ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Mengikuti heboh mobil nasional yang sedang terjadi saat ini, menarik melihat berbagai macam pandangan dan harapan yang timbul akibat “kerinduan” akan produk dalam negeri. Kerinduan ini dipicu oleh kenapa negara tetangga atau agak tetangga (korea/jepang) berhasil mengembangkan industrinya, walaupun jangan lupa tetangga lain (australia) malah menutup pabrikan mobilnya (masih ingat  mobil merk Holden?).

Apa artinya? technical challenges is relatively easy than industrial challenges

Tanpa bermaksud mengurangi antusiasme yang menggebu-gebu dari politik dan media, sehingga mungkin berkesan tidak tahu diri, tidak mendukung karya dan inisiatif yang bagus, dst. Saya pribadi sangat menghargai usaha para profesional keteknikan yang berhasil membangun kompetensi yang cocok dengan kebutuhan industri.

Itu mungkin yang membuat para perekayasa industri (industrial engineers) malah tidak banyak suara, karena bingung gimana ngasih tahunya bahwa tidak mudah membangun industri, dibandingkan membuat mobil saja. Takut nanti kalau ngasih tahu, diprotes: kok malah tidak mendukung sih?

Lanjutkan membaca “ESEMKA proves that technical challenges is relatively easy than industrial challenges”

Selamat Tahun Baru 2012

Tahun baru bermakna kebaruan, resolusi hidup baru, belajar hal yang baru, menemukan kembali hal “lama” menjadi baru.

Tentunya kebaruan bisa pula menimbulkan sedikit ketakutan akan timbulnya ketidakpastian baru.

Therefore, allow me to share a nice story that I read this morning:

After Observing O Sensei, the founder of Aikido, sparring with an accomplished fighter, a young student said to the master: “You never lose your balance, what is your secret?”
“You are Wrong”, O Sensei Replied, “I am constantly losing my balance. My skill lies in my ability to regain it“.

Dengan terus membarukan pengetahuan kita, maka kita akan memiliki kemampuan untuk cepat untuk beradaptasi.

Happy New Year 2012

May we keep on learning by trying new things, even finding new “old” things.

Banyak Jabatan bukan berarti Banyak Prestasi

Dalam sebuah seminar nasional baru-baru ini, terdapat pembukaan dengan beberapa keynote speaker yang telah memiliki banyak ‘pengalaman’ yang ditunjukkan oleh banyaknya ‘jabatan’ yang pernah dipegang. Seperti biasa moderator akan membacakan atau menayangkan CV yg biasanya berupa jabatan-jabatan yang pernah dijabat dan cukup memakan waktu utk dibacakan.

Karena dalam seminar ini memang berfokus kepada profesi maka tentunya penyaji keynote diminta menceritakan pengalamannya, namun yang menarik adalah cara kedua penyaji menceritakannya. Penyaji pertama bercerita tentang apa yang dilakukan, pengalaman dan prestasi disetiap jabatan sedangkan penyaji berikutnya malah berbicara hal yang lain tanpa ada penjelasan jabatannya. Asumsinya mungkin jabatannya yang banyak sudah menunjukkan prestasi.

Saya jadi tersenyum dan mengingat pesan orang tua yang selalu menyuruh saya memandang jabatan sebagai cara pengabdian hidup, bukan sebagai tujuan hidup. Prestasi yang didapat seyogyanya berasal dari apa yg kita lakukan dengan jabatan tersebut, bukan karena menjabatnya.

Banyak jabatan tidak selalu banyak prestasi. Memang banyak jabatan adalah SATU prestasi, paling tidak prestasi utk ‘diterima semua pihak’. Sebuah istilah yg saya kenal dari politikus negeri kita. Makna dari diterima semua pihak sering berarti tidak berbuat apa-apa. Seorang pejabat yang berani melakukan terobosan akan mengundang tantangan hebat karena dianggap mengganggu ‘kemapanan’. (Seperti yang sedang terjadi di kampus UI saat ini).

Pada kondisi saat ini dimana proses pengisian posisi jabatan tidak lagi berlandaskan kepada jejak rekam Profesionalisme, (P besar) dan bagi pejabat publik ditambah dengan Pengabdian, tetapi dewasa ini tergantung kepada ‘p’ (p kecil) yaitu politik, pertemanan, pertalian-keluarga dsb. Maka mekanisme ini akan menarik orang-orang dengan motivasi pencari kerja (job seeker) atau jabatan-seeker, seperti yang pernah dikemukakan oleh panitia seleksi KPK, Prof. Rhenald Kasali. Hilang sudah jenjang karir keprofesionalisme-an, karena sebagian besar posisi top management di organisasi publik diisi dari luar. Seperti yg terjadi di berbagai departemen yang seolah2 stuck tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Entahlah, kita memang sedang belajar ulang mengelola negeri ini, termasuk dalam memilih para pengayom negeri. Sayangnya kita memulainya dengan menolak semua yang lalu, tidak dengan memilih dan mempertahankan yang baik utk meningkatkan berikutnya.

Lebaran dan Perekayasa Industri

Lebaran sebagai sebuah event tahunan merupakan hal yang sangat menarik dalam kacamata perekayasa industri.

Bagaimana melakukan peramalan yg tepat dengan keterbatasan tempat inventori dari setiap jalur distribusi hingga ke toko2 atau supermarket, utk barang dengan merk apa yg sedang ‘digandrungi’ tahun ini, berapa lama shelf lifenya dst.

Bagaimana mengatasi logistik bahan makanan segar khas utk hidangan lebaran ketika jalur transportasi tersesaki oleh mudik manusia dg kendaraan pribadi.

Bagaimana mengatur lebih baik antrean, melayani penjualan tiket, menjaga operasional seluruh peralatan transport, tetap menjaga resiko pada ancaman keamanan.

Memang utk membuat atau meningkatkan layanan yang kompleks semacam ini membutuhkan keahlian multi dari perekaya industri.

The world needs more industrial engineers..
.. especially during holidays.

Happy Hari Raya Lebaran.

Mohon maaf lahir dan batin.

Mari kembali ke titik nol, sehingga kita bisa melakukan Business Process Reengineering BPR terhadap diri kita dan tempat berkarya kita.

Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat – We only see what we wanted to see

Di kuliah faktor manusia di TIUI, ada tradisi memutar video dari BBC tentang Human Senses. Sebuah serial yg membahas tentang karakteristik 5 panca indera fisik utama manusia.

Ada satu segmen tentang cara kerja mata dan bagaimana mata sebagai sebuah indera yg luar biasa mampu menangkap semua gambar obyek didepan mata. Tetapi kita juga sering mendapatkan ada orang yg tidak melihat apa yg ada dihadapannya, dan kita terheran kenapa kok tidak lihat padahal sudah jelas ada didepannya. Dalam serial ini, terdapat sebuah adegan dimana seseorang berkostum gorilla yang berkali-kali lewat didepan kamera, tetapi hampir seluruh penonton (termasuk saya ketika menonton pertama kali) tidak memperhatikannya walaupun sebenarnya mata melihatnya.

Melihat membutuhkan mata, tetapi ternyata “melihat” lebih banyak merupakan “kerja” otak daripada mata. Mata bertindak sebagai alat untuk melakukan pengambilan gambar, tetapi memberikan makna terhadap gambar adalah kerja otak. Kenapa anda tahu sebuah benda ditangan rekan anda sebuah blackberry misalnya, tetapi bukan sebuah tv atau radio mini. Karena bentuk blackberry direkam oleh otak anda sebagai blackberry, jika anda membawa blackberry ke suku pedalaman yang tidak pernah membaca koran, tv atau apapun, mereka tidak akan tahu jika itu adalah blackberry, karena otak mereka tidak pernah menangkap gambar blackberry dan tidak mengasosiasikannya dengan sejenis smartphone. Mungkin anda anda bisa dianggap dukun sakti karena bisa punya alat yang bisa “mencuri” muka orang dengan kemampuan fotonya, atau malah harus dibunuh karena dianggap dukun jahat yang mau mengambil jiwa mereka dengan memfoto mereka.

