Kombinasi Pola Berpikir dalam Berpikir Sistem

Jika membahas tentang berpikir sistem, sering orang menduga bahwa berpikir sistem itu adalah sebuah pola berpikir baru yang revolusioner yang berbeda dibandingkan dengan pola yang sudah ada. Ternyata pada kenyataannya pola berpikir sistem adalah pola kombinasi dari berbagai pola yang sudah ada. Lalu apa yang baru dong? Kombinasi yang pas terhadap berbagai pola berpikir lainnya lah yang membuat pola berpikir sistem itu berbeda.

Seperti nasi goreng, sebuah makanan khas Indonesia yang sedang dipromosikan di dunia. Kombinasi yang pas akan menentukan rasa enak yang kita dapatkan di warung favorit nasi goreng kita. Itupun masih ada variasi-variasi hebat lainnya, seperti nasi goreng teri, trasi, seafood dan jangan lupa .. spesial pake telor.

Jadi pola berpikir apa saja yang minimal ada dalam berpikir sistem? Menurut Barry Richmond, sebenarnya ada 7 Essential Thinking Skills untuk dikombinasikan menjadi berpikir sistem: dynamic thinking, systems-as-cause thinking, forest thinking, operational thinking, closed-loop thinking, quantitative thinking dan scientific thinking.

Lanjutkan membaca “Kombinasi Pola Berpikir dalam Berpikir Sistem”

Kombinasi penting Kemauan dan Kemampuan untuk merubah Batas

image

Masih ingat bahwa orang tua kita atau anda sendiri harus mencetak foto untuk melihat hasil jepretan kamera? Bagi generasi saat ini mungkin pertanyaannya adalah kenapa “harus”? kan bisa dicek dulu di HP atau komputer, kalau oke dan perlu baru dicetak. Tapi di masa dimana HP masih belum ada, komputer masih besar berat mahal, maka tidak ada jalan lain untuk melihat hasil jepretan kamera, kecuali dicetak di toko cetak foto. Jadi cetak hanya jika benar-benar perlu.

Tahukah anda 2 perusahaan yang paling terdampak dengan perubahan kebiasaan ini?
Lanjutkan membaca “Kombinasi penting Kemauan dan Kemampuan untuk merubah Batas”

Kemiripan Teknik Industri dan Arsitektur

Dalam blog ini, saya baru saja menjawab sebuah pertanyaan yang meminta konfirmasi tentang pandangan umum bahwa Teknik Industri itu belajar banyak hal, sehingga tidak dalam dibandingkan dengan keilmuan teknik lainnya. Akibatnya terdapat tuduhan bahwa TI bukan ahli atau kalah ahli…

Jawaban atas pertanyaan itu menimbulkan ide untuk menganalogikan keahlian perekayasa industri dengan keahlian arsitek dari keilmuan arsitektur. Bidang ilmu arsitektur di Universitas Indonesia terletak di fakultas teknik, namun mereka “melepaskan” kata teknik, sehingga bukan teknik arsitektur tapi hanya arsitektur. Mungkin karena tidak tahan dituduh bukan ilmu teknik, kurang ahli, dll. Mirip seperti yang terjadi dengan teknik industri saat ini (ditambah tuduhan: matematika fisikanya kurang, teknik kok belajar manajemen).

Anggapan orang tentang luasan keilmuan teknik industri adalah wajar, karena persepsi umum dalam belajar ilmu teknik adalah spesialisasi. Sehingga jika ada yang seperti TI yang spesialisasinya adalah generalis sistematis, dianggap aneh dan tidak ahli. Padahal inti utama keilmuan teknik industri adalah kemampuan mengkombinasikan elemen sehingga timbul solusi yang efisien dan efektif.

Dalam apa yang saya baca, jika melihat disiplin ilmu arsitektur, banyak arsitek kawakan yang mampu menghasilkan karya besar dengan melakukan kombinasi terhadap berbagai elemen alam. Apakah dia tidak ahli, karena dia hanya memiliki sedikit ilmu tanah, ilmu bangunan, ilmu lingkungan dan ilmu air? 
Artinya dia tetap ahli, cuman bukan pada bidang ilmu tertentu tetapi mengkombinasikan ilmu-ilmu lainnya. Dia perlu tahu ilmu-ilmu tersebut pada tingkat kedalaman yang berbeda-beda supaya memiliki bekal cukup untuk membuat berbagai kombinasi solusi atau desain. Dia membutuhkan ahli bidang lainnya untuk berdiskusi tentang pendobrakan limitasi akibat perkembangan teknologi. Millennium Dome di kota London, Inggris mendobrak dengan sebuah bangunan luas dengan hanya bahan “plastik”.

