Ciri-ciri Berpikir Sistem: Sadari bahwa asumsi adalah asumsi, bukan fakta

Saya sangat sering mengikuti diskusi perdebatan yang cukup “meriah” tanpa ada yang menyadari bahwa yang diperdebatkan adalah asumsi, bukan fakta. Serunya, terkadang asumsi lebih menarik untuk diambil kesimpulan daripada faktanya. Mungkin ini penyebab kenapa kok acara gosip di Indonesia sangat populer, dan meminjam istilah orang Jakarta, acara gosip “kaga’ ada matinye”.

Asumsi adalah “pengisi celah” pada data. Saya kira kita selalu dalam kondisi informasi yang tidak lengkap ketika akan mengambil keputusan. Ketidakadaan informasi lengkap ini kita tutupi dengan asumsi. Asumsi dibangun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita, bukan berasal dari data. Sedangkan pengalaman atau pengetahuan dibangun terkadang tidak oleh kita sendiri, tetapi oleh orang lain yang “ditularkan” kepada kita.

Jangan letakkan asumsi sejajar dengan data fakta, tetapi harus ada bobot berbeda, dan ini harus disadari bersama jika dilakukan dalam sebuah rapat untuk mengambil keputusan.

Ciri-ciri berpikir sistem: Mencari Titik Ungkit

Titik ungkit atau leverage, merupakan salah satu kata yang penting dalam berpikir sistem. Konsep untuk mencari leverage atau titik ungkit dapat dikatakan merupakan ciri khas dalam berpikir sistem yang membedakannya dalam analisa biasa.

Jika kita ingin memindahkan sebuah batu besar dan berat, maka cara yang paling baik mencari papan panjang atau besi panjang, kemudian mencari pijakan titik ungkit (dengan batu kecil atau kayu balok), sehingga kita bisa memanfaatkan perbedaan panjang lengan gaya untuk bisa mengungkit batu tersebut. Titik ungkit bisa kita geser-geser untuk mencari gaya terkecil yang perlu kita berikan tanpa mematahkan papan atau besi yang kita gunakan.

Logika yang sama juga digunakan dalam berpikir sistem, dengan pemahaman secara sistemik terhadap sistem yang ada, yang berarti mengidentifikasikan hubungan-hubungan antara variabel, kita bisa menvari variabel yang dapat memberikan kita hasil ungkit yang signifikan dengan usaha yang tidak besar.

Dalam  Thinking in Systems, karya terakhir dari almarhum Donella Meadows, ditulis ada 12 titik umum yang bisa kita cari dalam sistem yang merupakan kandidat dari titik ungkit, saya akan sajikan 3 diantaranya Lanjutkan membaca “Ciri-ciri berpikir sistem: Mencari Titik Ungkit”

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Cari, Perjelas, dan Sejajarkan Tujuan Sistem

Sistem memiliki tujuan. Sadari bahwa tujuan bersifat dinamis. Dinamis berarti berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya, dinamis terjadi akibat umpan balik dari lingkungannya. Perubahan lingkungan ini mencakup berjalannya waktu, perubahan lokasi, perubahan struktur fisik maupun non-fisik dan perubahan lain yang signifikan merupakan umpan balik.

Carilah tujuan sistem saat ini. Apakah tujuan sistem merupakan evolusi dari tujuan lalu? Bagaimana tujuan sistem nantinya? Apakah tujuan sistem berubah pada lokasi yang berbeda (contoh: apakah tujuan dari kantor pusat, diterjemahkan berbeda pada kantor cabang). Apakah tujuan juga berbeda-beda antara tujuan bersama (tujuan organisasi) dengan tujuan individu?

