Apa arti R&D dalam Kacamata Rekayasa Sistem

Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman dekat yang merupakan CEO perusahaan energi, terlontar sebuah pernyataan menarik tentang persepsi dia tentang fungsi pendekatan rekayasa sistem dalam fase research and development.

Dalam diskusi yang terjadi, kacamata sistem dalam sebuah aktivitas research berarti menguraikan dan memetakan kompleksitas sebuah sistem baru yang akan dirancang. Sistem baru ini dalam dunia usaha adalah usaha baru, market baru, pengembangan produk atau layanan baru yang kompleks dan tidak sederhana.

Peran riset penting karena sistem tidak diketahui bagaimana bentuk seharusnya atau idealnya, akibat tidak adanya sistem sejenis atau setara di dunia nyata. Maklum kan sistem ini baru. Bisa saja sudah ada, namun tentunya yang sudah punya, tidak akan melepaskan resep rahasia sistemnya buat orang lain untuk ditiru. Lanjutkan membaca “Apa arti R&D dalam Kacamata Rekayasa Sistem”

Tips bagi Alumni Teknik Industri sebagai Pegawai Negeri Sipil PNS (bag 2): Siklus Dasar Pemerintahan

Ketika bekerja di lingkungan pemerintahan, maka pelajaran utama yang saya dapatkan dalam menganalisa sistem pemerintahan adalah fokusnya terhadap siklus tahunan dasar pemerintahan dari perencanaan hingga pertanggungjawaban.

Siklus ini yang mengakibatkan kenapa kok program pemerintah suka “lupa ingatan” dan membuat pegawai pemerintah jarang menggunakan kemampuan fungsionalnya tetapi malah sibuk mengembangkan kemampuan “administratif”.  Ini karena siklus ini berhubungan erat dengan proses pengadaan barang dan jasa pemerintahan yang biasanya cukup menyita waktu.

Lanjutkan membaca “Tips bagi Alumni Teknik Industri sebagai Pegawai Negeri Sipil PNS (bag 2): Siklus Dasar Pemerintahan”

Katakan TIDAK untuk YA yang lebih besar

Salah satu kesulitan yang sering saya hadapi adalah untuk menolak ketika ada kawan atau tamu yang meminta waktu untuk bertemu atau bantuan, padahal saya sedang memiliki banyak hal yang penting yang harus saya lakukan.

Mengucapkan “tidak” menjadi sulit bagi saya pribadi karena ada semacam dorongan untuk menjadi orang baik dengan persepsi bahwa kita harus selalu membantu teman atau menerima tamu. Walaupun ini sebenarnya tidak tepat. Karena jika memang teman adalah teman dan tamu adalah tamu yang sopan, tentunya dia tidak perlu marah atau menganggap kita adalah orang yang tidak baik jika kita tolak setelah kita berikan alasannya. Kita juga bisa minta waktu lain yang lebih longgar nantinya. Dia akan mengerti dan seharusnya tidak menganggap kita orang yang tidak baik karena menolak. Karena jika itu yang terjadi maka sebaiknya anda tidak berteman dengan dia.

Ada sebuah kalimat mutiara yang saya pakai dalam situasi semacam ini yaitu kita harus bisa berkata tidak untuk mendapatkan ya yang lebih besar. YA yang lebih besar adalah hasil dari pekerjaan yang memang harus kita lakukan untuk kepentingan kita sendiri. Buat apa kita mengiyakan banyak hal tapi akhirnya untuk hal hal yang penting kita TIDAK bisa meraihnya.

Prinsip ini juga diterapkan dibidang keilmuan teknik industri yaitu lean operations atau lean management. Sebuah prinsip manajemen operasi yang berfokus untuk melakukan proses penting dan berhubungan erat kepada pembuatan nilai tambah bagi pelanggan . Segala macam hal yang tidak berhubungan erat dikatakan tidak supaya YA yang dihasilkan bagi pelanggan menjadi optimal dengan cara yang paling efisien.

Prinsip budaya 5S merupakan perwujudan dari tidak untuk hal hal kecil supaya dapat hasil YA yang lebih besar. 5S: seiri, seiton, seiso, seiketsu, and shitsuke diterjemahkan ke bhs inggris menjadi Sort, Straighten, Sweep, Standardise and Sustain, lalu sering diindonesiakan menjadi 5R: Ringkas, Rapi, Rawat, Resik dan Rajin. Budaya disiplin melakukan 5S menjadi landasan budaya dalam melakukan perbaikan terus menerus ala lean management.

Ilustrasinya adalah jika meja kerja kita menggunakan 5S maka karena semua rapi dan ada pada tempatnya maka kita bisa bekerja diatas meja dengan lebih efisien. Jika berantakan dan kita butuh gunting maka waktu akan terbuang untuk mencari gunting. Atau  yang lebih parah lagi  kita baru sadar bahwa kita tidak punya gunting. Ini membuat 5S juga bisa menunjukkan kepada organisasi untuk melakukan identifikasi inti masalah yang lebih penting karena tidak terbebani oleh masalah rutin akibat ketidakdisiplinan.

