Tetaplah berbasis Fakta: Pil-kada, Pil-rek UI dan Pil-Obat

It’s amazing that the amount of news that happens in the world every day, can always just exactly fits the newspaper. (Jerry Seinfeld)

A newspaper consists of just the same number of words, whether there be any news in it or not (Henry Fielding)

Beberapa waktu ini setiap saya bertemu teman lama, bertamu dan sedang keluar kota, salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada saya (dan hampir pasti diajukan adalah): Gimana UI? Siapa yang akan jadi Rektor? atau Seru tuh Pilkada DKI? Siapa yang akan menang?

Terlepas kepakaran saya di bidang pemodelan sistem yang banyak dipakai untuk mensimulasikan masa yang akan datang, saya bukanlah ahli nujum yang bisa memprediksi sebuah proses kompleks demokrasi, yang asumsi dan batasannya sulit sekali didefinisikan sehingga tidak mungkin dimodelkan. Namun dengan semangat kesopanan, saya akan melakukan 1 hal dalam jawaban saya: Yuk tetap berbasis kepada Fakta dalam mengambil keputusan terhadap berbagai “Pil” ini.


Dalam sebuah dialog internasional beberapa waktu yang lalu, seorang ekonom indonesia menceritakan pengalaman dia mengikuti sebuah sesi pertemuan di amerika yang salah satunya membahas kondisi Indonesia. Beliau bercerita bahwa salah seorang peserta mengatakan bahwa perkembangan ekonomi Indonesia tidaklah bisa dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia secara langsung, karena hanya Indonesia yang telah melakukan 2 perubahan besar sekaligus: struktur politik (orde baru ke reformasi) serta struktur pemerintahan (sentralisasi ke desentralisasi). Di negara lain biasanya hanyalah salah satu. Dalam sebuah perubahan, akan ada kebutuhan waktu untuk beradaptasi; semakin besar perubahannya, semakin lama waktu adaptasi yang dibutuhkan; semakin variatif perubahannya, semakin lama pula waktu adaptasinya; jadi semakin besar dan variatif? …. . Oh lanjutkan ceritanya: si peserta memuji Indonesia yang berani melakukan ini dan ternyata berhasil melaluinya (paling tidak hingga sekarang).

Jadi bangsa ini juga sedang melakukan proses adaptasi, termasuk juga untuk cara memilih pemimpinnya, yang juga berimbas ke kampus secara umum dan kampus UI secara khusus. Begitu banyak kepentingan dan “nostalgia” perjuangan di kampus UI, sehingga sebuah urusan yang biasanya masuk ke ranah organisasi, menjadi meningkat ke ranah politik nasional yang sarat dengan berbagai kepentingan yang tidak semuanya berujung ingin memajukan organisasi UI. Kemudian yang berpolitik bukanlah orang-orang yang bekerja mendedikaskan diri didalam organisasi tersebut. Ini sama saja dengan pemilihan lurah di Cikeas, bisa menjadi isu nasional, karena kebetulah ada presiden tinggal disitu. (untungnya dpr atau mendagri tidak kepentingan yaa di cikeas)

Teman-teman saya alumni UI ada yang mengatakan “malu” kenapa kok UI seperti itu, yang saya jawab bahwa seharusnya mereka sih bangga bahwa begitu banyak orang masih melihat UI sebagai simbol negara ini. Carut marutnya UI menunjukkan carut marutnya bangsa kita yang masih beradaptasi ini, dengan berbagai “eksperimennya” Dulu rektor dipilih oleh menteri, kemudian MWA, kemudian menteri lagi, nanti MWA lagi dst. seperti sebuah bandul yang bergerak dari ekstrim kiri dan kanan. Namun memang kita semua perlu “malu” jadi orang Indonesia, lah wong urusan sebuah kampus saja kok jadi urusan nasional.

Dengan alasan yang sama pilkada dki juga penuh dengan kepentingan, pemilih dki yang hanya 5 jt yang hidup dan tinggal di Jakarta, akan dibombardir dari berbagai hiruk pikuk ranah politik. Berbagai komentar dari publik nasional yang mungkin: (1) tidak pernah tinggal lama di Jakarta (2) hanya bekerja di Jakarta tetapi tinggal di daerah lain, mendominasi informasi yang beredar. Semuanya akan pasti sulit diproses, saya sendiri suka bercanda lagi sama teman-teman saya soal pilkada dki, eh yang tidak punya KTP Monas dilarang protes (simbol KTP di Jakarta adalah monumen nasional), yang berhak protes cuma yang punya KTP Monas, kan kita yang tinggal disini.

Dua fenomena yang saat ini sedang berjalan ini mirip dengan cerita teman saya ketika  memilih pasangan hidup di keluarga besar, yang mau nikah siapa tapi yang berkomentar, berpendapat keras, (namun biasanya sih nggak sampai pake demo), bisa menjadi topik berbulan-bulan dengan berbagai macam perasaan campur aduk, ada tangisan, ada tertawaan dan lain sebagainya. (mirip yaa ama pil-pil ini).

Dalam masa adaptasi, maka hiruk pikuk proses belajar akan sangat keras. Mirip anak taman kanak-kanan atau sekolah dasar yang sedang belajar. Hiruk pikuk ini harus disaring untuk membedakan mana hiruk pikuk belajar atau hiruk-pikuk bukan sedang belajar. Bagaimana caranya? Tetap berbasis kepada fakta bukan opini.

Apa fakta perubahan (angka) yang dilakukan oleh para kandidat tersebut (pertumbuhan finansial, pertumbuhan efisiensi organisasi, infrastruktur,dll). Oke jika memang beda skala, yuk kita skalakan, tapi tetap gunakan angka (fakta). Gunakan selalu kacamata kritis ketika melihat media, pilihlah untuk mendengarkan pengamat yang memang obyektif dan menjelaskan pola pikirnya – bukan “pengamat” yang subyektif dan hanya memberikan kesimpulan saja. Berita baik tidak akan mudah anda dapatkan, karena tidak menjual, maka saya sangat menghargai usaha beberapa teman melalui web atau jaringan sosial yang menyebarkan berita baik dan kisah sukses. Ingatlah selalu bahwa media adalah sebuah usaha bisnis, dan “bad news sell best”

Sama dengan memilih Pil untuk obat, seorang dokter pasti akan menguji lab untuk mendapatkan indikator obyektif kondisi badan anda, untuk melengkapi berbagai komplain yang diucapkan pasiennya. Karena komplain adalah gejala, bukan problemnya. Sama dengan hiruk-pikuk ini, ini adalah gejala bukan faktanya. Carilah fakta, carilah data. Dan jangan pula membentuk data sedemikian rupa untuk membenarkan apa yang salah atau membenarkan perasaan saja, karena perasaan anda bisa saja salah, pandanglah data dengan obyektif.

Standing Ovation Model pada Ceramah Idul Fitri

Mengikuti shalat idul fitri di hari ini, saya tersenyum mendapatkan sebuah fenomena standing ovation model, setelah melihat anak2 kecil yg begitu selesai shalat langsung berdiri dan keluar dari lokasi shalat.

Standing ovation model adalah fenomena yg terjadi biasanya di sebuah konser dimana jika konser itu memang luar biasa, penonton akan berdiri utk memberikan penghargaan kepada pemainnya. Masalahnya adalah kriteria luar biasa itu relatif, sehingga seringkali kita ragu-ragu apakah kita perlu ikut berdiri atau tidak. Terutama jika memang kualitasnya konsernya tanggung gimana?

Ada banyak hal yg akan mempengaruhi selain kualitas konser: budaya menghargai tamu, apakah tiketnya gratis atau bayar sendiri, kenal kah ama panitianya, standard anda sendiri dll.

Namun ternyata salah satu faktor terpenting lainnya, yaitu adalah apakah ada orang di depan anda (dalam jangkauan pandang anda) yg berdiri. Jika ada maka anda akan lebih terpancing utk juga ikut berdiri, karena ada yg ternyata memberikan penghargaan lebih, jadi siapa tahu anda memang lagi salah, toh lebih sopan, kita kan orang timur. Orang melihat anda berdiri maka terkadang akhirnya sebagian besar orang berdiri.

Fenomena ini terjadi pagi ini dalam shalat idul fitri karena tiba2 dideretan depan 3 orang anak kecil berdiri dengan santainya utk keluar, akibatnya memicu puluhan anak kecil lainnya mengikutinya, tanpa peduli tatapan tidak setuju dari orang tua disekitarnya.

Jika memang konsernya jelek atau standar nilai pribadi anda tinggi, tentu tidak akan terpengaruh, yg ditengah2 inilah yg akan terpengaruh. Di pemodelan, kita mencoba mengkuantifikasi titik ambang keraguan ini. Apakah lihat 1 cukup, 2 atau haru lebih dari 5. Apakah depan 1 baris, 2 baris dll.

Saya jadi mengerti kenapa kok dulu ada pengurus masjid yg meletakkan anak2 kecil dibelakang, atau dilarang menggerombol. Dan jika anda promotor konser, letakkan org yg emosional di bagian depan, supaya pemain konser senang karena orang Indonesia suka berdiri dan menghargai.

Minal Aidin Wal Faidin. Mohon maaf lahir batin. Selamat Idul Fitri 2012M

Loyalitas adalah Dua Arah

Seorang teman yang kebetulan sudah menjadi pemimpin di organisasinya mengeluh karena anak buahnya tidak “loyal” dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kebetulan organisasi yang dipimpinnya ini adalah organisasi pemerintah, jadi agak mengherankan buat saya, karena dalam kinerja penilaian di PNS, loyalitas atasan adalah mutlak setelah kepada bangsa, konstitusi dan Pancasila.

Saya kira, di dalam dunia bekerja, kita akan dan pernah dihadapi pada pertanyaan loyalitas kita ini. Sebagai seorang pemimpin, kita mengharapkan loyalitas dari staf atau bawahan kita terhadap kita, sebagai sebuah sifat profesionalisme. Tapi pertanyaannya adalah apakah anda juga loyal terhadap bawahan anda? Apakah anda melindungi mereka supaya mereka bekerja dengan baik untuk anda? Jika kita mengabdi kepada pimpinan, maka pertanyaan sebaliknya adalah apakah atasan anda juga mem-“pamong” kepada anda? Apakah anda sudah “layak” untuk menjadi pemimpin? dan Apakah anda juga sudah “layak” menjadi yang dipimpin.

Dalam sebuah acara dinamika kelompok outbound ada sebuah latihan menjatuhkan sebutir telur mentah yang digantung dengan seutas tali dari ketinggian tertentu (1-2 meter) ke sebuah keranjang yang diletakkan di tanah. Misi kelompok adalah membuat sebuah konstruksi untuk memastikan bahwa telor tidak akan pecah ketika tali penggantungnya diputus. Setiap kelompok hanya dibekali koran bekas untuk berinovasi menciptakan struktur ini. Kemudian satu orang dipilih untuk menjadi “pemimpin” dan diisolasi, karena akan memotong tali penggantung telornya nanti. Pemotongan tali penggantung mirip dengan yang peresmian event di dunia nyata yang biasanya juga memotong tali atau pengguntingan pita.

Lanjutkan membaca “Loyalitas adalah Dua Arah”

Pajak Kendaraan Pribadi: Pergeseran Paradigma Membeli, Memiliki, Menggunakan

Saat ini di Lab SEMS sedang ada penelitian mengenai dampak kebijakan low carbon transport di Jakarta dengan menggunakan model pembangunan berkelanjutan Jakarta berbasis sistem dinamis.  Salah satu yang akan dibahas adalah penerapan ERP atau Electronic Road Pricing sebagai salah satu komponen dalam manajemen transportasi kota serta sumber pendanaan tambahan (bukan utama) untuk mendukung transportasi publik. Maju mundur ERP terlepas dari masalah operasionalnya (singapura berhasil karena 1 pulau adalah 1 negara, jadi misalnya plat nomer, nggak ada yang pake plat nomer surabaya untuk masuk ke jakarta), ternyata yang terpenting adalah menuntut perubahan paradigma tentang pajak kendaraan pribadi.

Saya bayangkan kalau saya menjadi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maka saya akan menghadapi buah simalakama untuk menerapkan transportasi publik. Di satu sisi, pajak daerah terbesar di Jakarta adalah berasal dari pajak kendaraan baru. Manusia Jakarta semakin makmur semakin mendambakan memiliki mobil sebagai simbol status, yang kalau bisa punya lebih dari 1. Di sisi yang lain, fokus ke transportasi publik akan menjebol anggaran operasional pemerintah provinsi karena harus secara langsung membiayai “subsidi” dari operasional layanan publik.

Mungkin itu sebabnya kenapa fokus pembangunan infrastruktur transportasi lebih ke arah jalan (road based) , karena tinggal bangun dan pelihara jalan, maka orang akan membeli mobil atau motor untuk menggunakannya, efek dominonya adalah industri mobil yang berkembang dst. Mudah dan lebih murah, terlepas efek ekonomi negatif akibat kemacetan.

Jika berbasis kepada rel (rail based) maka biaya investasi, pemeliharaan dan operasional akan menjadi perdebatan yang tak ada habisnya (lihat aja PT KAI dan komuter linenya). MRT Jakarta misalnya, jika harus mendapatkan subsidi operasional nantinya karena tiketnya dipatok murah sesuai dengan keinginan wakil rakyat (DPRD) maka setiap tahun dalam bayangan saya harus mengajukan anggaran subsidi. Lah iya kalau APBD berjalan lancar pembicaraannya dan diketok Desember, kalau tiba-tibak diketoknya terlambat karena sok berantem, dan mundur diketoknya bulan februari. Apakah berarti MRT harus berhenti beroperasi? Kalau ndak, harus utang dulu dong, utang ke siapa? Kalau utang pake bunga komersial bisa diperiksa KPK karena “berpotensi” merugikan negara.

Lanjutkan membaca “Pajak Kendaraan Pribadi: Pergeseran Paradigma Membeli, Memiliki, Menggunakan”

Refleksi 10 Tahun Menjadi Pendidik Teknik Industri

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan penghargaan kesetiaan dari pemerintah karena telah bekerja selama 10 tahun lebih. Asisten dan mahasiswa banyak yang memberikan selamat kepada saya dan bertanya apa kesan saya menjadi pendidik Teknik Industri. Saya sempat bingung menjawabnya karena tidak pernah memikirkan akan harus menjawab pertanyaan ini, namun beberapa hari yang lalu saya menyadari apa jawaban dari pertanyaan ini, ketika saya sibuk menyusun bahan presentasi untuk kuliah di kelas simulasi industri.

Jawabannya adalah: Saya mencintai pekerjaan sebagai pendidik teknik industri karena saya tidak bisa berhenti belajar.

Jawaban ini saya dapatkan karena saya baru sadar bahwa hingga saat ini tidak ada hari dimana saya tidak harus merevisi materi untuk mengajar dan saya bisa membuka kuliah-kuliah pilihan baru (yang berarti kerja keras lagi menyiapkan materi dan presentasi). Suatu pekerjaan yang mungkin tidak menyenangkan karena ngapain capek-capek bikin materi, lebih mudah dengan kasih buku ke mahasiswa, suruh baca, kerjain kuis dan tugas, kemudian ujian. Namun bagi saya, jika sebuah kuliah sudah memiliki buku ajar baku, dan tanpa tambahan update dari jurnal, kuliah tersebut pasti tidak akan membahas hal-hal baru. Tanpa membahas hal-hal baru, maka saya tidak belajar. Jika dosen tidak belajar hal baru, apalagi mahasiswanya.

Teknik Industri adalah keilmuan yang inklusif. Inklusif berarti lawan kata dari eksklusif. Inklusif memberi makna bahwa teknik industri akan terus mencari dan mengadopsi pendekatan dan metode baru yang dapat membantu perekayasa industri mendapatkan kenaikan efisiensi dan efektivitas hingga tetes terakhir. Saya masih ingat ketika TI pada masa akhir 90-an mengadopsi Balanced Scorecard, sebagai tambahan cara pengukuran kinerja yang secara tradisional hanya bertumpu pada produktivitias.  Adopsi proses AHP (analytical hierarchy process) sebagai proses pengambilan keputusan juga dilakukan. Dorongan teknologi informasi juga dimanfaatkan oleh TI untuk melakukan integrasi antar bagian dalam paket aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning). Evolusi manajemen kualitas dari SPC (Statistical Process Control), ke SQC (Statistical Quality Control), QI (Quality Improvement), TQM (Total Quality Management) kemudian Operational Excellence, dari QCC (Quality Control Circles) ke Lean Six Sigma.

Kita juga mengadopsi konsep simulasi dan pemodelan karena kemampuan prediksi kinerja dari sistem yang telah kita rancang, dan berkembang hingga kini. Dimulai dari Discrete Event Modeling, dengan ProModel sebagai aplikasi “populer” di TI Indonesia, bergerak ke Continuous Event Modeling melalui pendekatan sistem dinamis, kemudian ke arah object oriented modeling hingga ke agent based modeling. Pada pemodelan matematis dengan dasar-dasar riset operasional menjadi saat ini menjadi meta-heuristics programming dan combinatorial programming.

Bidang perancangan yang berevolusi menjadi Innovation Engineering, terintegrasi secara penuh secara digital sejak produk, proses, pabrik dan antar pabrik. Membahas pula aspek teknologi dan strategi, akan menjadi sangat menarik.

I am excited on what new things I will learn in the future … what’s next?

Memori Masa Depan

Memori masa depan terdengar aneh bagi kita semua, karena biasanya memori adalah ingatan akan masa lampau. Mana mungkin kita memiliki sebuah memori kalau hal itu belum terjadi?

Pernah melihat sebuah drama teater? Para pemainnya berlatih setiap saat sebelum pertunjukkan untuk menciptakan memori masa depan, sehingga ketika drama dilangsungkan didepan panggung mereka langsung memainkan perannya. Mereka menghafalkan dialog, lokasi adegan,  dan lain-lain untuk menyajikan tontonan yang terbaik bagi penonton.

Ternyata pada kenyataannya kita semua memiliki memori masa depan. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Ingver terhadap otak manusia, ditemukan bahwa manusia setiap saat melakukan pembentukan alternatif-alternatif kejadian di masa yang akan datang dan rencana persiapan untuk mengatasi setiap alternatif yang diciptakan tadi. (Mirip yaa dengan proses pemodelan dan simulasi).

Lanjutkan membaca “Memori Masa Depan”

Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking

Ketika saya sedang membangun model sistem dinamis pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia, ada satu konstanta yang secara elegan diberi nama “budget effectiveness”, yang dihubungkan dengan variabel government spending (belanja pemerintah). Penterjemahan lapangan dari konstanta ini adalah “korupsi”. Tentunya dalam disertasi saya setelah dipertimbangkan dengan seksama akhirnya diputuskan untuk menghilangkan seluruh aspek politik sehingga nilai konstanta yang saya berikan adalah 100%, namun dalam prosesnya saya bertanya-tanya berapa nilai seharusnya yaa apakah 80% (20% korupsi), 75%, 70%, dan 60%. (Jadi ingat masa-masa jadi konsultan pemerintah, yang ternyata berbeda-beda, tidak ada konsensus nasional).

Sebagai Perekayasa Industri, saya menjadi tertarik untuk apakah memungkinkan melihat korupsi dalam kacamata kita, dan sementara ini kacamata yang cocok adalah kacamata ilmu lean thinking (lean management) dengan memandang korupsi sebagai waste. Lean adalah sebuah pola pikir untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi proses sehingga didapatkan aliran yang paling efisien untuk memberikan nilai yang diharapkan oleh pelanggan akhir. Karena berbasis pada pelanggan, maka proses yang dilakukan secara tidak langsung akan efektif. Jadi efisien dan efektif sebagai tujuan akhir perekayasa industri secara bersamaan dapat dicapai.

Nah kalau sebuah korupsi adalah waste, maka apakah dalam tools dan methods yang digunakan dalam lean ada yang bisa dipakai untuk mengatasinya?

Lanjutkan membaca “Perspektif Korupsi di Teknik Industri sebagai Waste dalam Lean Thinking”