Perjelaslah tujuan. Komunikasi verbal maupun tulisan memiliki keterbatasan dalam menyampaikan informasi. Semua kata bisa memiliki lebih dari 2 makna. Kata “rekayasa” yang pernah menjadi kata utama pengganti “engineering”, telah diberikan stigma negatif ketika digunakan oleh media massa untuk menggambarkan suatu proses yang tidak baik. Hingga sekarang dunia engineering, masih kebingungan menemukan kembali apa yaa kata yang tepat yang menunjukkan rekayasa. Jadi perjelaslah tujuan, termasuk memperjelas interpretasi dari tujuan. Gunakan 7-7-7 rules dalam komunikasi, ulangi pesan dengan 7 kali dengan 7 cara melalui 7 media berbeda.

Sejajarkan tujuan sistem. Terkadang kita lupa bahwa setelah organisasi menetapkan tujuan baru dalam sebuah rencana strategis, maka langkah terpenting adalah “menyelaraskan” tujuan, yaitu suatu proses komunikasi, sehingga terjadi pergeseran tujuan yang masih sejajar dan pelemahan terhadap tujuanyang bertentangan. Hal ini penting sehingga tidak ada interpretasi yang terlalu berbeda terhadap tujuan sehingga bisa melambatkan arah. Mirip dengan aturan keluar masuk bus, biasanya yang turun di dahulukan baru yang naik. Apa yang terjadi jika interpretasinya beda?

Apakah berbeda berarti bertentangan?

Istri saya mengemukakan kesimpulan pengamatannya yang menarik ketika makan siang hari ini, yaitu apakah karena kita berbeda pendapat maka kita berarti bertentangan? Sebuah pertanyaan yang menarik pada masa “pendewasaan” kebangsaan Indonesia, yang sedang tumbuh dengan semakin besarnya pengaruh media yang tidak lagi bisa dikatakan netral. (kalau dipikir-pikir, ada nggak yaa di negara manapun dunia ini, yang mengaku demokratis, media nasional yang benar-benar netral?)

Kasusnya sendiri bukan dipicu oleh kasus nasional yang ada saat ini, tetapi lebih “mikro”, yaitu keluhan ibu mertua saya yang bingung sama ketua organisasi sosial yang diikutinya ketika mengambil beberapa keputusan yang memiliki dampak organisasi tetapi tidak melakukan usaha untuk meminimalisasi dampak ini. Bahasa singkatnya: melarang ini itu yang berakibat organisasinya nggak bisa berbuat apa-apa, tetapi tidak ngasih jalan keluar. Ibu mertua saya ingin mendebat atau mengemukakan pendapatnya tetapi takut karena “berbeda” nanti dianggap menantang, apalagi ngerasa sendirian.

Memang dalam dunia politik dan media, kita digiring untuk menjadi lawan atau kawan dari suatu isu, padahal mereka tahu bahwa tidak ada kondisi politik yang benar-benar hitam dan putih, semua memiliki gradasi warna yang halus. Semua yang hitam mengandung putih, semua yang putih mengandung hitam.

Apa artinya? kita seperti sedang diajarkan bahwa berbeda itu berarti menentang, padahal berbeda memiliki pengertian yang jauh beda dengan menentang apalagi menantang. Berbeda adalah berbeda. titik.

Berbeda memiliki makna positif, yaitu ada yang kritis dan ingin mengetahui logika pengambilan keputusan. Berbeda memiliki dampak positif, yaitu membuka kesempatan untuk melakukan dialog dan argumentasi sehat untuk saling mengeksplorasi perbedaan pendapat.

Berikanlah kesempatan untuk berbeda, tanpa harus menganggapnya menentang.

Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara

Dalam berpikir sistem kita menyadari bahwa sebuah data yang sama bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang berbeda. Illustrasi yang sering saya berikan di kelas adalah pengalaman pribadi saya ketika mengantar seorang professor dari Jepang yang ingin melihat langsung pasar “tradisional” di Indonesia. Ketika saya malu mengantarkan dia berdarmawisata di pasar, dia dengan santai mengatakan kepada saya, “you are lucky, you have so many rooms of improvement here” : Anda beruntung, anda punya banyak sekali kesempatan untuk memperbaiki disini. Kebetulan profesor ini juga seorang ahli kualitas, dan mencari topik kualitas di negara dia mungkin lebih “sulit” daripada di negara kita. Jadi: Same Data, Different Conclusion.

