Tentang kebijakan energi, sistem yang terjebak, dan otak kita yang semakin tidak sabar.
Suatu pagi, mungkin sambil sarapan atau di perjalanan ke kantor, Anda membaca sebuah berita di feed media sosial yang anda ikuti di gadget anda. Pemerintah berencana mendorong elektrifikasi sepeda motor besar-besaran, wacana masuk kerja empat hari seminggu untuk mengurangi konsumsi BBM dan sekolah tatap muka dikurangi harinya. Semua dibingkai sebagai langkah berani menuju efisiensi energi karena ada tekanan geopolitik di dunia saat ini akibat perang.
Anda mungkin mengangguk atau menggeleng, dan kemudian lalu pindah scroll ke konten berikutnya.
Tapi sebelum kita lanjut scroll, ada baiknya kita berhenti sebentar. Bukan untuk menghakimi kebijakannya. Tapi untuk bertanya sesuatu yang lebih mendasar: ini solusi, atau kita sedang memadamkan api dengan ember kecil … lagi?
Solusi yang terlihat seperti solusi
Mari kita periksa logikanya. Masalah yang ingin diselesaikan adalah konsumsi BBM yang tinggi dan ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang akan memakan anggaran negara untuk disubsidi. Solusi yang dipilih: kurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak dengan menggantinya ke listrik, dan kurangi mobilitas masyarakat dengan memangkas hari kerja dan hari sekolah.
Terdengar masuk akal. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: listrik untuk motor listrik itu datang dari mana?
Jawabannya, untuk saat ini, masih dominan dari batu bara. Bauran energi listrik Indonesia masih bertumpu pada energi fosil adalah lebih dari 60 persen. Artinya, ketika kita mengisi daya motor listrik di rumah, kita tidak benar-benar berhenti membakar fosil. Kita hanya memindahkan tempat pembakarannya: dari knalpot motor ke cerobong PLTU yang jauh dari pandangan kita.
Kita memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Dalam ilmu berpikir sistem, ini dikenal sebagai fixes that fail — solusi yang meredakan gejala di permukaan, tapi membiarkan akar masalah tetap utuh di bawah tanah.
Dan pengurangan hari kerja? Ini bahkan lebih jujur secara tidak sengaja adalah sebuah pengakuan bahwa kita tidak tahu bagaimana mengubah sistem energi kita sendiri, jadi mari kita mengubah perilaku manusianya. Bukan karena ini pilihan terbaik, tapi karena ini pilihan yang paling “layak” dilakukan hari ini.
Ini bukan kebetulan, ini pola sistem
Yang membuat saya gelisah bukan kebijakannya saja. Yang membuat saya gelisah adalah bahwa pola ini bukan baru. Kita sudah berkali-kali sampai di titik yang sama: masalah besar, solusi kecil, lega sebentar, lalu masalah muncul lagi dalam bentuk yang sedikit berbeda.
Dalam bahasa systems thinking, ada dua dinamika yang sedang bekerja di sini.
Pertama, yang disebut shifting the burden. Ketika sebuah sistem menghadapi tekanan, ada dua pilihan: selesaikan masalah fundamentalnya, atau atasi gejalanya. Menyelesaikan masalah fundamental butuh waktu, biaya, dan saat ini: keberanian politik. Mengatasi gejala lebih cepat, lebih murah, dan hasilnya bisa dikomunikasikan ke publik sebelum pemilu berikutnya. Maka beban selalu bergeser ke solusi simtomatik dan solusi fundamental terus tertunda.
Kedua, masalah time delay. Investasi serius dalam energi terbarukan yang berbasis waktu panjang: membangun infrastruktur, mengubah bauran energi, menciptakan ekosistem industri baru, akan butuh waktu yang melampaui satu periode pemerintahan. Hasilnya baru terasa mungkin delapan, sepuluh, dua belas tahun kemudian. Sementara sistem politik kita bekerja dalam siklus lima tahunan. Tidak ada insentif struktural untuk membuat keputusan yang hasilnya baru bisa diklaim oleh pemerintah yang berbeda.
Maka yang terjadi adalah: setiap kabinet mewarisi masalah struktural dari kabinet sebelumnya, menghadapi tekanan publik yang sama, dan memilih respons yang sama, ibarat ember kecil yang bisa diangkat sekarang, bukan sumur yang butuh digali bertahun-tahun.
