Superforecasting

Bisa memprediksi masa depan adalah kekuatan tersembunyi dari semua organisasi di dunia ini. Organisasi bisnis maupun pemerintah ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan, supaya mereka bisa lebih kompetitif dibandingkan lawan karena bisa mengantisipasi masa depan. Ini yang membuat saya tertarik membaca sebuah buku yang berjudul “Superforecasting: The Art and Science of Prediction” karya Philip Tetlock dan Dan Gartner. Apalagi ini tepat akhir tahun 2015, yang biasanya akan diisi oleh kegiatan reflektif serta prediktif untuk menyikapi masa depan. Artikel ini terinspirasi oleh salah satu chapter didalam buku ini.

Tumbuhnya teknologi, terutama teknologi komputasi informasi dan komputer, telah membuka sebuah petak baru teknologi untuk memproses data secara masif kemudian mengambil kesimpulan terhadap data itu. Sehingga istilah “Big Data” muncul.

Sebagai ilustrasi, jika anda pengguna media sosial, mengapa kok iklan yang muncul di media tersebut seperti bisa membaca pikiran kita? Kenapa kok seperti kenal kita yaa? Hobi, apa yang kita sukai, apa yang kita tidak sukai seperti terbaca oleh media sosial ini? Lanjutkan membaca “Superforecasting”

Berubah dari Pemecahan Masalah ke Pencarian Masalah

Dalam diskusi topik skripsi dengan mahasiswa saya sering langsung mendapatkan pertanyaan tentang metode setelah si mahasiswa menceritakan permasalahan yang dia ingin dia fokuskan. Fokus kepada metode ini kelihatannya terjadi karena si mahasiswa ingin segera bekerja untuk menyelesaikan skripsinya, jadi pengin tahu apa yang harus segera dilakukan dengan mendapatkan metode yang tepat.

Pertanyaan yang sama juga sering saya dapatkan di blog ini. Ketika beberapa dari pembaca menceritakan bidang tempat dia ingin menyelesaikan masalah, lalu menanyakan metode yang tepat untu menyelesaikan. Padahal saya tahu bahwa yang disampaikan bukanlah masalah, namun masih “gejala” masalah.

Gejala masalah, bukanlah masalah sesungguhnya, karena gejala sebenarnya adalah dampak dari masalahnya. Gejala Panas Tinggi di tubuh adalah dampak dari berbagai kemungkinan penyakit: tipus, flu, DBD, bahkan patah hati. Tapi untuk mencari masalahnya atau bahkan akar masalah (sumber dari segala sumber masalah) adalah langkah yang harus anda lakukan sebelum memilih metodenya.

Kelemahan untuk melihat gejala dan tidak meluangkan waktu untuk memikirkan akar masalah inilah yang membuat mengapa permasalahan bisa terulang kembali, tidak diselesaikan atau bahkan menimbulkan masalah baru.

Switching from Problem Solving to Problem Finding..

Percuma anda memiliki metode yang kuat, kemampuan pemecahan masalah yang cepat, tapi ternyata problem yang diselesaikan adalah salah. Ini mirip prinsip GIGO  Garbage In Garbage Out, semakin cepat komputer maka semakin cepat pula proses GIGO akan berlangsung. Jadi kemampuan proses tidak akan membantu jika inputnya salah.

Itu mungkin mengapa dalam ilmu kualitas dikenal konsep PDCA – Plan, Do, Check dan Action, yaitu konsep untuk melakukan perencanaan sebelum melaksanakan peningkatan. Ini untuk memberikan gap sebelum ada memilih cara untuk menyelesaikan permasalahan (di kualitas pemilihan cara merupakan fase Do, bukan Plan).

Ketika saya menjadi konsultan untuk sebuah proyek yang dibiayai oleh JICA Japan International Cooperation Agency, saya sering harus mengikuti dan mendampingi proses “fact finding” meeting. Setiap deviasi dari agreement yang telah disepakati, JICA akan mengirimkan tim untuk melakukan ini. Dan kami yang membantu, seperti merasa di audit, karena sebelum meeting mereka biasanya mengirimkan sebuah daftar pertanyaan yang berhubungan dengan deviasi yang terjadi sebagai bahan rapat. Dan jangan bayangkan rapatnya seperti rapat di negara kita yang hanya  2 jam lalu pergi lalu …. ya sudahlah. Tapi bisa berlangsung berhari-hari hingga larut malam sehingga mereka mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan tanpa adanya misinterpretasi diantara kedua pihak.

Apapun namanya: Pendefinisian Masalah, Fact Finding, Pemahaman masalah, Perencanaan pemecahan masalah atau lain-lainnya … Jangan Lupa untuk selalu memfokuskan dulu ke problem finding sebelum ke problem solving.
 

Teknik Industri akan menjadi Teknik Industri dan Sistem

Institute of Industrial Engineers (IIE)  adalah organisasi profesi dunia bagi perekayasa industri yang berasal dari Amerika Serikat.  IIE saat ini sedang mengumpulkan voting dari para anggotanya di dunia (termasuk saya) untuk mengganti namanya menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering hingga 15 Januari 2016. Ketua IIE saat ini,  Prof Moore dari University of Southern California (USC) dalam wawancara dengan majalah Industrial Engineer Juli 2015, menjelaskan panjang lebar tentang hal ini.  Prof Moore sendiri merefleksikan perkembangan TI menjadi TIS/TSI* dengan perubahan nama TI di USC menjadi TIS/TSI.

IIE memandang SE merupakan evolusi yang natural dari fokus yang mengembang dari TI. Hal ini diperkuat dengan aplikasi keilmuan dan bidang kerja para perekayasa Industri yang semakin berkembang ke berbagai tipe industri. Banyak penjelasan terhadap kesamaan dan perbedaan dari SE dan TI. Namun secara sederhana bagi para perekayasa Industri:  jika TI berfokus kepada “Realisasi dari sebuah Produk”, yaitu dari rancangan ke produk yang dikonsumsi pelanggan, maka SE berfokus kepada Realisasi dari Sistem, dari rancangan sistem ke sistem yang telah berjalan. Itu mengapa secara “body of knowledge” terdapat berbagai kesamaan dan irisan dari kedua kelompok ilmu ini.

Pada kurikulum TI yang berfokus kepada realisasi produk dengan nilai-tambah-lebih (value added) terdapat struktur multi-skala: dari produk,  proses dan pabrik dengan 3 tanggung jawab utama: perancangan, pemasangan dan pengelolaan. Jika fokus ini diubah ke sistem yang juga bernilai-tambah-lebih, maka logika yang sama akan berlaku yaitu struktur multi skala (Systems of Systems – SoS) dengan tetap berfokus kepada perancangan,  pemasangan dan pengelolaan dari sistem.

Jadi apa dong beda produk dan sistem?

Lanjutkan membaca “Teknik Industri akan menjadi Teknik Industri dan Sistem”

Kemerdekaan 70 Tahun Indonesia ala Berpikir Sistem: Limits of Growth

Menyambut kemerdekaan Indonesia ke 70 di tahun ini, di dunia sebenarnya sedang terjadi kejadian luar biasa yaitu dibukanya kembali kedutaan besar AS di Kuba.  Kuba adalah satu-satunya negara di dunia yang secara indikator memiliki kondisi keberlanjutan yang ideal (versi UNEP Lembaga PBB yang mengurusi soal Lingkungan). Kondisi keberlanjutan adalah kondisi suatu negara dimana terjadi keseimbangan antara kondisi sosial (pendidikan,  kesehatan,  budaya dll),  kondisi ekonomi (konsumsi sama atau tidak lebih dari produksi)  dan kondisi lingkungan (Kuba tidak melakukan eksploitasi yang merusak sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya).

Namun tentunya disaat awal,  studi dipublikasikan,  banyak orang terperanjat dan mengira bahwa yang masuk kategori ini adalah berbagai negara maju,  terutama negara-negara yang tergabung dengan berbagi singkatan2 keren seperti G20, G8, APEC,  dsb. Kok bisa Kuba? Yang bahkan mobil-mobil disana masih menggunakan karburator dan merupakan peninggalan teknologi tahun 1960an,  kondisi terakhir ketika Kuba masih menganut pasar terbuka belum dipegang oleh Fidel Castro.

Ternyata walaupun dipandang memiliki tingkat modernitas yang rendah,  pendidikan di Kuba dapat menjangkau semua rakyatnya,  fasilitas kesehatan (walaupun tidak state of the art)  dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat,  ekonomi tetap berjalan dengan tidak konsumsi berlebihan maka sumber daya alam lingkungan mereka terjaga.

Konsumsi berlebihan di kalangan penggiat lingkungan hidup memang dianggap musuh utama yang membuat lingkungan terancam. Dalam diskusi di UI tentang teknologi informasi,  saat ini hampir sebagian besar mahasiswa UI telah memiliki minimal 2 gadget,  Diprediksi setiap orang akan memiliki minimal 3 gadget dalam 5 tahun kedepan (lihat saja perkembangan smartwatch murah saat ini). Setiap gadget akan membutuhkan listrik untuk mencharge battery,  listrik dihasilkan dari sumber daya alam lingkungan,  artinya kebutuhan listrik tidak akan meningkat secara linear tapi secara eksponential.
image

 

Lanjutkan membaca “Kemerdekaan 70 Tahun Indonesia ala Berpikir Sistem: Limits of Growth”

Tips Mencari Topik Skripsi Teknik Industri di Suatu Perusahaan

Pertanyaan tentang topik skripsi di suatu perusahaan atau suatu bidang/divisi dalam sebuah perusahaan sering diajukan didalam blog ini, sehingga sudah waktunya saya menyusun sebuah artikel tentang tips untuk memulai mencari topik skripsi ketika mahasiswa sudah mendapatkan perusahaan yang dituju. Karena sebagian besar pertanyaan yang diajukan sering dimulai dari mana, maka tips ini akan saya bagi menjadi 4 kemungkinan mulai mencarinya

  1. Mulai dari perspektif 5M+IE dengan 5m_ie
  2. Mulai dari permasalahan yang dihadapi subyeknya
  3. Mulai dari Metode yang ingin digunakan (predikatnya)
  4. Mulai dari minat bidang kerja yang kau ingin tuju (obyeknya)

 

Lanjutkan membaca “Tips Mencari Topik Skripsi Teknik Industri di Suatu Perusahaan”

Tips Mendapatkan Topik KP – Kerja Praktek di Teknik Industri

Didalam blog ini, saya sangat sering mendapatkan pertanyaan tentang apa topik yang sebaiknya diambil ketika mahasiswa diterima untuk kerja praktek di suatu perusahaan atau organisasi. Tidak ada yang jawaban yang spesifik yang bisa saya berikan untuk setiap pertanyaan karena setiap tempat kerja praktek pasti unik dan berbeda. Karena keunikan tersebut, tentunya memang ada topik-topik terkini dan spesifik yang dihadapi oleh bidang industri perusahaan atau organisasi tersebut. Namun secara umum, mahasiswa biasanya diberikan topik yang lebih umum dibandingkan topik spesifik mempertimbangkan waktu kerja praktek yang singkat dan tidak memungkinkan sang mahasiswa untuk mempelajari dengan dalam kondisi perusahaan.

Untuk itu saya akan menuliskan tips yang sering saya berikan kepada mahasiswa bimbingan kerja praktek saya untuk mencari topik dalam perusahaan. Ini tentunya dengan asumsi bahwa perusahaan belum memilihkan topik buat anda dan memberikan kebebasan untuk memilih sendiri. Didalam blog ini ada 5 tips yang ingin saya berikan:

  1. Bertanya, berdiskusi dan mengamati adanya permasalahan dalam perusahaan
  2. Pandang perusahaan atau masalahnya dalam 5M
  3. Cari referensi tentang permasalahan atau bidang topik di Internet dengan kata kunci yang tepat
  4. Cari di perpustakaan tentang laporan skripsi dan kerja praktek di bagian saran/kesimpulan
  5. Coba cari apa yang menjadi minat anda dalam bekerja nantinya

Berikut ini adalah penjelasannya,

Lanjutkan membaca “Tips Mendapatkan Topik KP – Kerja Praktek di Teknik Industri”

Mari Puasa Klik Berita dari Orang yang Mencari Popularitas

Tahukah anda, bahwa anda memiliki sebuah kuasa untuk melakukan perubahan terhadap perilaku para politikus atau selebritas kita. Setiap hari saya melihat ada seorang pejabat publik yang sengaja memiliki komentar harian yang bombastis, populis dan nyeleneh, supaya dia bisa masuk berita on-line. Bayangkan: SETIAP HARI!

Tetapi media on-line tidak bisa disalahkan karena mereka menimbang berita dari jumlah popularitas berita tersebut dari jumlah kliknya. Semakin diklik suatu berita maka diasumsikan berita yang sama akan dicari pada saat berikutnya, akibatnya semakin sering berita tersebut ditampilkan. Semakin sering berita tersebut ditampilkan akan menarik perhatian lainnya sehingga semakin di klik oleh orang lain.

Lebih seru lagi jika berita ini dimasukkan dalam status media sosial kita, dari facebook, path atau twitter. Facebook bahkan akan menganalisa bahwa anda “menyukai” nara sumber berita tersebut, sehingga berita dari situs lain akan dicarikan untuk ditampilkan oleh Facebook.

Lanjutkan membaca “Mari Puasa Klik Berita dari Orang yang Mencari Popularitas”