Menyambut kemerdekaan Indonesia ke 70 di tahun ini, di dunia sebenarnya sedang terjadi kejadian luar biasa yaitu dibukanya kembali kedutaan besar AS di Kuba. Kuba adalah satu-satunya negara di dunia yang secara indikator memiliki kondisi keberlanjutan yang ideal (versi UNEP Lembaga PBB yang mengurusi soal Lingkungan). Kondisi keberlanjutan adalah kondisi suatu negara dimana terjadi keseimbangan antara kondisi sosial (pendidikan, kesehatan, budaya dll), kondisi ekonomi (konsumsi sama atau tidak lebih dari produksi) dan kondisi lingkungan (Kuba tidak melakukan eksploitasi yang merusak sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya).
Namun tentunya disaat awal, studi dipublikasikan, banyak orang terperanjat dan mengira bahwa yang masuk kategori ini adalah berbagai negara maju, terutama negara-negara yang tergabung dengan berbagi singkatan2 keren seperti G20, G8, APEC, dsb. Kok bisa Kuba? Yang bahkan mobil-mobil disana masih menggunakan karburator dan merupakan peninggalan teknologi tahun 1960an, kondisi terakhir ketika Kuba masih menganut pasar terbuka belum dipegang oleh Fidel Castro.
Ternyata walaupun dipandang memiliki tingkat modernitas yang rendah, pendidikan di Kuba dapat menjangkau semua rakyatnya, fasilitas kesehatan (walaupun tidak state of the art) dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, ekonomi tetap berjalan dengan tidak konsumsi berlebihan maka sumber daya alam lingkungan mereka terjaga.
Konsumsi berlebihan di kalangan penggiat lingkungan hidup memang dianggap musuh utama yang membuat lingkungan terancam. Dalam diskusi di UI tentang teknologi informasi, saat ini hampir sebagian besar mahasiswa UI telah memiliki minimal 2 gadget, Diprediksi setiap orang akan memiliki minimal 3 gadget dalam 5 tahun kedepan (lihat saja perkembangan smartwatch murah saat ini). Setiap gadget akan membutuhkan listrik untuk mencharge battery, listrik dihasilkan dari sumber daya alam lingkungan, artinya kebutuhan listrik tidak akan meningkat secara linear tapi secara eksponential.

Lanjutkan membaca “Kemerdekaan 70 Tahun Indonesia ala Berpikir Sistem: Limits of Growth”