“Sistem yang tidak punya mekanisme untuk menghargai keputusan jangka panjang akan selalu menghasilkan keputusan jangka pendek. Bukan karena pemimpinnya tidak cerdas, tapi karena itulah penjara sistemnya (prisoner of the system).”
Fenomena “penjara sistem” prisoner of the systems adalah ketika para pengambil keputusan atau kebijakan sebenarnya memahami akar masalahnya, namun secara struktural tidak mampu bertindak sesuai pemahaman itu. Sistem di sekitar mereka: siklus politik, tekanan media, ekspektasi publik jangka pendek, telah membentuk seperangkat insentif yang secara konsisten mendorong ke arah solusi simtomatik. Individunya bisa berganti, niatnya bisa tulus, tapi polanya tetap sama. Karena yang mengendalikan perilaku bukan orangnya — melainkan struktur sistemnya.
Tapi ini juga tentang kita
Dari mana penjara itu diberikan kekuatan? Dari kita, di sinilah saya ingin mengajak kita untuk tidak terlalu cepat menunjuk kesalahan ke sistemnya, karena kita yang menguatkan sistem tersebut.
Karena ada perspekif ketiga dalam cerita ini, yang mungkin lebih tidak nyaman untuk diakui. Pola kebijakan jangka pendek ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari, dan terus diperkuat oleh, ekosistem perhatian kita yang semakin dangkal.
Coba perhatikan bagaimana kita mengonsumsi informasi hari ini. Berita diformat untuk dibaca dalam tiga puluh detik. Pendapat diungkapkan dalam 280 karakter. Solusi dikemas dalam carousel lima slide. Kita sudah terlatih, oleh algoritma, oleh platform, oleh kebiasaan, untuk merespons cepat dan melanjutkan scroll. Berpikir mendalam, menelusuri sebab-akibat berlapis, menahan diri dari kesimpulan instan, semua itu adalah otot yang jarang dilatih dan perlahan melemah.
Dan pemimpin yang terpilih adalah, pada akhirnya, cerminan dari konstituen yang memilihnya. Jika kita sebagai masyarakat sudah terbiasa puas dengan penjelasan tiga paragraf, jangan heran jika kebijakannya pun berpikir tiga paragraf. Jika kita lebih mudah tergerak oleh langkah yang terlihat daripada strategi yang terasa, maka itu pula yang akan ditawarkan kepada kita.
Ini bukan tuduhan. Ini cermin.
Media sosial, yang sebenarnya membelenggu kemerdekaan berpikir dan pilihan anda, juga telah menciptakan ketidakmampuan berpikir jangka panjang dari nol. Dan ia sangat efisien dalam memperkuatnya dengan cara memberi reward kepada konten yang memancing reaksi cepat, dan membiarkan konten yang mengundang perenungan tenggelam tanpa dilirik. Lama-lama, kita pun ikut terbentuk.
Apakah ada solusi?
Saya tidak punya solusi yang rapi untuk ditawarkan di akhir tulisan ini. Kalau ada, saya mungkin sudah tidak gelisah.
Yang saya tahu adalah ini:
1. Selama kita tidak membenahi bauran energi secara serius, dengan investasi nyata, kebijakan yang konsisten lintas kabinet, dan keberanian untuk menghadapi resistansi kepentingan industri fosil, maka elektrifikasi motor dan pengurangan hari kerja hanyalah plester di atas luka yang butuh jahitan. Kita terlena kembali di masa-masa minyak dunia stabil dengan tidak memikirkan dan menjalankan program jangka panjang membenahi ekosistem energi kita sehingga lebih handal dan tahan guncangan.
2. Selama ekosistem informasi kita terus melatih kita untuk berpikir dalam siklus berita, bukan siklus dekade — maka kita akan terus memilih, dan terus dipilihkan, pemimpin yang membawa ember kecil.
Pertanyaannya bukan apakah kita tahu bahwa api ini butuh lebih dari seember air. Kita tahu. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan memutus siklusnya dan apakah anda sudah mendorong negara ke arah sana dengan mengurangi sedikit ketidaknyamanan anda?

