Apa itu Systems Engineering

Systems Engineering diindonesiakan pertama kali dengan sebutan Teknik Sistem, walaupun secara arti sebenarnya lebih tepat jika digunakan pengindonesiaan berupa rekayasa sistem, tetapi memang kata rekayasa itu memiliki konotasi negatif, sehingga istilah rekayasa banyak ditinggalkan. Walaupun demikian, dalam tulisan ini kita akan menggunakan rekayasa sistem sebagai penterjemahan istilah Systems Engineering.

Rekayasa sistem adalah kumpulan konsep, pendekatan dan metodologi, serta alat-alat bantu (tools) untuk merancang dan menginstalasi sebuah kompleks sistem. Kompleksitas sistem bisa diakibatkan karena 2 hal yaitu kompleksitas dinamis dan kompleksitas detail (baca artikel berikut). Kompleksitas detail ketika komponen atau sub-sistem yang dirancang tidak hanya banyak tetapi ditambah pula dengan multi-sourcing (multi suplier), multi standard, multi criteria dan lainnya.

Rekayasa sistem dewasa ini, terutama di Amerika, lekat dengan dunia militer, karena produk-produk militer memang memiliki kriteria akan kompleksitas detail seperti ini, misalnya pesawat tempur, kapal induk, sistem pertahanan rudal patrior dsb, dimana timbul kombinasi yang kompleks antara sub-sistem mekanis, sub-sistem elektronik dan sub-sistem manusia.

Disiplin ilmu sistem engineering sendiri dewasa ini sedang berevolusi untuk mencari jati diri. Sebagian besar masih bergabung dengan bidang ilmu lainnya seperti biologi, teknik industri, teknik komputer, teknik kimia (instalasi sebuah processing plant membutuhkan skill rekayasa sistem). Di teknik industri UI, rekayasa sistem menjelma menjadi sebuah kelompok keahlian yang berfokus kepada kompleksitas dinamis, yaitu kompleksitas akibat banyaknya alternatif kejadian yang terjadi pada setiap keputusan atau pergerakan sistem tadi.

Skala Kapasitas yang Besar untuk merancang Sistem Pelayanan di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke GraPari Telkomsel yang terletak di jl. Gatot Soebroto Jakarta untuk mendapatkan nomor kartu halo baru untuk kepentingan internet. Yang menarik adalah ketika saya harus mengambil waktu antrian dengan memasukkan nomor handphone saya ke dalam touchscreen sebuah stasiun antrian, sudah “diingatkan” bahwa saya akan menunggu lebih kurang 1 jam 20sekian-menit dengan rata-rata waktu layanan yang ada saat itu. Saya kira bercanda tuh stasiun, artinya dengan urutan masih 50 orang tapi dilayani oleh 10an stasiun layanan, asumsi saya stasiun itu hanya mengambil waktu terlama untuk “mengagetkan” atau “mengusir” saya jika tidak punya waktu. Ternyata stasiun itu “benar”! Saya harus menunggu kurang lebih selama itu, sehingga hampir semua sudut GraPari sudah saya dekati dan amati saking bosennya menunggu.

GraPari kelihatannya memang merupakan representasi dari telkomsel langsung, jadi akun-akun pelanggan yang ber”masalah” harus dibenahi di GraPari (terutama pengguna postpaid kartHalo). Lain dengan konsep Gerai Halo yang kelihatannya menggunakan konsep franchise dan lebih kearah sales. Apa artinya? Tentunya seharusnya sudah dapat diprediksi bahwa akan terjadi ledakan penggunaan GraPari pada waktu-waktu tertentu.

Pengalaman yang sama juga saya alami di XL Center, Plaza Semanggi ketika mengantarkan istri saya kesana. Kami harus menunggu kurang lebih 35 menit untuk mendapatkan jawaban tidak bisa, sehingga akhirnya kita memutuskan untuk menutup nomor explor XL. Yaa memang semua hal yang murah biasanya memang memiliki layanan yang sesuai dengan “kemurahan” hati saja.

