Ciri-ciri Berpikir Sistem: Selalu mencari konteks pada Permasalahan yang dihadapi

Context : the set of facts or circumstances that surround a situation or event, includes the political, social, historical, psychological, institutional, and aesthetic factors that shape the way we understand the performance event.

Sebuah sistem terkadang tidak terlihat perilakunya sebelum kita “ganggu”. Kita tidak akan tahu bagaimana respons marah teman kita, kalau tidak kita “ganggu” dia untuk marah. Perilaku respons teman kita, akan membantu kita untuk memahami dia. Bagaimana kalau kita “ganggu”, teman kita tidak merespons? Menurut saya, ini malah berbahaya, kita tidak tahu batasannya (jadi apakah nanti malam, ketika kita sendirian, tidak ada yang menikam kita tiba-tiba dari belakang).

Behavior is what a man does, not what he thinks, feels, or believes (anonymous)

Gangguan ini biasanya berasal dari sekitar sistem yang kita analisa, karena kondisi konteks merupakan input terhadap sebuah sistem terbuka maka sebuah sistem pasti berperilaku tertentu akibat input dari lingkungannya. Dengan memahami konteksnya kita bisa lebih bisa memahami permasalahannya, ini berarti solusi kita juga semakin tajam.

Di manajemen kualitas, kita diingatkan bahwa setiap ada problem, jangan pertama kali menyalahkan orang. Orang bisa berbuat salah karena sistem yang kita rancang membiarkan atau memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk salah. Perhatikan konteksnya, terkadang disitulah letak solusi terbaik dari permasalahan kita.

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Optimal Bukan Maksimal

Salah satu ciri berpikir sistem adalah kesadaran bahwa suatu sistem tidak akan pernah mungkin untuk mencapai kondisi maksimal, yang ada adalah optimal.

Sistem selalu berada dalam kondisi multi dimensi, baik dimensi ruang maupun waktu. Apa yang maksimal pada detik ini mungkin menjadi tidak maksimal pada beberapa waktu kedepan. Apa yang maksimal di laboratorium (dalam ruang), ketika di luar ruang menjadi tidak maksimal.

Sistem Terbuka (Open Systems) bergesekan dengan semestanya melalui sebuah batasan sistem, artinya batasan ini bersifat flexible, variabel yang akan mempengaruhi sistem bisa dan akan berubah, sehingga sistem hanya bisa optimal, bukan maksimal, karena ketika dimensi waktu berjalan atau ruang berpindah, maka variabel baru yang mempengaruhi interaksi bisa muncul, dan mengubah hasil.

Apa implikasinya? Dalam mendesain sebuah sistem, kita harus “expect the best. prepare for the worst”. Kata-kata hasil maksimal menunjukkan pola berpikir yang masih linear bukan sistemik. Di dunia konsultan juga dikenal kata “under promise, over deliver” yaitu jangan terlalu menjanjikan hasil yang muluk-muluk walaupun anda telah memiliki pengalaman serupa. Sistem bisa serupa tapi tidak sama.

Inovasi dan Teknologi

Ketika saya mendapatkan tugas untuk mengelola sebuah kuliah wajib baru: Manajemen Teknologi, maka saya menjadi teringat kebingungan yang terjadi ketika saya pernah mengambil kuliah yang sama di S2 saya yang berjudul managing innovation and technology. Kebingungan tersebut adalah tentang arti dari inovasi: Apakah inovasi dan penemuan sama (innovation vs invention)? Bagaimana ruang lingkup dan hubungan antara inovasi dan teknologi? Terutama karena ternyata di internet atau judul buku textbook, ada manajemen inovasi sendiri dan manajemen teknologi sendiri, dan ada yang menggabungkannya. Jadi bagaimana? Untung akhirnya saya bisa mendapatkan jawabannya dan akan saya share disini.

