Banjir Jakarta, Pemadam Kebakaran, BPBD

Saya dulu pernah tidak sengaja terlibat dalam pengembangan sistem bantuan sosial ketika banjir jakarta 2002. Terjebak di balai kota dengan guru saya yang kebetulan adalah pejabat di jakarta membuat awal pengalaman saya mempelajari sistem manajemen bencana di kota-kota dunia. Ada beberapa hal yang akhirnya saya pelajari dan coba terapkan namun berhadapan dengan sistem birokrasi daerah dan nasional yang tidak memiliki pemahaman siklus bencana membuat rancangan sistem ini tidak berhasil. Namun sisa-sisa sentuhan perubahan itu sebenarnya masih bisa dilihat misalnya kenapa kok pemadam kebakaran (damkar) bisa lebih banyak peran lapangannya dibandingkan dengan BPBD atau badan penanggulangan bencana daerah. Atau kan ini bukan kebakaran, ada apa kok kirim pemadam kebakaran. Ini karena amanat BPBD di salah artikan.

Berikut penjelasan konsep ini:
Lanjutkan membaca “Banjir Jakarta, Pemadam Kebakaran, BPBD”

Tips Slide Presentasi Skripsi

Dalam merancang slide presentasi, terutama untuk sidang seminar atau skripsi, saya sering mendapatkan rancangan slide yang memiliki banyak kelemahan sehingga terkadang menimbulkan kekesalan penguji sidang ujian. Tentunya sudah kesal dari awal, tidak akan baik buat mahasiswa yang bersangkutan.
image

Berikut ini kumpulan tips mengenai rancangan slide presentasi yang akan saya coba selalu update setiap kali saya menemukan kesalahan baru. Semoga membantu.

  • Perhatikan pada semua gambar yang mengandung teks, biasanya berupa flowchart (terutama flowchart metodologi penelitian), untuk dipastikan teksnya mudah dibaca. Jangan copy paste langsung gambar dari aplikasi lain karena biasanya akan mengecil dan akibatnya  sulit untuk dibaca tulisannya. Dosen anda tidak semuanya masih muda, banyak yang sudah senior, sehingga pastikan anda menggunakan huruf besar dalam materi presentasi. Saran saya selalu buat ulang gambar grafik di slide presentasi.
  • Huruf slide adalah simple, jenis huruf yang jelasukuran huruf yang bisa dibaca dari jarak 10 m dari dinding. Memang ada perbedaan minimum size font untuk ruangan kecil (min 18 pt ) dan ruangan besar (min 24 pt ) untuk font body. Lanjutkan membaca “Tips Slide Presentasi Skripsi”

Jakarta, Banjir, dan Akhir Tahun Anggaran

Memasuki akhir tahun 2012, Jakarta kembali dihadapi oleh ancaman bencana banjir. Setelah lolos dari ancaman kiamat dunia versi orang maya, akhirnya kita memang harus menghadapi ancaman dampak perubahan iklim. Suatu ancaman yang manusia memiliki kontribusi dengan keborosan kita mengkonsumsi sumber daya alam jauh diatas kemampuannya regenerasi.

Jakarta akan selalu terancam banjir yg memang selama permasalahan sistemiknya belum terpecahkan maka akan selalu menghantui kota ini. Warga Jakarta sebenarnya sudah mampu beradaptasi dengan ini, terlepas dengan hingar bingar media yang suka sekali berita negatif heboh, bencana banjir jakarta merupakan bencana yg relatif “mudah”.
Lanjutkan membaca “Jakarta, Banjir, dan Akhir Tahun Anggaran”

Balas Budi atau Balas Dendam

Beberapa waktu yang lalu saya menemuni seorang kawan lama yang masih aktif di pemerintahan dan berdiskusi soal pimpinannya yang baru saja terpilih  memenangkan proses demokrasi di daerahnya. Dia mengeluh karena sedang merasa menerima balas dendam dari pimpinannya yang baru, karena adanya persepsi bahwa dia dan kawan-kawannya “membela” pimpinan yang lama. Dalam pembelaannya dia bercerita tidak mungkinlah dia melanggar perintah pimpinannya yang lama, karena loyalitas kepada pimpinan adalah penting, siapapun itu, yang lama maupun yang baru.