Seorang perekayasa industri juga harus mampu melakukan hal yang sama. Setiap elemen dalam menyusun sebuah sistem terintegrasi harus disusun sedemikian rupa tanpa melanggar hukum ilmu alam, hukum manusia, aturan keuangan, sifat material dll. Dia bileh bahkan wajib berkonsultasi secara tim dengan bidang ilmu lainnya untuk mendapatkan keunggulan lebih dalam desain solusinya.

Tentu bukan berarti semua hal akan dipelajari, hanya elemen-elemen penting saja, dan ini cukup memadai. Permainan catur menjadi asyik bukan karena banyaknya komponen, tetapi karena berbagai kemungkinan pergerakan dari setiap elemennya. dimana setiap elemen memiliki aturannya yang harus dipelajari dan ditaati terlebih dahulu. Prajurit hanya bisa maju mundur lurus kecuali mengambil alih area yang diduduki musuh. Kuda hanya bisa bergerak dalam pola L, dan aturan lainnya. Bahkan dengan ada aturan seperti itu yang sebenarnya membatasi kemungkinan permainan, tetap menghasilkan kompleksitas permainan yang luar biasa.

Jadi TI tetap ahli, namun ahli yang berbeda.

Media Sosial: Media untuk Mencari Pembenaran termasuk untuk Hal yang Salah

Dalam pemilu presiden 2014 ini, saya dan mungkin seluruh bangsa Indonesia yang melek media sosial terkejut-kejut dengan “ledakan” informasi tentang para kandidat presiden begitu mendominasi berita di media sosial. Ada masa ketika membaca berita-berita non-politik menjadi kelegaan tersendiri ditengah-tengah hiruk pikuk ini, walaupun tadinya berita tersebut tidak menarik juga. Terlepas bahwa saya menghargai antusiasme teman-teman media sosial untuk memikirkan dan peduli dengan pembangunan negara kita, sesuatu hal yang membanggakan sebenarnya. Namun ada baiknya kita perlu bijak memandang media sosial sebagai tempat yang kurang tepat untuk menyalurkan semua ekpresi atau pendapat kita. Remember that today Only God forgives and forgets, but the Internet never forgets. Artinya posisi saat ini jangan sampai menjadi “lucu” ketika dilihat secara jangka panjang.

Ada semacam keheranan dalam diri saya ketika melihat teman-teman sangat membela kandidatnya, sehingga ada sebuah pendapat bahwa pembelaan ini seperti orang yang dimabuk cinta. Jadi teringat sebuah lagu karya musisi Gombloh Alm, yang memiliki teks (maaf kalau kasar) “Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat”. Fenomena ini mengingatkan saya, terhadap sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam majalah MIT Technology Review beberapa tahun lalu mengenai pengaruh media sosial yang ternyata bukannya membuka wawasan seseorang, namun malah mempersempitnya. Lho bukankah kita bisa bertemu dengan teman-teman yang berbeda pandangan dan saling berdiskusi?

Pada kenyataannya ternyata tidak, karena dengan berada di media sosial, maka sebenarnya kita sedang mencari teman-teman “seperjuangan” dan “sependapat” dengan kita. Kita secara tidak sadar akan mencari orang-orang yang “sama” dengan diri kita, sehingga bukannya kita mencari orang yang bisa mendebat apa yang kita pikirkan, kita malah mencari orang yang bisa membenarkan kita. Fitur “like”, “unfollow”, “follow”, “hide” dan “unhide” di berbagai media sosial akan menjadi baha bagi komputasi algoritma di belakang layar, sehingga preferensi itu akan menjadi “filter” terhadap informasi apa yang akan diberikan kepada kita. Filter ini wajar, ketika kita memiliki teman yang sangat banyak. Bayangkan anda memiliki 150 teman lalu semuanya dalam suatu waktu singat mempost sesuatu, pasti akan ada 150 berita yang bisa membingungkan kita. Semakin sering kita me”like” seorang teman, maka posting dia akan menjadi prioritas untuk ditampilkan di aliran berita kita. Seiring dengan hide dan unfollow, maka teman tersebut akan “hilang” ke laut aja dari aliran berita kita. Jadi penelitian MIT itu akhirnya menjadi kenyataan, bahwa instead of making new friends, we are stick to old friends. Instead of meeting different people, we are meeting people who are no different than us.

Apa dampak memiliki banyak teman, tapi semuanya “seragam”? Pendapat kita seperti sudah pasti benar, buktinya “semua” teman saya setuju. Kan harusnya kalau tidak benar, ada yang tidak setuju kan? Konsep inilah yang membuat ternyata media sosial bukannya membuka wawasan, namun malah mempersempit wawasan.