Mirip dengan cerita tukang becak sewaktu saya tinggal di surabaya dulu, kalau sudah naik becak dan menawar abis dengan abang becaknya, maka kalau ada apa-apa dijalan kita ndak boleh komplain “Minta murah kok, juga minta selamat (Njalok murah kok arep njalok selamet)” Lanjutkan membaca “Skala Kapasitas yang Besar untuk merancang Sistem Pelayanan di Indonesia”

Peranan Simulasi dalam Penerapan Six Sigma

Dalam konteks six sigma maka simulasi digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam melaksanakan metodologi DMAIC Six Sigma, setara dengan 7 Tools (Basic Statistical Tools), 7 New Tools, QFD, DOE (Advance Statistical Tools) dsb. Seperti juga tools-tools lain maka kita memilih tools karena kita ingin mengetahui sesuatu yang berguna bagi langkah analisa kita selanjutnya, misalnya kita ingin tahu prioritas – maka kita gunakan pareto. Jika kita ingin tahu akar permasalahan supaya lebih fokus dan tepat sasaran solusinya – kita gunakan fishbone analysis atau interrelationship diagraph. Dimana letak tool simulasi? Jika anda punya pertanyaan what if (bagaimana jika?)

Jika dalam langkah DMAIC ada satu atau beberapa langkah anda ingin mengetahui “bagaimana jika?” maka jawabannya dapat anda “simulasikan” untuk mendapatkan gambaran: apa saja yang mungkin timbul jika anda mengambil suatu keputusan untuk melakukan sesuatu.

Apakah semua langkah dalam DMAIC bisa didukung dengan tool simulasi? menurut saya iya, walaupun secara pribadi saya baru mengalami 2 kondisi yaitu Define dan Analyse – Improve. Mari kita membatasi dahulu dalam bagian simulasi operasional, karena jenis-jenis simulasi itu luas sekali, dan diasumsikan project six sigma yang dilaksanakan bukanlah sebuah project untuk mengurangi resiko atau sebuah DFSS (Design for Six Sigma)

Contoh untuk suatu kasus define yang saya dapatkan adalah ketika ada sebuah layanan kesehatan yang berorientasi pada masa depan memiliki pertanyaan besar:

“apakah dengan peningkatan laju datang pasien ke tempat kami 2 kali lipat maka kami mampu melayani tanpai mengurangi kualitas pelayanan? (dihitung dari waktu tunggu pasien) Jika tidak, dimana dalam proses layanan kami harus meningkatkan kecepatan layanan secara signifikan?”

Pertanyaan ini masih dalam bentuk skenario tetapi merupakan acuan dalam project six sigma yang akan dilakukan – show me the future problems, I want to get ready. Jadi dalam fase define pun bisa dilakukan simulasi.

Untuk Control, kita bisa mensimulasikan apakah mekanisme control yang dilakukan akan dapat mengurangi reject atau mencapai target yang diminta dalam project charter.

Bagaimana dengan Measure?

Karena ruang lingkup simulasi sendiri luas, maka salah satu yang termasuk dalam simulasi adalah simulasi resiko (risk simulation) yang sebenarnya masuk dalam kategori simulasi matematis. Resiko berbicara tentang masa depan, tidak ada yang tahu bagaimana masa depan, sehingga yang namanya resiko adalah ketidak pastian. Ini juga berarti resiko juga berbicara what-if (bagaimana jika?).

Design for Six Sigma (DFSS) merupakan salah satu implementasi konsep six sigma yang berbicara tentang masa depan yaitu desain dari sebuah produk (atau operasi) pada masa yang akan datang. Karena desain produk akan mempengaruhi desain proses, yang berikutnya akan jabarkan dalam sebuah proses manufaktur sehingga setelah diperhitungkan maka desain yang tepat dan telah mempertimbangkan kualitas ala six sigma sejak awal akan dapat menghemat lebih besar biaya ketika diproduksi nantinya.

Dalam dunia jasa DFSS diimplementasikan mirip dengan Business Process Re-engineering (BPR) hanya berbeda dalam skala (tidak semua proses didesain ulang) dan menggunakan metode berbeda.

Kembali ke simulasi, dalam simulasi resiko menjadi tools yang cukup vital dalam DFSS(soalnya kalau saya tulis alat, bukan tools, jadinya tools vital), walaupun dalam lingkup Six Sigma ataupun lean sixsigma, simulasi resiko tetap bisa digunakan jika memang ada kebutuhan untuk itu.

Pemahaman tentang Kompleksitas Sistem

Sebuah sistem dikategorikan sebagai sistem yang kompleks karena memiliki salah satu atau kombinasi dari 2 kompleksitas: detail dan dinamis (2D).

Detail. Kompleksitas detail adalah kompleksitas dari sebuah sistem mengingat tingkat kedetailan dalam perancangan, pembuatan dan pengelolaan (3P) sangat tinggi di luar kemampuan seorang individu biasa. Konsep Systems Engineering (Rekayasa/Teknik Sistem) secara garis besar membahas teknik untuk melakukan 3P ini. Rekayasa Sistem berasal dari dunia militer (terutama di AS) yang produk-produknya sangat kompleks secara komponen karena bersifat teknologi tinggi (high tech), tingkat keselamatan yang tinggi (high safety concerns) dan tingkat adaptasi terhadap kebutuhan yang tinggi (custom product). Pembuatan pesawat terbang adalah sebuah kompleksitas detail karena merupakan orkestra rumit akibat banyaknya bagian yang harus dirangkai untuk mendapatkan satu produk.

Dinamis. Kompleksitas Dinamis adalah kompleksitas karena banyaknya kemungkinan kejadian yang bisa terjadi seiring berjalannya waktu. Sifat dinamis memang memiliki hubungan erat dengan dimensi waktu. Bermain catur adalah contoh kompleksitas dinamis ini, karena banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi dalam mengambil keputusan, dan ketika keputusan telah dilakukan (menggerakkan biji catur) terbukalah kemungkinan-kemungkinan baru yang harus dipertimbangkan.

Sebuah sistem akan memiliki sifat dinamis ketika ada unsur manusia didalamnya, karena setiap manusia adalah makhluk yang memiliki satu unsur unik: ketidakpastiannya dalam mengambil keputusan. Ditambah pula dengan kenyataan kalaupun mengambil keputusan sering tidak seperti yang diduga. itu jika satu orang manusia, bagaimana dengan organisasi yang lebih dari satu manusia yang saling berinteraksi. Sistem dengan unsur manusia sering disebut sebagai HAS – Human Activity Systems – Sistem Aktivitas Manusia, dan pasti memiliki kompleksitas dinamis.

Memudahkan vs Menganggap Mudah

Kata mudah yang diinggriskan sebagai simple ternyata memiliki banyak sekali varian:  Simply, Simplify, Simplification dan Simplicity

simple – opposite of complex, easy – mudah berarti lawan kata dari rumit

simply – merely: and nothing more – hanya – tidak lebih – kata-kata ini memiliki kesan menganggap mudah (menggampangkan)

simplify – make simpler or easier or reduce in complexity or extent – mengurangi kerumitan, memudahkan

simplification – reduction: the act of reducing complexity – usaha untuk mengurangi kerumitan

simplicity – the quality of being simple or uncompounded – atribut kualitas akibat kemudahannya

Harus menjadi tujuan dari semua perancang sistem untuk merancang sebuah sistem yang memiliki nilai simplicity dalam penggunaannya. Apalagi saat ini telah terjadi pergeseran pandangan pasar dan publik tentang kebutuhan akan kemudahan. Pada masa yang lalu, kecanggihan teknologi dilambangkan dengan fitur yang lengkap dan berarti sebuah alat/media kontrol yang canggih pula, tetapi ternyata menimbulkan kerumitan tersendiri untuk menggunakan kontrol ini. Pada masa kini kita mengenal Apple iPod dan produk lainnya yang mengedepankan kemudahan kontrol sebagai nilai jualnya, walaupun dengan tingkat teknologi yang sama atau lebih rendah.

Perbedaan Besar Memudahkan dan Menggampangkan

Tetapi ada perbedaan besar antara memudahkan dan menganggap mudah (meng-gampangkan):

Memudahkan merupakan sebuah usaha besar dan terstruktur dan beorientasi kepada penggunanya untuk mengurangi kompleksitas yang dirasakan penggunanya. Pengurangan kompleksitas dimata pengguna sebenarnya akan menambah kompleksitas bagi perancangnya.

Memudahkan tidak bisa dimulai dengan mengganggap mudah karena mengganggap mudah memiliki makna: “tidak usah terlalu dipikirkan deh”, padahal kebutuhan berfikir untuk mengurai kompleksitas sangatlah penting.

Kita sebagai perancang sistem harus berhati-hati terhadap kecenderungan penggampangan sebuah permasalahan atau perancangan karena bisa menjadi boomerang terhadap sistem kita nantinya.

Tetapi bagaimana karena mudah, produk kita dianggap tidak berkualitas?

Memang disisi lain dimata pengguna atau klien, kita harus menunjukkan bahwa kesimpulan desain yang kita dapat bukanlah karena tidak berkualitas tetapi telah melalui sebuah proses yang terstruktur. Kalau sistem tersebut memiliki unsur teknologi maka tetap kadar teknologi tidak boleh lebih rendah dibandingkan produk lain yang setara. iPod tidak akan sepopuler sekarang jika tidak ada dorongan promosi yang cukup. Dan apa yang mereka promosikan? Kami memiliki teknologi canggih yang sama (bahkan lebih) tetapi kami lebih mudah untuk digunakan.

Samakan unsurnya tetapi mudahkan penggunaannya

Simplicity is the ultimate sophistication (leonardo da vinci)