Saya jadi mengingatkan dia akan diskusi yang berbeda terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika sang kawan lama yang sama, mengeluh pula bahwa dia harus menanggung tanggung jawab balas budi ketika pemimpinnya sebelumnya berganti. Banyak sekali teman-teman sang pemimpin yang datang dengan membawa pesan-pesan khusus, karena sebelumnya telah mendukung sehingga membutuhkan penggantian usaha yang dilakukan. Ketika saya tanyakan apakah tetap harus melakukan hal yang sama, dia mengatakan tentu saja beberapa sudah melakukan sinyal-sinyal yang sama, sambil menunggu masyarakat berkurang kepeduliannya terhadap pimpinan baru. Misalnya setelah 100 hari, dsb.

Kata relawan kan untuk kampanye, sebagian dari mereka tidak benar-benar “rela” sepenuhnya, ada yang memiliki budi pamrih ketika membantu. Banyak relawan, yang menjadi pamrih-wan atau budi-wan. Jadi sekarang si kawan saya ini kena dua hal sekaligus: balas dendam DAN balas budi. Lanjutkan membaca “Balas Budi atau Balas Dendam”

Tetaplah berbasis Fakta: Pil-kada, Pil-rek UI dan Pil-Obat

It’s amazing that the amount of news that happens in the world every day, can always just exactly fits the newspaper. (Jerry Seinfeld)

A newspaper consists of just the same number of words, whether there be any news in it or not (Henry Fielding)

Beberapa waktu ini setiap saya bertemu teman lama, bertamu dan sedang keluar kota, salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada saya (dan hampir pasti diajukan adalah): Gimana UI? Siapa yang akan jadi Rektor? atau Seru tuh Pilkada DKI? Siapa yang akan menang?

Terlepas kepakaran saya di bidang pemodelan sistem yang banyak dipakai untuk mensimulasikan masa yang akan datang, saya bukanlah ahli nujum yang bisa memprediksi sebuah proses kompleks demokrasi, yang asumsi dan batasannya sulit sekali didefinisikan sehingga tidak mungkin dimodelkan. Namun dengan semangat kesopanan, saya akan melakukan 1 hal dalam jawaban saya: Yuk tetap berbasis kepada Fakta dalam mengambil keputusan terhadap berbagai “Pil” ini.


Dalam sebuah dialog internasional beberapa waktu yang lalu, seorang ekonom indonesia menceritakan pengalaman dia mengikuti sebuah sesi pertemuan di amerika yang salah satunya membahas kondisi Indonesia. Beliau bercerita bahwa salah seorang peserta mengatakan bahwa perkembangan ekonomi Indonesia tidaklah bisa dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia secara langsung, karena hanya Indonesia yang telah melakukan 2 perubahan besar sekaligus: struktur politik (orde baru ke reformasi) serta struktur pemerintahan (sentralisasi ke desentralisasi). Di negara lain biasanya hanyalah salah satu. Dalam sebuah perubahan, akan ada kebutuhan waktu untuk beradaptasi; semakin besar perubahannya, semakin lama waktu adaptasi yang dibutuhkan; semakin variatif perubahannya, semakin lama pula waktu adaptasinya; jadi semakin besar dan variatif? …. . Oh lanjutkan ceritanya: si peserta memuji Indonesia yang berani melakukan ini dan ternyata berhasil melaluinya (paling tidak hingga sekarang).

Jadi bangsa ini juga sedang melakukan proses adaptasi, termasuk juga untuk cara memilih pemimpinnya, yang juga berimbas ke kampus secara umum dan kampus UI secara khusus. Begitu banyak kepentingan dan “nostalgia” perjuangan di kampus UI, sehingga sebuah urusan yang biasanya masuk ke ranah organisasi, menjadi meningkat ke ranah politik nasional yang sarat dengan berbagai kepentingan yang tidak semuanya berujung ingin memajukan organisasi UI. Kemudian yang berpolitik bukanlah orang-orang yang bekerja mendedikaskan diri didalam organisasi tersebut. Ini sama saja dengan pemilihan lurah di Cikeas, bisa menjadi isu nasional, karena kebetulah ada presiden tinggal disitu. (untungnya dpr atau mendagri tidak kepentingan yaa di cikeas)