Tidak Melihat yang Seharusnya Terlihat: Tidak Mampu dan Tidak Mau

Itulah mengapa banyak orang yang tidak melihat apa yang menurut kita seharusnya mereka melihat. Bisa karena 2 hal utama: tidak mau atau tidak mampu. Lanjutkan membaca “Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat – We only see what we wanted to see”

Menciptakan Ketakutan

I must not fear. Fear is the Mind Killer. (Frank Helbert in “Dune”)

Mengamati permasalahan partai besar pemenang pemilu yang sedang disorot media massa beberapa waktu ini, seperti mengamati drama dengan berbagai adegan babaknya. Yang hebatnya adalah dramanya tidak jelas apakah drama romantis, drama komedi, drama musikal, atau jenis drama lainnya. Tetapi yang jelas ada beberapa adegan yang mirip tujuan sebuah drama horror, yaitu bermain dengan ketakutan.

Ketakutan memang luar biasa. Dari tingkat personal, dia bisa membuat kita mengubah prioritas kehidupan kita. Sejak anda kecil, anda juga dilatih dan belajar dari ketakutan, “awas lho, kalau makanannya nggak habis nanti kamu dimarahin ….” (silahkan diisi: polisi, setan, badut, petruk, atau hal-hal yang bisa menakutkan). Pada tingkat kelompok, ketakutan bisa menyatukan semua anggota kelompok menjadi satu kesatuan komando, tanpa adanya bantahan sedikit pun. Bahkan pada tingkat negara, Michael Crichton pernah menuliskan sebuah novel berjudul “state of fear”, yaitu ketika negara atau kelompok tertentu menciptakan dan mengkampanyekan ketakutan untuk menggoalkan kepentingannya. Dalam film Michael Moore, Capitalism: A love story, yang membahas tentang dampak negatif kapitalisme di Amerika, juga membahas tentang bagaimana lobby orang-orang kaya wall street untuk menciptakan suasana “memaksa” konggres/dpr menggunakan pajak uang rakyat untuk menalangi kerugian mereka.

Lanjutkan membaca “Menciptakan Ketakutan”

Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)

Hari ini di kampus, kami kedatangan seorang alumni yang berprofesi sebagai arsitek untuk mencari tenaga teknik industri untuk bekerja di grup perusahaannya sebagai asisten direktur utama yang bertugas meningkatkan efisiensi dan efektivitas usahanya. Sebuah diskusi menarik timbul karena ternyata dia ditugaskan secara spesifik ke TI karena kebutuhan yang mendesak serta pengakuan kemampuan perekayasa industri untuk  menetapkan kontrol utama kepada setiap proses sehingga kerugian akibat ineffisiensi dapat ditekan.

Berita ini menarik saya untuk menulis tentang pentingnya peran pendukung, yang terkadang tidak terlihat di luar atau langsung, tetapi berperan sangat penting dalam menciptakan "konsistensi” kualitas layanan langsungnya. Dan sebagai teknik industri pada dewasa ini, sangat besar kemungkinan anda tidak akan bekerja sebagai pemeran utama klasik sesuai bidang ilmu anda di bidang manufaktur misalnya sebagai PPIC manager, QC atau lainnya. Banyak alumni yang bekerja dibidang jasa atau dibidang manufaktur tetapi berbasis proses kimia (pabrik semen, minyak dan energi, minuman, consumer goods, farmasi dll).

Pada bidang-bidang ini, perekayasa industri memang akan banyak berperan sebagai peran pendukung dan peran pendukung ini jangan dianggap lebih kecil daripada pemeran utama, bahkan peran pendukung sebenarnya jauh lebih penting daripada pemeran utama

Lanjutkan membaca “Pentingnya Peran Pendukung (Bidang Kerja Teknik Industri 2)”