Tips utama yang harus anda perhatikan adalah bahwa semua kata-kata ini mirip dan perlu anda lihat dalam konteksnya. Dan penggunaan kedua kata ini di surat kabar dan media merancukan arti dari keduanya, karena media terkadang suka mengambil kata-kata ini tergantung kebutuhan “pasar” (headline mana yang laku), jadi jangan dibuat bingung oleh arti “pasa” ini.

Lanjutkan membaca “Inovasi dan Teknologi”

Kuliah-kuliah pada tahun kedua di Teknik Industri UI

Tahun kedua perkuliahan anda akan mulai memiliki berbagai mata kuliah dasar Teknik Industri dengan tetap memiliki bagian dasar keteknikan. Saya tidak akan membahas semua mata kuliah karena beberapa telah kita bahas dalam tulisan tentang kuliah pada tahun pertama. Saya juga mulai akan mengklasifikasikan perkuliahan kedalam sub-sistem sub-sistem yang akan anda kelola nantinya sebagai perekayasa industri. Pembagian kelompok sub-sistem ini merupakan pembagian dalam rangka memudahkan penjelasan, tetapi bukan berarti anggota kelompok sub-sistem ini tidak terlibat atau menjadi anggota dari sub-sistem lainnya. Anda boleh pula bebas mengelompokkan kuliah-kuliah selama membantu anda memahami korelasinya.

Aspek Keuangan (Akuntansi & Biaya, Ekonomi Teknik)

Kemampuan finansial anda sebagai Perekayasa Industri merupakan modal anda dalam mengambil keputusan yang berbeda dengan perekayasa lain. Pak Poerwoto, salah seorang sesepuh Teknik Industri UI, menceritakan pengalamannya yang membuat kuliah ini penting. Si bapak harus mengambil keputusan ketika sebuah pompa penting di rig minyak lepas pantai breakdown, apakah harus memanggil supliernya untuk mereparasi atau mengganti pompanya dengan yang baru? Jika memanggil suplier maka dibutuhkan waktu hari 3 kali lebih lama, karena harus diantar dg helikopter, dianalisa, minta sparepart, dikirim dg helikopter, dipasang dan ujicoba, hingga akhirnya beroperasi. Sedangkan setiap hari berhenti beroperasi, maka perusahaan rugi ratusan ribu dollar, Jadi bagaimana?

Lanjutkan membaca “Kuliah-kuliah pada tahun kedua di Teknik Industri UI”

Makna Keadilan & Berpikir Sistemik

Pencarian keadilan memotivasi banyak orang untuk melakukan banyak hal, baik positif maupun negatif. Alasan keadilan juga banyak dikemukakan sebagai alasan suatu tuntutan atau menjadi basis argumen dalam sebuah perdebatan. Hal ini membuat saya berpikir: apa sih sebenarnya keadilan itu?

Apakah keadilan berarti sama? Jika saya sama dengan anda, maka berarti adil? Ini adalah maksud yang sering di”cantol”kan dengan kata keadilan. Sebenarnya kita memiliki kata khusus untuk ini yang disebut “kebersamaan”, seharusnya kata ini yang digunakan jika kita mengemukakan konsep keadilan yang sama

Apakah keadilan berarti perbedaan? Jika memang kita berbeda, tentunya keadilan adalah perlakukan yang berbeda sesuai dengan perbedaannya. Perlakuan lebih perlu diberikan kepada kaum minoritas, sedangkan yang sudah mayoritas yaa biarkan saja. Yang kurang dilebihkan, yang lebih yaa dikurangkan (berbeda khan perlakuannya)

Hakikat arti keadilan seperti ini sebenarnya mirip dengan yang kedua, yaitu ingin sama. kita harus diperlakukan berbeda supaya sama. Padahal perlakuan berbeda itu khan udah tidak sama, jadi pengin adil dengan cara tidak adil?

Lanjutkan membaca “Makna Keadilan & Berpikir Sistemik”

Comfort Zone

Kita semua pasti memiliki comfort zone (Zona Nyaman) masing-masing. Makna dari kata zona ini adalah bisa berupa sebuah zona geografis yang riil, bisa juga yang tidak riil .

Zona yang riil contohnya adalah rumah kita, tempat bekerja, kota atau negara kita. Kita udah terbiasa di zona ini, kita tahu jalan harus kemana untuk membeli makanan dan stok dapur. Mau beli kertas, tahu angkutan mana yang harus diambil. Jalan ke kampus atau tempat kerja juga yang itu-itu saja.

Zona yang tidak riil (virtual) adalah yang berada didalam otak kita. Jika anda lebih suka mengerjakan yang anda sudah ketahui dan tidak mau menyentuh atau mencoba yang tidak adan ketahui maka inilah contoh lain dari comfort zone yang tidak riil.

Apa yang kita pelajari (pengalaman), apa-yang-kita-tahu (pengetahuan) dan apa-yang-kita-pikir-kita-tahu (imajinasi) adalah yang membangun zona virtual kita. Dizona ini kita akan nyaman. Kita akan merasa bahwa apa yang tidak kita tahu, tidak akan menyakiti kita. dan ini akan mempengaruhi pola persepsi kita dalam memandang masalah, mana yang kita anggap penting atau tidak penting.

Lanjutkan membaca “Comfort Zone”

Catatan Flow of Argument (Alir Argumentasi)

Mengikuti berbagai seminar dan sidang di kampus, membuat saya ingin mengingatkan kembali hal yang penting yang harus dilatih oleh peserta sebagai bekal dalam dunia nyata nantinya, yaitu kemampuan untuk menyusun alir argumentasi yang menuju ke kesimpulan atau perumusan permasalahan. Sebelumnya saya ingatkan, perumusan permasalahan adalah sebuah deskripsi singkat dari masalah yang pasti asalnya kompleks.

Dalam diskusi ini saya tidak menyentuh arti dari argumentasi yang bersifat akademis, tetapi lebih bersifat praktis. Menurut saya, cara yang paling sederhana mengartikan alir argumentasi adalah memandangnya sebagai sebuah cerita yang enak didengar atau dibaca.

Membuat cerita yang enak itu memang banyak memiliki kendala:

  1. Terkadang kita merasa sudah bekerja siang malam untuk mendapatkan banyak data, sehingga semua data kita pengin ceritakan (supaya kelihatan kerja kerasnya) padahal ini biasanya tidak mungkin mendapatkan alir yang enak. Lihat kasus film yang diangkat dari buku, banyak yang merasa kenapa kok di film kurang “gigit” dibandingkan bukunya. Film-film seperti ini, yang diterima oleh publik, pasti akan mengurangi jumlah detail dari bukunya karena hanya memiliki slot 90-120 menit untuk menceritakannya dalam film.
  2. Kita tidak tahu mulai dari mana. Anda bisa mencari di internet tentang artikel-artikel yang serupa, yang enak dibaca dan mengamati bagaimana mereka menuliskan argumentasinya. Gunakan post-it, tuliskan pokok-pokok pikiran yang ingin anda sampaikan. Satu pokok pikiran untuk 1 post-it, jangan digabung. Tempelkan di dinding atau meja atau kertas besar tanpa memperhatikan struktur apapun. Perhatikan apakah ada yang bisa digabungkan atau disusun berurutan. Post-it disusun menurun atau mendatar, kemudian anda lihat apakah ada “lubang” dalam argumentasi anda. Teknik ini mirip dengan teknik storyboard yang digunakan di industri film. Setiap fragmen tampilan (scene) dibuat gambar kasar secara manual sebagai representatif awal rencana produksi film ini. Storyboard juga dikenal di Six Sigma sebagai risalah apa yang telah dilakukan. Tips lain untuk memulai dari kesimpulan kemudian membangun argumentasi dari kesimpulan akhir. Tips ini mungkin agak aneh, ketika biasanya kesimpulan diberikan pada saat akhir, tapi ini bisa membantu anda untuk mulai.

Yang dimaksud dengan “lubang” ini terbagi menjadi 3 yaitu Overstep, Incoherent, dan yang paling parah Unrelated.

 

Lanjutkan membaca “Catatan Flow of Argument (Alir Argumentasi)”