Teman-teman saya alumni UI ada yang mengatakan “malu” kenapa kok UI seperti itu, yang saya jawab bahwa seharusnya mereka sih bangga bahwa begitu banyak orang masih melihat UI sebagai simbol negara ini. Carut marutnya UI menunjukkan carut marutnya bangsa kita yang masih beradaptasi ini, dengan berbagai “eksperimennya” Dulu rektor dipilih oleh menteri, kemudian MWA, kemudian menteri lagi, nanti MWA lagi dst. seperti sebuah bandul yang bergerak dari ekstrim kiri dan kanan. Namun memang kita semua perlu “malu” jadi orang Indonesia, lah wong urusan sebuah kampus saja kok jadi urusan nasional.

Dengan alasan yang sama pilkada dki juga penuh dengan kepentingan, pemilih dki yang hanya 5 jt yang hidup dan tinggal di Jakarta, akan dibombardir dari berbagai hiruk pikuk ranah politik. Berbagai komentar dari publik nasional yang mungkin: (1) tidak pernah tinggal lama di Jakarta (2) hanya bekerja di Jakarta tetapi tinggal di daerah lain, mendominasi informasi yang beredar. Semuanya akan pasti sulit diproses, saya sendiri suka bercanda lagi sama teman-teman saya soal pilkada dki, eh yang tidak punya KTP Monas dilarang protes (simbol KTP di Jakarta adalah monumen nasional), yang berhak protes cuma yang punya KTP Monas, kan kita yang tinggal disini.

Dua fenomena yang saat ini sedang berjalan ini mirip dengan cerita teman saya ketika  memilih pasangan hidup di keluarga besar, yang mau nikah siapa tapi yang berkomentar, berpendapat keras, (namun biasanya sih nggak sampai pake demo), bisa menjadi topik berbulan-bulan dengan berbagai macam perasaan campur aduk, ada tangisan, ada tertawaan dan lain sebagainya. (mirip yaa ama pil-pil ini).

Dalam masa adaptasi, maka hiruk pikuk proses belajar akan sangat keras. Mirip anak taman kanak-kanan atau sekolah dasar yang sedang belajar. Hiruk pikuk ini harus disaring untuk membedakan mana hiruk pikuk belajar atau hiruk-pikuk bukan sedang belajar. Bagaimana caranya? Tetap berbasis kepada fakta bukan opini.

Apa fakta perubahan (angka) yang dilakukan oleh para kandidat tersebut (pertumbuhan finansial, pertumbuhan efisiensi organisasi, infrastruktur,dll). Oke jika memang beda skala, yuk kita skalakan, tapi tetap gunakan angka (fakta). Gunakan selalu kacamata kritis ketika melihat media, pilihlah untuk mendengarkan pengamat yang memang obyektif dan menjelaskan pola pikirnya – bukan “pengamat” yang subyektif dan hanya memberikan kesimpulan saja. Berita baik tidak akan mudah anda dapatkan, karena tidak menjual, maka saya sangat menghargai usaha beberapa teman melalui web atau jaringan sosial yang menyebarkan berita baik dan kisah sukses. Ingatlah selalu bahwa media adalah sebuah usaha bisnis, dan “bad news sell best”

Sama dengan memilih Pil untuk obat, seorang dokter pasti akan menguji lab untuk mendapatkan indikator obyektif kondisi badan anda, untuk melengkapi berbagai komplain yang diucapkan pasiennya. Karena komplain adalah gejala, bukan problemnya. Sama dengan hiruk-pikuk ini, ini adalah gejala bukan faktanya. Carilah fakta, carilah data. Dan jangan pula membentuk data sedemikian rupa untuk membenarkan apa yang salah atau membenarkan perasaan saja, karena perasaan anda bisa saja salah, pandanglah data dengan obyektif.