Dan yang mengkhawatirkan menurut saya adalah hilangnya kontrol sosial dari keluarga atau lingkungan sosial terdekat lainnya. Dulu ketika kita mengeluarkan pendapat yang salah misalnya, maka keluarga atau lingkungan sosial (sekolah, kampus, arisan dll) akan memberikan mekanisme kontrol dengan melakukan pembenaran dan diskusi bisa terjadi. Paling tidak kita diberi tahu bahwa pendapat kita belum tentu dianggap benar oleh orang lain, sehingga kita bisa mengevaluasinya kembali. Namun di media sosial, kita seperti punya “teman” seperjuangan, sehingga kita seperti tidak terkontrol dalam membangun pendapat kita sendiri. Dan memiliki “teman” banyak membuat kita merasa tidak perlu memiliki teman yang berseberangan lagi dengan kita.

Bangsa kita saat ini sedang belajar demokrasi, namun bedanya jika di Amerika ketika mereka belajar membangun demokrasi, belum ada Facebook atau Path pada saat itu, sehingga bisa lebih bijak melihat politik. Saya hanya berharap bangsa Indonesia juga bisa belajar dengan lebih cepat namun tetap lebih bijak.

Apa arti R&D dalam Kacamata Rekayasa Sistem

Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman dekat yang merupakan CEO perusahaan energi, terlontar sebuah pernyataan menarik tentang persepsi dia tentang fungsi pendekatan rekayasa sistem dalam fase research and development.

Dalam diskusi yang terjadi, kacamata sistem dalam sebuah aktivitas research berarti menguraikan dan memetakan kompleksitas sebuah sistem baru yang akan dirancang. Sistem baru ini dalam dunia usaha adalah usaha baru, market baru, pengembangan produk atau layanan baru yang kompleks dan tidak sederhana.

Peran riset penting karena sistem tidak diketahui bagaimana bentuk seharusnya atau idealnya, akibat tidak adanya sistem sejenis atau setara di dunia nyata. Maklum kan sistem ini baru. Bisa saja sudah ada, namun tentunya yang sudah punya, tidak akan melepaskan resep rahasia sistemnya buat orang lain untuk ditiru. Lanjutkan membaca “Apa arti R&D dalam Kacamata Rekayasa Sistem”

Apa itu Service Systems Engineering (SSE)?

Tulisan ini sebagai tulisan lanjutan dari  artikel tentang pendefinisian ulang teknik industri untuk menjelaskan fokus pendidikan Teknik Industri di Universitas Indonesia. Setiap Perguruan Tinggi Teknik Industri di Indonesia sebenarnya akan beradaptasi dan memiliki warna yang tergantung dengan kebutuhan, tuntutan serta peluang yang terjadi pada komunitas tempat pendidikan berlangsung. Sebuah fenomena yang sama juga terjadi di negara asal teknik industri, yaitu Amerika. Namun tentunya, ciri-ciri sebagai perekayasa Industri secara dasar harus tetap ada, sehingga warna biasanya terlihat bukan hanya dari kurikulum, namun dari fokus materi dan tugas perkuliahan yang terjadi.

SSE Explanation Slide

Evolusi Perkembangan Teknik Industri

Pada awal berdirinya, teknik industri yang umumnya berasal dari teknik mesin memang berfokus kepada bagaimana meningkatkan proses manufaktur sehingga meningkat produktivitasnya.Pada masa awal ini, perekayasa industri sadar bahwa pendekatan mekanistis (mechanical approach) memiliki keterbatasan maksimum peningkatan produktivitas yang bisa diraih, sehingga mereka beralih ke pendekatan yang multi perspectif namun terintegrasi dengan menggunakan singkatan sederhana 5M: manusia, mesin, material, metode dan money. Lanjutkan membaca “Apa itu Service Systems Engineering (SSE)?”

Teknik Industri Perlu Ganti Nama?

Setelah bertahun-tahun menjelaskan apa itu teknik industri, saya mengambil kesimpulan bahwa teknik industri perlu mengganti nama untuk menjaga relevansinya saat ini. Hal ini terutama berlaku di institusi teknik industri tempat berkarya saya saat ini yaitu Teknik Industri UI. Mempertimbangkan lokasi di ibu kota dan cakupan kerja lulusannya, TIUI selalu berfokus untuk melayani industri jasa dengan tetap mempertahankan kemampuan untuk bekerja di industri manufaktur atau industri produksi barang. Sehingga akhirnya baru-baru ini disepakati bahwa TIUI akan menjadi A Service System Engineering Education Program. Namun saya sadar bahwa kesepakatan ini juga memiliki peluang untuk menambah permasalahan penjelasan karena: (1) harus menjelaskan dulu teknik industri itu apa dan (2) harus menjelaskan konsep service system engineering.

Ketika memikirkan strategi penjelasan inilah, saya akhirnya berkesimpulan bahwa kesalahan terbesar kami semua (para perekayasa industri) adalah karena kurang sadar bahwa kalimat “industri” akan selalu diterjemahkan oleh publik sebagai pabrik. Apalagi ketika disandingkan dengan kata “teknik”. Padahal jika merujuk kepada adanya istilah industri pariwisata, industri musik, atau industri layanan lainnya, telah jelas bahwa industri tidaklah memiliki makna tunggal ke pabrik atau pembuat barang saja, namun juga ke layanan jasa. Nah, apa arti sesungguhnya dari “industri”? Menurut saya adalah penambahan nilai (value adding)

Kata “industri” memang awalnya secara harfiah didefinisikan sebagai “economic activity concerned with the processing of raw materials and manufacture of goods in factories”, yang memang berarti adalah pabrik. Tapi terjemahan ini jika diambil makna sebenarnya adalah adanya aktivitas penambahan nilai. Aktivitas penambahan nilai (value adding activities) terjadi melalui transformasi satu atau beberapa material menjadi sebuah produk. Sebuah tepung terigu ketika diproses menjadi mie instan, memiliki pertambahan nilai yang dilambangkan dengan harga jual yang meningkat. Jadi ketika perekayasa industri melakukan tugasnya di berbagai proses transformasi di pabrik, ternyata disadari bahwa berbagai prinsip-prinsip yang terjadi di pabrik, dapat diimplementasikan pula di proses transformasi lainnya di non-pabrik.

Mengapa ini terjadi? Karena ini pada aktivitas penambahan nilai ternyata berlaku secara universal di semua bidang. Konsep yang sama juga menyebabkan kata industri dipakai di industri pariwisata dan industri musik. Adanya pertambahan nilai dari sekedar menjual furniture, menjadi menjual kamar hotel, menjadi menjual atraksi wisata menjadi ciri industri pariwisata. Adanya pertambahan nilai dari hanya menyanyi di kamar mandi, menjadi rekaman, acara konser musik dan sebagainya.

Jadi menurut saya, sebaiknya Teknik Industri menjadi Teknik Penambahan Nilai (From Industrial Engineering to Value Adding Engineering). Karena sebenarnya yang dipelajari adalah bagaimana kita merancang, memasang (install) dan meningkatkan aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan sehingga dapat memberikan pertambahan nilai dari apa yang diproses. Harus diakui, untuk belajar maka lebih mudah menggunakan obyek manufaktur sebagai studi kasusnya, dibandingkan obyek jasa. Perhatikan kata lebih mudah, bukan tidak mungkin, karena di TIUI perancangan sistem tidak selalu sebuah proses produksi pabrik, tetapi proses layanan restoran, klinik/rumah sakit atau jasa pelabuhan.

Perhatikan pula  kata aktivitas yang terkoneksi karena ini juga kata kunci dalam peningkatan nilai tambah. Jadi alih-alih berfokus kepada satu aktivitas yang hanya menjanjikan peningkatan terbatas terhadap nilai, maka fokus diberikan kepada koneksi. Itu yang menyebabkan seorang perekayasa industri eh maaf … perekayasa pertambahan nilai, perlu mempelajari berbagai hal secara cukup (bukan sedikit-dikit) untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi koneksi yang bisa memberikan penambahan nilai yang lebih tinggi. Kita memang tidak boleh terlalu dalam mempelajari satu komponen, karena kita bisa terjebak untuk hanya berfokus kepada komponen tersebut saja. Namun di mata publik, ini cukup ini dianggap sama dengan sedikit, jadi terkesan tidak jelas. Padahal seorang perekayasa industri, eh salah lagi.. perekayasa penambahan nilai Winking smile, sebenarnya adalah seorang spesialis, yaitu spesialis generalis.

(Fokus ke interkoneksi yang membuat pula istilah sistem menjadi sering digunakan di teknik industri. Suatu hal yang akan saya jelaskan di tulisan lain.)

Jadi mungkin saatnya teknik industri berganti nama, karena menjelaskannya menjadi lebih mudah karena namanya menjadi lebih asing sehingga tidak ada asumsi awal yang harus dikoreksi. Pembaca atau pendengar tidak akan terjebak dengan kata industri yang berkonotasi dengan hanya pabrik, dan berpindah fokus ke pertambahan nilai. Karena pada kenyataannya memang teknik industri telah meluas dari sejak berdirinya ke industri-industri yang membutuhkan pertambahan nilai.