisa berupa fisik (jalan, bangunan), bisa berupa non-fisik (kebiasaan, peraturan, norma dsb). Milikilah kemampuan untuk menggambarkan struktur, supaya anda tidak terjebak didalamnya.

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Selalu mencari konteks pada Permasalahan yang dihadapi

Context : the set of facts or circumstances that surround a situation or event, includes the political, social, historical, psychological, institutional, and aesthetic factors that shape the way we understand the performance event.

Sebuah sistem terkadang tidak terlihat perilakunya sebelum kita “ganggu”. Kita tidak akan tahu bagaimana respons marah teman kita, kalau tidak kita “ganggu” dia untuk marah. Perilaku respons teman kita, akan membantu kita untuk memahami dia. Bagaimana kalau kita “ganggu”, teman kita tidak merespons? Menurut saya, ini malah berbahaya, kita tidak tahu batasannya (jadi apakah nanti malam, ketika kita sendirian, tidak ada yang menikam kita tiba-tiba dari belakang).

Behavior is what a man does, not what he thinks, feels, or believes (anonymous)

Gangguan ini biasanya berasal dari sekitar sistem yang kita analisa, karena kondisi konteks merupakan input terhadap sebuah sistem terbuka maka sebuah sistem pasti berperilaku tertentu akibat input dari lingkungannya. Dengan memahami konteksnya kita bisa lebih bisa memahami permasalahannya, ini berarti solusi kita juga semakin tajam.

Di manajemen kualitas, kita diingatkan bahwa setiap ada problem, jangan pertama kali menyalahkan orang. Orang bisa berbuat salah karena sistem yang kita rancang membiarkan atau memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk salah. Perhatikan konteksnya, terkadang disitulah letak solusi terbaik dari permasalahan kita.

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Optimal Bukan Maksimal

Salah satu ciri berpikir sistem adalah kesadaran bahwa suatu sistem tidak akan pernah mungkin untuk mencapai kondisi maksimal, yang ada adalah optimal.

Sistem selalu berada dalam kondisi multi dimensi, baik dimensi ruang maupun waktu. Apa yang maksimal pada detik ini mungkin menjadi tidak maksimal pada beberapa waktu kedepan. Apa yang maksimal di laboratorium (dalam ruang), ketika di luar ruang menjadi tidak maksimal.

Sistem Terbuka (Open Systems) bergesekan dengan semestanya melalui sebuah batasan sistem, artinya batasan ini bersifat flexible, variabel yang akan mempengaruhi sistem bisa dan akan berubah, sehingga sistem hanya bisa optimal, bukan maksimal, karena ketika dimensi waktu berjalan atau ruang berpindah, maka variabel baru yang mempengaruhi interaksi bisa muncul, dan mengubah hasil.

Apa implikasinya? Dalam mendesain sebuah sistem, kita harus “expect the best. prepare for the worst”. Kata-kata hasil maksimal menunjukkan pola berpikir yang masih linear bukan sistemik. Di dunia konsultan juga dikenal kata “under promise, over deliver” yaitu jangan terlalu menjanjikan hasil yang muluk-muluk walaupun anda telah memiliki pengalaman serupa. Sistem bisa serupa tapi tidak sama.