Pajak Kendaraan Pribadi: Pergeseran Paradigma Membeli, Memiliki, Menggunakan

Saat ini di Lab SEMS sedang ada penelitian mengenai dampak kebijakan low carbon transport di Jakarta dengan menggunakan model pembangunan berkelanjutan Jakarta berbasis sistem dinamis.  Salah satu yang akan dibahas adalah penerapan ERP atau Electronic Road Pricing sebagai salah satu komponen dalam manajemen transportasi kota serta sumber pendanaan tambahan (bukan utama) untuk mendukung transportasi publik. Maju mundur ERP terlepas dari masalah operasionalnya (singapura berhasil karena 1 pulau adalah 1 negara, jadi misalnya plat nomer, nggak ada yang pake plat nomer surabaya untuk masuk ke jakarta), ternyata yang terpenting adalah menuntut perubahan paradigma tentang pajak kendaraan pribadi.

Saya bayangkan kalau saya menjadi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maka saya akan menghadapi buah simalakama untuk menerapkan transportasi publik. Di satu sisi, pajak daerah terbesar di Jakarta adalah berasal dari pajak kendaraan baru. Manusia Jakarta semakin makmur semakin mendambakan memiliki mobil sebagai simbol status, yang kalau bisa punya lebih dari 1. Di sisi yang lain, fokus ke transportasi publik akan menjebol anggaran operasional pemerintah provinsi karena harus secara langsung membiayai “subsidi” dari operasional layanan publik.

Mungkin itu sebabnya kenapa fokus pembangunan infrastruktur transportasi lebih ke arah jalan (road based) , karena tinggal bangun dan pelihara jalan, maka orang akan membeli mobil atau motor untuk menggunakannya, efek dominonya adalah industri mobil yang berkembang dst. Mudah dan lebih murah, terlepas efek ekonomi negatif akibat kemacetan.

Jika berbasis kepada rel (rail based) maka biaya investasi, pemeliharaan dan operasional akan menjadi perdebatan yang tak ada habisnya (lihat aja PT KAI dan komuter linenya). MRT Jakarta misalnya, jika harus mendapatkan subsidi operasional nantinya karena tiketnya dipatok murah sesuai dengan keinginan wakil rakyat (DPRD) maka setiap tahun dalam bayangan saya harus mengajukan anggaran subsidi. Lah iya kalau APBD berjalan lancar pembicaraannya dan diketok Desember, kalau tiba-tibak diketoknya terlambat karena sok berantem, dan mundur diketoknya bulan februari. Apakah berarti MRT harus berhenti beroperasi? Kalau ndak, harus utang dulu dong, utang ke siapa? Kalau utang pake bunga komersial bisa diperiksa KPK karena “berpotensi” merugikan negara.

Lanjutkan membaca “Pajak Kendaraan Pribadi: Pergeseran Paradigma Membeli, Memiliki, Menggunakan”

Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking

Ketika saya sedang membangun model sistem dinamis pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia, ada satu konstanta yang secara elegan diberi nama “budget effectiveness”, yang dihubungkan dengan variabel government spending (belanja pemerintah). Penterjemahan lapangan dari konstanta ini adalah “korupsi”. Tentunya dalam disertasi saya setelah dipertimbangkan dengan seksama akhirnya diputuskan untuk menghilangkan seluruh aspek politik sehingga nilai konstanta yang saya berikan adalah 100%, namun dalam prosesnya saya bertanya-tanya berapa nilai seharusnya yaa apakah 80% (20% korupsi), 75%, 70%, dan 60%. (Jadi ingat masa-masa jadi konsultan pemerintah, yang ternyata berbeda-beda, tidak ada konsensus nasional).

Sebagai Perekayasa Industri, saya menjadi tertarik untuk apakah memungkinkan melihat korupsi dalam kacamata kita, dan sementara ini kacamata yang cocok adalah kacamata ilmu lean thinking (lean management) dengan memandang korupsi sebagai waste. Lean adalah sebuah pola pikir untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi proses sehingga didapatkan aliran yang paling efisien untuk memberikan nilai yang diharapkan oleh pelanggan akhir. Karena berbasis pada pelanggan, maka proses yang dilakukan secara tidak langsung akan efektif. Jadi efisien dan efektif sebagai tujuan akhir perekayasa industri secara bersamaan dapat dicapai.

Nah kalau sebuah korupsi adalah waste, maka apakah dalam tools dan methods yang digunakan dalam lean ada yang bisa dipakai untuk mengatasinya?

Lanjutkan membaca “Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking”