Lahir dari Tekad Perjuangan: Bagaimana Teknik Industri UI Menemukan Rumahnya – Part 1

Artikel ini adalah artikel 1 dari 2 artikel tentang Sejarah Teknik Industri yang menuliskan tentang Lahir, Berjuang, dan Bertahan (1970–2000). Sebagai bagian dari tulisan untuk menyambut Dirgahayu Teknik Industri ke 28, 30 Juni 2026

Pada tahun 1996, saya adalah seorang mahasiswa yang sedang bingung mencari topik skripsi.

Bukan bingung karena tidak ada ide — justru sebaliknya, bosan melihat topik skripsi teknik industri yang pada waktu itu sebagian besar adalah tentang studi kelayakan. Sehingga ada dua orang dosen yang datang dengan tawaran yang tidak biasa. Mereka tidak menawarkan topik penelitian biasa. Mereka menawarkan sesuatu yang lebih aneh tapi menarik: kesempatan untuk ikut memikirkan masa depan sebuah disiplin ilmu. Apakah saya mau terlibat dalam menyusun strategi untuk menjadikan Teknik Industri sebagai jurusan yang mandiri, terpisah dari Teknik Mesin?

Saya mengiyakan. Dan dari keputusan sederhana seorang mahasiswa yang belum lulus itu, dimulailah sebuah perjalanan yang hingga hari ini belum selesai.

Skripsi saya akhirnya berjudul “Usulan Pengontrolan Perencanaan Strategis di Jurusan Teknik Industri dengan Menggunakan Hoshin Planning.” Kalau penasaran, dokumennya masih bisa ditemukan di perpustakaan UI. Untuk mengerjakannya, saya harus memesan perangkat lunak Hoshin Planning secara khusus dari Amerika, yang pada saat itu dikirimkan via pos dalam bentuk 5 floppy disk 3.5 inci. Ujian skripsinya berlangsung hampir dua jam, menegangkan, dan untuk pertama kalinya di lingkungan Teknik Mesin saat itu, saya menggunakan komputer dan LCD projector. Proyektornya saya pinjam dari kakak ipar yang bekerja di PERTAMINA.

Saya tidak tahu waktu itu bahwa skripsi itu bukan sekadar tugas akhir. Ia adalah cetak biru.


Teknik Industri seperti Kamar Sewaan di Gedung Orang Lain di awalnya

Untuk memahami mengapa pendirian Departemen Teknik Industri UI adalah sebuah pencapaian — bukan sekadar peristiwa administratif — kita perlu mundur lebih jauh. Jauh sebelum 1998.

Sejak awal 1970-an, program studi teknik industri sudah ada di Universitas Indonesia. Tapi ia hidup di bawah atap orang lain, sebagai kabinet, peminatan dan gelar lainnya di bawah Jurusan Teknik Mesin. Bukan karena tidak punya identitas. Bukan karena ilmunya belum cukup matang. Tapi karena tidak adanya orang yang cukup gila untuk bekerja keras melepaskan teknik industri dari teknik mesin, sebuah usaha yang membutuhkan tenaga, pemikiran, dan keberanian, karena memisahkan diri dari zona nyaman.

Bayangkan sebuah laboratorium yang sudah tahu persis apa yang ingin ia teliti, dengan peneliti yang kompeten dan mahasiswa yang bersemangat, tapi secara institusional masih menyewa kamar di gedung tetangga. Itulah kondisi Teknik Industri UI selama hampir tiga dekade. Ilmunya ada, orangnya ada, semangatnya ada. Yang belum ada adalah rumah sendiri.

Saya sendiri adalah salah satu yang pernah tinggal di “kamar sewaan” itu. Saya belajar teknik industri di bawah payung Teknik Mesin. Dan justru karena pernah ada di sana, saya tahu betul apa yang terasa kurang, bukan dari sisi keilmuan, tapi dari sisi identitas. Ada sesuatu yang aneh ketika sebuah disiplin yang berbicara tentang sistem, manusia, dan efisiensi harus selalu memperkenalkan diri dengan embel-embel “kami bagian dari Teknik Mesin.”

Teknik Industri butuh namanya sendiri. Dan pada pertengahan 1990-an, mulailah upaya untuk mewujudkannya.


Strategi Bermain Catur Beberapa Langkah ke Depan

Mendirikan sebuah jurusan baru di Indonesia pada pertengahan 1990-an bukan perkara membuat proposal, mengajukan surat, lalu menunggu persetujuan. Harus ada dorongan selain alasan. Ada permainan panjang yang harus dimainkan dan kami sadar harus bemain.

Langkah pertama adalah memastikan ada mahasiswa sebelum ada jurusan. Kedengarannya aneh, tapi justru di situ kecerdikan strateginya. Kami melobi Universitas Indonesia untuk membuka nomor khusus UMPTN — Ujian Masuk Perguruan Tinggi, tes nasional yang menjadi gerbang masuk ke perguruan tinggi negeri saat itu — khusus untuk calon mahasiswa Teknik Industri. Dan lobi itu berhasil.

Artinya, walaupun Jurusan Teknik Industri UI baru resmi lahir pada 1998, mahasiswa angkatan pertamanya adalah angkatan 1996. Mereka masuk dengan nomor UMPTN yang sudah berlabel Teknik Industri, bukan Teknik Mesin. Secara de facto, jurusan itu sudah berdiri dua tahun sebelum SK-nya terbit.

Tapi tidak berhenti di situ. Kami juga mempromosikan program ini secara masif — brosur, sosialisasi, berbagai saluran yang tersedia saat itu. Tujuannya bukan semata-mata mencari mahasiswa. Tujuannya adalah mendongkrak rasio keketatan penerimaan. Karena rasio keketatan yang tinggi adalah argumen yang sulit dibantah: kalau peminatnya banyak, berarti ada kebutuhan nyata. Dan kebutuhan nyata adalah alasan kuat untuk memisahkan diri.

Langkah berikutnya adalah surat ke Rektor. Kami mengajukan permohonan resmi untuk membuka jurusan baru. Jawabannya mengejutkan — bahkan sampai membuat kami terdiam sejenak. Rektor justru balik bertanya: “Kenapa tidak menjadi Fakultas Teknik Industri saja?”

Itu bukan penolakan. Itu tantangan yang jauh lebih besar daripada yang kami minta. Dan kami tidak berani mengambilnya, bukan karena tidak mau, tapi karena situasi tidak mendukung. Fakultas Teknik pada saat itu memiliki program S2 Teknik Industri yang sangat populer, dengan jumlah mahasiswa yang besar dan pendapatan yang signifikan. Membiarkan TI berdiri sebagai entitas yang sepenuhnya mandiri, sebagai jurusan/departemen, berarti mengganggu ekosistem yang sudah nyaman bagi fakultas saat ini. Resistensi itu nyata, meski tidak selalu diucapkan terang-terangan. Apalagi jika menjadi fakultas, bisa dibayangkan usaha kerasnya.

Tapi surat balasan rektor itu tetap berharga karena kami memframingnya sebagai persetujuan rektor. Ia menjadi modal untuk langkah berikutnya: mengirim permohonan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Di masa itu, pembukaan program studi baru di Indonesia harus melalui restu Ditjen Dikti; tidak ada jalan pintas. Surat itu kami akhirnya kirimkan pada 1997, berbekal dukungan tertulis rektor UI dan segala argumen yang bisa kami kumpulkan. Saya pribadi pada saat itu bersikeras mengapa tidak jadi fakultas saja sekalian, sehingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi dulu ke S2 di UNSW Australia pada 1997/1998.


30 Juni 1998: Selembar Kertas yang Mengubah Segalanya

Satu hingga dua tahun adalah waktu yang lama untuk menunggu persetujuan. Tapi ada satu anekdot dari proses itu yang sampai sekarang masih saya ingat dan sedikit menggelitik.

Ketika permohonan TIUI sedang diproses di Ditjen Dikti, Dirjen Dikti yang menjabat saat itu adalah alumni UGM. Beliau menanyakan satu pertanyaan: apakah UGM juga sudah punya Teknik Industri? Jawabannya: belum. Kalau begitu, sekalian saja niru UI, UGM juga dibuatkan SK untuk membuka program Teknik Industri. Sebuah keputusan top-down yang sangat berbeda dengan bottom-up TIUI.

Tapi UGM memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak mendirikan jurusan yang sepenuhnya mandiri — mereka memilih bergabung dengan Teknik Mesin, menjadi Jurusan Teknik Mesin dan Industri. Alasannya pragmatis: mengembangkan sumber daya manusia dosen teknik industri yang kompeten membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara akreditasi nasional menuntut kesiapan yang tidak bisa ditunda. Lebih aman bernaung di bawah struktur yang sudah kuat sambil perlahan membesarkan dosen-dosen TI sendiri. Selama lebih dari 15 tahun sejak berdiri, TI UGM ditopang oleh dosen-dosen Teknik Mesin sambil menunggu generasi dosen TI mereka sendiri matang.

TIUI memilih jalan yang lebih keras dan lebih berani untuk mandiri dan karena itu jauh lebih berat.

Pada 30 Juni 1998, Ditjen Dikti mengeluarkan Surat Keputusan nomor 207/DIKTI/Kep/1998. Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia resmi berdiri sebagai entitas yang mandiri.

Kertas itu terasa dramatis ketika pertama kali saya memegangnya, namun maknanya lebih dramatis, karena kami semua tahu, tanggung jawabnya sangat besar, terutama karena menyandang nama UI.


Sangkar Burung di Lantai Satu Gedung Komputer

Kalau ada yang membayangkan bahwa sebuah departemen yang baru saja mendapat SK Dikti langsung disambut dengan gedung megah dan laboratorium lengkap, izinkan saya meluruskan gambaran itu.

Ketika SK itu terbit, Fakultas kaget. Bukan kaget yang menyenangkan, tetapi kaget seperti orang yang tiba-tiba menyadari ada tamu yang belum mereka undang sudah berdiri di depan pintu. SK Dikti itu resmi, tidak bisa diganggu gugat, sehingga harus diikuti, tapi bukan berarti harus didukung kan?

Tidak ada gedung baru. Dan Fakultas, entah karena tidak punya ruang, entah karena ada rasa kurang berkenan dengan cara TIUI “lahir”, tidak memberikan ruang terpisah yang representatif. Solusinya: TIUI dititipkan di lantai satu gedung lab komputer, yang saat ini dikenal sebagai Gedung Pusat Administrasi Fakultas. Ruangan yang sekarang dikenal sebagai ruang pelayanan PAF Fakultas.

Kami menyebutnya sangkar burung.

Bukan karena sempit saja, karena hanya setengah lantai dasar, tapi karena jendelanya menggunakan terali besi berbentuk kotak yang rapat. Kami suka bercanda: kalau ada burung yang dilepas di dalam ruangan itu, ia tidak akan bisa keluar meski semua jendela dibuka. Itulah “markas” pertama Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia. Ada ruang kadep sekdep, ruang dosen, ruang rapat kecil, lab komputer, dan sekretariat layanan

Saya sendiri kembali ke UI setelah menyelesaikan studi S2 dalam kondisi yang agak ambigu. Saya baru selesai sekolah dari Australia dan sejujurnya sedang menimbang-nimbang apakah perlu kembali ke TIUI. Toh departemennya sudah berdiri; salah satu misi yang tertulis di skripsi saya sudah sebagian besar tercapai. Mungkin saatnya mencari peluang lain.

Tapi dalam rapat departemen pertama yang saya hadiri ketika baru berdiri, rapat mengambil keputusan untuk menunjuk saya sebagai Sekretaris Jurusan. Tidak ada voting. Tidak ada negosiasi panjang.

Begitulah saya menjadi Sekretaris Jurusan/Departemen pertama Teknik Industri UI yang harus mengawal perkembangan Teknik Industri UI di awal. Dan tanpa saya rencanakan, jabatan itu saya emban selama hampir satu dekade — menjadikan saya Sekretaris Departemen terlama dalam sejarah Fakultas Teknik UI.


Angkatan 1996: Mahasiswa yang Ikut Mendirikan

Di sangkar burung itulah saya sering menghabiskan sore — bukan sendirian, tapi bersama perwakilan mahasiswa angkatan 1996.

Angkatan itu bukan angkatan biasa. Secara nasional, mereka adalah generasi yang menjadi motor reformasi 1998 — yang turun ke jalan, yang mengguncang Senayan, yang mengubah arah sejarah Indonesia. Dan semangat yang sama mereka bawa masuk ke kampus Teknik Industri yang baru lahir ini.

Mereka tidak hanya duduk manis menunggu departemennya dibangun. Mereka ikut membangunnya. Mereka melobi — bahkan berdemo — ke dekanat dan rektorat untuk mendukung berdirinya TIUI sebagai jurusan yang mandiri. Mereka mempersiapkan Ikatan Mahasiswa Teknik Industri yang sepenuhnya terpisah dari Ikatan Mahasiswa Teknik Mesin — sebuah pernyataan identitas yang sederhana tapi simbolis: kami bukan bagian dari kalian lagi, kami punya rumah sendiri.

Dan di sore-sore itu, di dalam sangkar burung dengan terali besi di jendelanya, saya duduk bersama perwakilan mereka. Saya menjelaskan strategi ke depan TIUI — ke mana departemen ini akan dibawa, apa yang kami cita-citakan, mengapa langkah demi langkah yang kami ambil punya alasan yang lebih panjang dari yang terlihat.

Mereka mendengarkan. Mereka bertanya. Dan mereka percaya.

Ada sesuatu yang tidak bisa saya lupakan dari momen-momen itu: perasaan bahwa perjuangan ini bukan milik segelintir dosen saja. Ia adalah milik bersama — antara pendiri yang mencari jalan dan mahasiswa pertama yang memilih untuk berjalan di jalan yang belum selesai dibangun.


Gedung Administrasi dari Alumni dan Perabotan dari Reruntuhan Krisis

Di dalam sangkar burung itu, kami tidak hanya mengajar dan berdiskusi. Kami juga menyusun strategi. Berbekal kerangka perencanaan dari skripsi Hoshin Planning yang sudah saya susun sejak 1996, kami mulai menginventarisasi apa yang TIUI butuhkan untuk benar-benar berdiri — bukan hanya secara administratif, tapi secara fisik dan akademis. Prioritas pertama dan paling mendesak: gedung sendiri. Kami bahkan meletakkan sebuah gambar rancangan gedung Teknik Industri di depan dinding pintu masuk di sangkar burung, karena percaya semua orang yang melewatinya akan berdoa untuk itu.

Dan di sini, alumni TIUI memainkan peran yang tidak bisa saya lebih-lebihkan. Mereka,para lulusan yang sudah berkarier di industri, berkomitmen membantu, meski departemennya baru seumur jagung — turun tangan. Mereka mengumpulkan sponsor dari berbagai perusahaan, melobi, meyakinkan, dan mengorganisir pendanaan untuk membangun gedung administrasi sekaligus laboratorium sementara, dua lantai, di lokasi gedung TIUI. Ini adalah mengapa gedung ini dulu memiliki ruang Gudang Garam, ruang Panasonic Gobel, ruang Bea Cukai dan ruang-ruang lainnya.

Gedung itu berdiri pada tahun 2000. Ketika rektor UI hadir untuk meresmikannya, rektor yang memahami betul perjalanan dan perjuangan TIUI menyampaikan sebuah anekdot yang tepat sasaran. Beliau menyebutnya “telor mata sapi.” Karena yang bekerja keras adalah ayam yang bertelur, sapi yang akhirnya punya nama di telurnya, bahkan tidak semua bagian sapi, cuma matanya. Semua orang yang ada di ruangan itu tahu persis apa yang beliau maksud — dan siapa yang selama ini menjadi ayamnya.

Dan ini bagian yang saya selalu ceritakan dengan senyum: gedung itu, yang dibangun oleh departemen termuda di Fakultas dengan dana yang dikumpulkan sendiri, menjadi gedung termewah di lingkungan Fakultas Teknik UI saat itu. Lantainya marmer. Perabotannya berkualitas tinggi karena diambil dari bekas bank yang ditutup dan dilelang untuk melikuidasi aset mereka sebagai dampak dari krisis moneter 1998, ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi yang menghancurkan banyak institusi keuangan, Perabotan kantor kelas satu, yang dalam kondisi normal harganya selangit, tiba-tiba bisa dibeli dengan harga yang sangat terjangkau.

Krisis yang menghancurkan ekonomi Indonesia, dalam satu ironi kecil, ikut membantu membangun TIUI.


Dan perjalanannya belum selesai. Part 2 artikel ini ada di sini.

Dirgahayu Teknik Industri ke 28, 30 Juni 2026


Tulisan ini adalah rekonstruksi narasi personal berdasarkan ingatan dan pengalaman langsung penulis sebagai salah satu pendiri Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia. Beberapa detail kronologis dan konteks institusional mungkin memerlukan verifikasi dari dokumen arsip departemen. Koreksi dan tambahan dari rekan-rekan yang ikut melewati perjalanan ini sangat disambut.