Proses pengambilan kesimpulan ini disebut proses tangga inferensial (ladder of inference), yaitu dari data yang netral ke proses-proses pengolahan data yang sangat subyektif dan terkadang emosional. Inferensial didefinisikan adalah prose pengambilan keputusan dari data yang kita berikan. Kita akan membahas proses-proses selanjutnya dalam tulisan yang lain, tetapi saya ingin memulainya dengan proses awal yang sangat penting yaitu ketika data pertama kali hadir didepan kita untuk kita simpulkan.

Lanjutkan membaca “Ciri-ciri Berpikir Sistem: Fokus kepada Data/Pesan, jangan terganggu dengan Nada/Cara”

Sistem adalah Bulat

Ketika saya mengikuti sebuah acara tentang sosialisasi GCG oleh BPKP, salah seorang penyaji menggambarkan sebuah proses siklus dalam penerapan GCG, dan kemudian memberikan pernyataan yang meng-gelitik telinga saya. Penyaji menggambarkan bahwa siklus tersebut bulat, dan karena bulat berarti sistem.

Bulat berarti Sistem

Sebuah pernyataan yang menarik, karena salah satu cara menguji sebuah “kelompok” adalah sistem, dan bukan hanya kumpulan komponen adalah dengan melihat apakah ada siklus umpan balik. Bentuk penggambaran umpan balik berupa lingkaran . Lingkaran adalah bulat. Cara menggambarkan siklus memang biasanya dengan bulatan. 

Jadi apakah berarti bulat memang sistemik? Secara logika memang bisa diterima bahwa bulat bisa menunjukkan prediksi awal bahwa terjadi kondisi sistemik, terutama pada sistem-sistem sederhana yang hanya memiliki 1 “bulat”an – 1 causal loop, tetapi untuk mengatakan bahwa memang terjadi gejala sistemik perlu ditelaah lebih dalam.

Ha ini karena kata siklus berkonotasi kepada reinforcing loop, yaitu umpan balik yang terus menerus bertambah, bisa bertambah naik atau turun, bertambah tinggi atau rendah. Persepsi siklus biasanya tidak menggambarkan balancing loop, umpan balik yang menyeimbangkan yang menahan sehingga “siklus” tidak terus menerus bertambah. Padahal ciri ini juga penting dalam memahami gejala sistemik dari sebuah sistem. Kita perlu memahami keduanya.

Bisa bukan berarti Boleh

“Menikmati” perjalanan pagi ke kampus beberapa hari yang lalu, saya dihujani oleh pemandangan yang “asyik” dari para pengemudi kendaraan bermotor yang memasuki jalur busway (atau bahasa aslinya dedicated buslane), saya jadi bertanya-tanya, kenapa yaa kok mereka melakukannya?

Sebelumnya perkenalkan prinsip saya dulu, saya punya prinsip pribadi yang mengatakan kalau orang berbuat salah, maka yang pertama kali yang harus saya cari tahu penyebabnya adalah kenapa sistemnya “membiarkan” dia salah, bukan menyalahkan pribadinya terlebih dahulu.

Nah, saya baru sadar bahwa konsep “pencegahan” yang biasa kita lakukan memang cenderung ekstrem, kita mencegah supaya orang tidak bisa melakukannya. Kita belum mencapai titik dimana orang tidak boleh melakukannya. Mirip kalau anak kecil dirumahnya mau dilarang makan permen yang tersaji di meja, buat tamu alasannya. Maka kita menyatakan tidak boleh, kalau si anak ini terdidik dengan baik, memiliki nilai pribadi yang ditanamkan dengan kuat, maka yang terjadi dia akan menuruti larangan tersebut (tidak boleh). Tapi cara lainnya ada, yang tidak bisa, yaitu bagaimana kalau anak tersebut kita ikat atau kita kurung dikamar.

Lanjutkan membaca “Bisa bukan berarti Boleh”