Jakarta, Banjir, dan Akhir Tahun Anggaran

Memasuki akhir tahun 2012, Jakarta kembali dihadapi oleh ancaman bencana banjir. Setelah lolos dari ancaman kiamat dunia versi orang maya, akhirnya kita memang harus menghadapi ancaman dampak perubahan iklim. Suatu ancaman yang manusia memiliki kontribusi dengan keborosan kita mengkonsumsi sumber daya alam jauh diatas kemampuannya regenerasi.

Jakarta akan selalu terancam banjir yg memang selama permasalahan sistemiknya belum terpecahkan maka akan selalu menghantui kota ini. Warga Jakarta sebenarnya sudah mampu beradaptasi dengan ini, terlepas dengan hingar bingar media yang suka sekali berita negatif heboh, bencana banjir jakarta merupakan bencana yg relatif “mudah”.
Lanjutkan membaca “Jakarta, Banjir, dan Akhir Tahun Anggaran”

Balas Budi atau Balas Dendam

Beberapa waktu yang lalu saya menemuni seorang kawan lama yang masih aktif di pemerintahan dan berdiskusi soal pimpinannya yang baru saja terpilih  memenangkan proses demokrasi di daerahnya. Dia mengeluh karena sedang merasa menerima balas dendam dari pimpinannya yang baru, karena adanya persepsi bahwa dia dan kawan-kawannya “membela” pimpinan yang lama. Dalam pembelaannya dia bercerita tidak mungkinlah dia melanggar perintah pimpinannya yang lama, karena loyalitas kepada pimpinan adalah penting, siapapun itu, yang lama maupun yang baru.

Saya jadi mengingatkan dia akan diskusi yang berbeda terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika sang kawan lama yang sama, mengeluh pula bahwa dia harus menanggung tanggung jawab balas budi ketika pemimpinnya sebelumnya berganti. Banyak sekali teman-teman sang pemimpin yang datang dengan membawa pesan-pesan khusus, karena sebelumnya telah mendukung sehingga membutuhkan penggantian usaha yang dilakukan. Ketika saya tanyakan apakah tetap harus melakukan hal yang sama, dia mengatakan tentu saja beberapa sudah melakukan sinyal-sinyal yang sama, sambil menunggu masyarakat berkurang kepeduliannya terhadap pimpinan baru. Misalnya setelah 100 hari, dsb.

Kata relawan kan untuk kampanye, sebagian dari mereka tidak benar-benar “rela” sepenuhnya, ada yang memiliki budi pamrih ketika membantu. Banyak relawan, yang menjadi pamrih-wan atau budi-wan. Jadi sekarang si kawan saya ini kena dua hal sekaligus: balas dendam DAN balas budi. Lanjutkan membaca “Balas Budi atau Balas Dendam”

Persiapan Presentasi Skripsi

Setelah mengikuti banyak sekali sidang ujian seminar dan skripsi, maka ada beberapa hal penting yang terlihat harus selalu diperhatikan oleh para peserta ujian selain yang telah dituliskan dalam buku pedoman penulisan skripsi. Untuk itu tulisan ini bermaksud membantu anda untuk menyiapkan diri anda lebih baik. Beberapa tulisan akan berfokus kepada penyusunan slide, pelaksanaan presentasi dan bagaimana menghadapi tanya jawab.

Perhatikan preferensi individu dari anggota tim dosen penguji

Setiap anggota tim dosen pasti memiliki preferensi dan fokus perhatian yang berbeda-beda. Ada yang berfokus terhadap korelasi antara tujuan penelitian dengan kesimpulan, fokus kepada cara presentasi anda, fokus terhadap kedisiplinan anda dalam menulis karya ilmiah dsb. Preferensi-preferensi ini harus bisa anda identifikasikan sehingga anda bisa menyesuaikan diri dengan preferensi tersebut. Anggaplah ini adalah latihan anda untuk tantangan sesungguhnya didunia kerja, pasti ada boss anda yang meminta berbeda dibandingkan yang lain.

Tips Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian sebaiknya adalah tujuan akhir dari skripsi anda berupa produk yang anda hasilkan. Bukan tujuan antara, karena hal ini seharusnya ditekankan ketika menjelaskan metodologi penelitian. Pengecualian jika memang tujuan akhir anda ternyata memiliki 2 produk atau lebih yang berbeda dan bukan merupakan input bagi yang lainnya. Misalnya anda memiliki 2 tujuan akhir, produk A dan B, maka jika A adalah input bagi B, maka sebaiknya yang ditulis hanya B.

Begin with the End in Mind

Konsep begin with the end in mind adalah konsep dari 7 kebiasaan manusia yang efektif, dan menjelaskan pentingnya kita berfikir tentang apa yang ingin kita dapatkan pada akhirnya sebagai panduan dan patokan dalam merencanakan kegiatan kita. Semakin detail dan jelas hasil akhir yang kita ingin dapatkan semakin mudah pula anda mencari hal-hal yang harus kita lakukan untuk mencapainya.

Apa sih output dari skripsi anda? apakah berupa tabel rencana produksi, sebuah daftar rekomendasi perbaikan, sebuah gambar desain sistem/produk, sebuah daftar hasil analisa yang berguna dalam mengambil keputusan. Artinya secara sederhana hasil skripsi anda adalah bisa berupa gambar, flowchart, tabel, daftar, tulisan yg terstruktur (rencana) dan lainnya.

Waspada Virus

Komputer presentasi biasanya digunakan bersama. Teknologi USB Disk memang memudahkan kita memindahkan file2 besar presentasi, tetapi memudahkan juga untuk mentransfer virus. Hati-hati karena begitu komputer terkena virus berarti presenter berikut bisa tidak menggunakan komputer yang sama. Siapkanlah komputer cadangan. Anda juga sebaiknya tidak menggunakan usb kerja anda, karena data anda di usb bisa hilang akibat virus tersebut. Gunakanlah spesial usb khusus buat presentasi skripsi dan data2 pendukungnya.

Siapkan alur cerita yang logis

Hati-hati dengan Kontras tanpa basis Data

Saya sangat suka memperhatikan gaya orang membangun dan menyampaikan argumennya. Sebagai pengajar manajemen kualitas, saya sering kebingungan menghadapi rapat orang Indonesia, yang kebanyakan berdiskusi, berdebat bahkan bisa emosional tetapi bukan berlandaskan kepada data atau fakta, namun kepada asumsi dan persepsi. Masih mending jika asumsi diambil dari data.  Lebih sering asumsi diambil dari logika atau persepsi umum (common perception) yang suka melupakan ada konteksnya.

Logika tanpa fakta lebih berbahaya, karena biasanya akan lebih menyakinkan kebenarannya.

Logika berbasis kepada data bisa terasa kurang seru, karena bisa jadi ada beberapa bagian yang berlubang akibat data yang kurang lengkap, sehingga tidak bisa diambil keputusan. Lebih enak kalau tanpa fakta, karena lebih gurih dan lebih imajinatif. Lihat saja kesukaan pemirsa TV Indonesia terhadap acara gosip. Baik acara gosip beneran atau acara gosip terselubung (acara berita/news).

Derajat Kontras Hitam Putih
Derajat Kontras Hitam Putih

Kontras adalah cara yang paling mudah untuk membandingkan. Mata kita dilatih untuk lebih menangkap perbedaan warna yang memiliki kontras yang berbeda. Sehingga otak kita juga terlatih untuk melakukan versus (vs) dan or (atau). Yang sering saya dapatkan ketika pemilihan kandidat misalnya adalah fokus kepada kontras antara kandidat A vs kandidat B. Strateginya biasanya dua: SAMA atau BEDA/UBAH. Bagi yang pokoknya beda, nggak penting apakah perbedaan itu akan bisa diaplikasikan berdasarkan data yang ada, sehingga sebenarnya hanya sekedar janji saja. Bagi yang ubah, nggak penting apakah perubahan menjadi lebih baik atau tidak, yang penting berubah. Semuanya lebih sering tanpa data. Bagaimana prestasi calon pemimpin tersebut? Apa ukuran obyektif untuk mengukurnya? Lanjutkan membaca “Hati-hati dengan Kontras tanpa basis Data”

Sudah tepatkah pertanyaan anda?

Have you asked the right questions?