Sudahkan anda katakan Tidak untuk Ya yang lebih besar?

Lebaran dan Re-engineering dalam Teknik Industri

Salah satu makna lebaran adalah memulai kembali berjalannya kehidupan dengan kertas putih baru melalui arti dari Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah. Setelah kita umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh maka manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu konsep Business Process Re-engineering atau BPR yang pernah populer di tahun 80an sebagai sebuah konsep peningkatan kualitas yang luas, menyeluruh serta radikal dan berbeda dengan business process improvement yang bersifat lebih kecil. BPR memiliki pesona karena siapa yang tidak mau memiliki kemampuan yang meloncat jauh ke depan sehingga sulit atau lama akan dapat disamakan oleh kompetitor. Namun konsep ini ternyata banyak sekali memiliki syarat yang harus dipenuhi sehingga ketika ada satu syarat saja yang kurang siap maka hasilnya akan tidak sebanding dengan pengorbanan yang harus dilakukan. Sehingga pada akhir 90an banyak yang lempar handuk terhadap konsep ini dan tetap memilih BPI bukan BPR karena memiliki resiko lebih kecil.

Lanjutkan membaca “Lebaran dan Re-engineering dalam Teknik Industri”

Golput berarti Memilih yang Menang

Melihat pilkada yg sedang berlangsung di suatu daerah hari ini, saya jadi teringat diskusi dengan seorang teman tentang pemilu. Sang teman menanyakan kepada saya siapa yg saya pilih, kebetulan yang saya pilih kemarin akhirnya menang. Namun ternyata kinerja pemimpin ini biasa-biasa saja, tidak ada yang benar benar Baru seperti yang dijanjikan. Dia menertawakan saya dan dengan bangga menyatakan diri bahwa dia Golput kemarin. Dia merasa lebih bebas karena tidak harus bertanggung jawab karena tidak memilih.

Saya bingung dengan logika ini, karena menurut saya Golput bukan berarti tidak memilih. Tidak memilih berarti membiarkan orang lain memilih. Membiarkan orang memilih sehingga kemudian menang, berarti kita setuju dengan pilihan itu. Yaa berarti sama saja dong dengan memilih yang menang. Memilih yang menang berarti tetap bertanggung jawab kan atas pilihannya atau dalam kasus ini Golput nya

Saya sih ndak mau dipilihkan orang lain. Ini kan bukan jamannya siti nurbaya.

Apa kompetensi puncak seorang teknik industri?

Kompetensi Puncak merupakan terjemahan dari capstone competency. Capstone merupakan singkatan dari “captain stone”, yaitu ada batu kapten. Seorang kapten biasanya berada di depan atau diujung paling atas dalam sebuah rantai komando di lapangan, sehingga istilah ini artinya adalah kompetensi yang merupakan gabungan kombinasi dari berbagai kompetensi sebelumnya atau dasarnya.

Istilah ini penting dipahami bagi perekayasa industri, karena bisa menjelaskan mengapa struktur perkuliahan di TI dirancang seperti sekarang. Namun penjelasannya tidak mudah jika tidak mengerti peran dan pentingnya Captain Stone.

Captain Stone sangat penting karena tanpanya, struktur dibawah akan berantakan. Sama dengan sebuah regu tentara, tanpa pimpinan yang menyelaraskan maka regu akan tidak mencapai produktivitas maksimum bahkan bisa tercerai berai.
image

Jadi di Teknik Industri, capstone memiliki 2 makna utama.

Lanjutkan membaca “Apa kompetensi puncak seorang teknik industri?”

Ketika Tanggung Jawab menjadi 2 Kata bukan 1 kata

Dalam acara di UI tentang kepemimpinan yang diisi oleh Pak Jusuf Kalla, sang moderator acara memberikan sebuah komentar menarik tentang definisi tanggung jawab.

Bagi saya, tanggung jawab adalah sebuah kata yang berarti kita harus menanggung sebuah keputusan dengan menjawabnya secara hukum atau publik. Namun sang moderator ternyata bergurau bahwa dalam sistem politik yang populer berbasis media saat ini, tanggung jawab tidak lagi menjadi 1 kata, karena ada orang yang menjawab dan orang berbeda yang menanggung.
Artinya para pemimpin saat ini suka menjawab supaya populer namun akan ada orang lain yang menanggung proses dan akibat dari jawaban tersebut.

Awalnya saya pikir sang moderator bergurau saja, namun akhirnya sadar ini yang terjadi. Saya melihat pemimpin nasional dan daerah yang suka menjawab namun ternyata ketika harus mengambil keputusan berupa surat keputusan tidak mau dilakukan karena takut menanggung dampak politik maupun hukum. Mereka memaksa sang anak buah atau orang lain untuk untuk menanggungnya padahal diluar kewenangan mereka.

Lanjutkan membaca “Ketika Tanggung Jawab menjadi 2 Kata bukan 1 kata”