Tumbuh dengan Karakter: Bagaimana Teknik Industri UI Menemukan Dirinya – Part 2

Artikel ini adalah artikel 2 dari 2 artikel tentang Sejarah Teknik Industri yang menuliskan tentang Ketika Teknik Industri Indonesia Menemukan Dirinya: Identitas, Strategi, dan Warisan (2000–2026). Sebagai bagian dari tulisan untuk menyambut Dirgahayu Teknik Industri ke 28, 30 Juni 2026

Hampir Dua Puluh Empat SKS dan Jam Sepuluh Malam

Tapi gedung bukan satu-satunya tantangan. Ada tantangan yang lebih mendasar, yang dihadapi setiap hari, setiap semester: siapa yang mengajar?

Jumlah dosen TIUI pada tahun-tahun awal sangat terbatas. Dan mereka yang masih muda, termasuk saya, juga harus mengembangkan diri untuk sekolah lagi. Sementara itu, kurikulum harus berjalan, mahasiswa harus belajar, dan kelas tidak bisa kosong hanya karena dosennya kurang.

Saya mengajar hampir 24 SKS. Bagi yang tidak familier dengan sistem akademik Indonesia, angka itu hampir tiga kali lipat dari beban normal seorang dosen hari ini. Mata kuliah yang saya ampu mencakup hampir semua penjuru Teknik Industri: faktor manusia/ergonomi, analisis kerja, sistem kualitas, pemodelan sistem, manajemen risiko dan berbagai kuliah lainnya. Belum ada regulasi yang membatasi beban mengajar dosen saat itu dan kami mengisinya sampai penuh, bahkan lebih, baik di S1 maupun di S2.

Pulang jam sepuluh malam setiap hari kerja bukan keluhan; itu rutinitas. Dan karena itu, mahasiswa pun terbiasa melihat departemen masih menyala terang lampunya hingga jam 10 malam. Kalau ingin berdiskusi dengan saya, jam delapan malam bukan waktu yang aneh. Yang aneh adalah ada sebuah toples penalti berisi uang seribuan akibat saya menerapkan English Day setiap satu hari dalam sepekan. Jika ada mahasiswa yang mau berdiskusi pada hari itu, harus berbahasa Inggris. Jika tidak memasukkan uang ke toples tersebut, yang nanti setiap semester akan disumbangkan ke lembaga amal.

Di tengah semua itu, sebagai Sekretaris Jurusan/Departemen, saya juga menjadi otak untuk mengawal strategi pengembangan dan pertumbuhan infrastruktur TIUI secara sistematis — meletakkan fondasi prosedur standar untuk semua fungsi administratif dan akademik, serta berhasil mendapatkan dan mengelola hibah pembuatan gedung laboratorium dan pengembangan peralatan laboratorium dari pemerintah senilai 10 miliar. Uang itu tidak datang karena kami menunggu. Ia datang karena kami aktif mencari, mengajukan, dan meyakinkan.

Saya tidak menceritakan ini untuk dramatisasi. Saya menceritakannya karena ini adalah fakta yang perlu diingat oleh siapa pun yang akan datang ke TIUI: departemen ini tidak dilahirkan di lingkungan yang nyaman, bukan top-down tapi bottom-up. Ia dibangun oleh orang-orang yang tidak punya pilihan selain gigih.


Blue Ocean Sebelum Istilahnya Ada

Di tengah semua kesibukan mengajar dan membangun infrastruktur, ada satu pertanyaan yang terus menggantung di benak saya sejak skripsi pertama kali saya tulis: TIUI mau dibawa ke mana?

Ini bukan pertanyaan sentimental. Ini pertanyaan strategis yang sangat konkret. Di Indonesia, Teknik Industri sudah punya pemain yang kuat. ITB sudah membangun reputasi di bidang manufaktur. ITS sudah menancapkan kuku di Supply Chain Management. Kalau TIUI hanya mengikuti jejak mereka, kami akan selalu menjadi pengikut dan pengikut yang terlambat pula.

Jaman sekarang, strategi seperti ini mungkin dikenal dengan istilah blue ocean, mencari ruang kompetisi yang belum diperebutkan daripada bersaing di lautan merah yang sudah sesak. Tapi pada pertengahan 1990-an, saya tidak mengenal istilah itu. Yang saya tahu adalah logikanya: cari ruang yang kosong, dan isi dengan sesuatu yang khas.