Saya mendorong kebiasaan bertanya kepada mahasiswa sebagai sebuah kebiasaan yang baik dalam pola berpikir. Bertanya merupakan tanda bahwa anda berpikir. Kemampuan bertanya juga merupakan modal utama dalam memfasilitasi diskusi, rapat atau pertemuan.

image

Tentunya setelah memiliki kebiasaan bertanya maka penting pula diiringi oleh mempelajari bagaimana bertanya yang benar dan bagaimana memformulasikan pertanyaan yang tepat.
Lanjutkan membaca “Sudah tepatkah pertanyaan anda?”

Manajemen Jalan-Jalan – Gemba – Management by Walking Around

Judul manajemen jalan-jalan merupakan terjemahan bebas dari konsep management by walking around (MWA) yang pertama kali saya baca dilakukan oleh duo Hewlett & Packard, para pendiri produsen komputer HP. Pada masa pertumbuhan HP, duo pendiri ini sering berjalan-jalan ke lantai produksi dan operasi untuk berdiskusi langsung dengan insinyur, desainer produk, dll. Konsep manajemen ini untuk memotong penyakit perusahaan yang besar yang biasanya memiliki alur komando pengambilan keputusan yang panjang, sehingga bisa lebih responsif terhadap keinginan pelanggan atau peluncuran produk baru.

Konsep ini juga ternyata ada dalam kualitas yang disebut dalam bahasa jepang sebagai Gemba, lihatlah masalah pada tempatnya. Secara tersurat, kita diminta turun ke lokasi permasalahan untuk memahami permasalahannya secara langsung. Namun yang lebih penting lagi, secara tersirat, lihatlah masalah dalam konteksnya. Pemahaman Kontekstual bisa mencakup dimensi ruang lokasi, waktu, fungsi atau skala.

Ada trend baru politik Indonesia dengan konsep yang mirip dengan MWA atau Gemba. Di politik saya dengar namanya adalah Retail Politics, yaitu sebuah proses mencari suara dengan datang ke kantong-kantong suara secara langsung dan “menyapa warga”. Kalau di Amerika, secara sejarah ternyata memang ada beberapa negara bagian atau provinsi yang “mewajibkan” kandidat presiden untuk melakukan ini, baik secara pribadi atau melalui sukarelawan yang mengetuk pintu untuk berkampanye. Mereka tidak peduli program kerja, artis, facebook, twitter selama belum ketemu langsung maka mereka tidak akan memilih. Memang terlalu dini dalam sejarah demokrasi Indonesia untuk mengetahui apakah hal ini juga berlaku, namun sementara ini kesimpulan umum saya, kita suka hal yang “beda”. Terkadang ndak peduli bahwa beda belum tentu lebih baik. Dulu presiden ndak suka ngomong, sekarang suka yang curhat, nanti berikutnya mungkin ndak ngomong lagi. Lanjutkan membaca “Manajemen Jalan-Jalan – Gemba – Management by Walking Around”

Kurva Belajar (Learning Curve) dalam Politik

Fenomena kurva belajar ternyata tidak saja ditemukan di teknik industri, namun juga ternyata berlaku pada masa transisi pergantian pimpinan daerah yang merupakan ranah politik. Di teknik industri, kurva belajar diajarkan pada kuliah faktor manusia, untuk memberikan pemahaman bahwa setiap produk baru akan membutuhkan waktu sebelum tingkat produktivitas akan menyamai produk lama. Produk baru akan membutuhkan penyesuaian dari operator lapangan untuk mempelajari peletakan, urutan operasi, apa yang perlu diperhatikan dan sebagainya. Perekayasa industri harus menyiapkan diri terhadap penurunan ini termasuk mencari cara agar kurva belajar berlaku dengan lebih cepat daripada kompetitor.

Pergantian gubernur di tempat saya tinggal sarat pula dengan fenomena kurva belajar. Dan saya yakin ini akan menjadi sebuah pembelajaran bagi masyarakat jakarta tentang dampak dari pergantian pimpinan dan lebih arif ketika mendengarkan janji-janji para calon yang tampil.
Lanjutkan membaca “Kurva Belajar (Learning Curve) dalam Politik”