Saya melihat tiga peluang besar yang belum digarap secara serius oleh TI lain di Indonesia. Pertama, ergonomi bukan ergonomi yang sudah ada, tapi ergonomi yang berbeda. Kedua, pemodelan dan rekayasa sistem yang membutuhkan fondasi komputasi yang kuat. Ketiga, inovasi dan desain produk, karena desain adalah yang menjadi pembeda antara bidang ilmu teknik dan bidang ilmu manajemen. Dan ketiga-tiganya punya benang merah yang sama: komputasi pada 1990-an mulai menjamur dengan istilah personal PC. Di situlah ciri khas TIUI akan dibangun.


Ergonomi yang Berbeda

Ketika saya mulai mengajar ergonomi, ada yang mengganjal. Ergonomi yang diajarkan di Indonesia saat itu, termasuk yang saya terima sebagai mahasiswa, berpusat pada analisis kerja dan evaluasi kerja secara manual. Mengamati pekerja, mengukur waktu, menghitung beban fisik. Itu penting, tapi belum cukup. Ergonomi modern seharusnya berbicara tentang teknologi, tentang desain produk, tentang bagaimana sistem dirancang agar sesuai dengan manusia bukan sebaliknya.

Ketika kesempatan pendanaan datang, kami merancang Ergonomic Center dengan cara yang berbeda dari lab ergonomi yang ada di Indonesia saat itu. Berbasis teknologi, berorientasi pada desain produk, dan menggunakan pendekatan komputasional yang waktu itu masih jarang disentuh dalam konteks ergonomi. Ergonomic Center TIUI diresmikan pada tahun 2010, memiliki alat canggih terdepan di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara pada masanya. Lab ini memiliki Acoustics & Hearing System Room, Human-Simulation Analysis Software, Eye Tracker, 3D Body Scanner, Motion Capture System, dan Heat-Cold Environment. Rancangan laboratorium yang saya buat dan dorong ini, saya percaya dengan segala kerendahan hati, bisa mendorong arah baru pengembangan ergonomi di Indonesia secara lebih luas.


Inovasi dan Perancangan Produk

Untuk pilar Inovasi, saya punya satu keyakinan yang terus saya pegang: desain adalah yang membedakan teknik dari manajemen. Seorang insinyur bukan hanya menganalisis; ia merancang. Dan kalau Teknik Industri ingin tetap menjadi teknik dan bukan sekadar manajemen dengan baju teknik, maka kemampuan desain harus ada dan harus kuat.

Lab Desain Produk dan Inovasi TIUI menjadi rumah untuk keyakinan itu. Dan salah satu penanda paling konkret dari komitmen itu adalah: TIUI adalah salah satu jurusan pertama di Indonesia yang memiliki 3D printer berbasis bubuk. Di masa ketika banyak orang masih menganggap teknologi cetak tiga dimensi sebagai sesuatu yang eksotis dan jauh dari dunia akademik, kami sudah menggunakannya sebagai alat pembelajaran dan penelitian.

Bukan untuk pamer. Tapi karena masa depan desain ada di sana, dan kami ingin mahasiswa TIUI sudah terbiasa hidup di masa depan itu sebelum dunia industri menuntutnya.


Lab SEMS yang Meredifinisi Arti Dukungan Model

Pilar ketiga — dan yang paling dekat dengan perjalanan akademis saya — adalah Pemodelan dan Rekayasa Sistem.

Lab pemodelan sistem adalah salah satu laboratorium pertama yang berdiri ketika TIUI lahir di 1998. Ia dimulai dengan sederhana: perangkat lunak ProModel untuk simulasi sistem, sudah merupakan terobosan, namun belum cukup, dan masih ada semangat yang berlebih.

Sejak 2005, saya mulai serius mengikuti perkembangan INCOSE — International Council on Systems Engineering. Saya melihat sesuatu yang menarik: Systems Engineering dan Teknik Industri berbagi obsesi yang sama terhadap sistem yang kompleks, hanya datang dari sudut pandang yang berbeda. Integrasi keduanya, saya yakin, adalah arah yang benar.

Ketika ada kesempatan untuk mengubah nama laboratorium, saya tidak ragu. “Lab Pemodelan Sistem” menjadi “Lab Pemodelan, Simulasi, dan Rekayasa Sistem” — SEMS Lab. Penambahan kata “rekayasa sistem” bukan sekadar kosmetik. Ia adalah pernyataan tentang ke mana lab ini, dan TIUI sedang bergerak.

Yang membuat langkah ini terasa lebih bermakna dalam retrospeksi: kami melakukannya jauh sebelum organisasi teknik industri dunia sendiri melakukan hal yang serupa. IIE (Institute of Industrial Engineering), akhirnya mengubah nama menjadi IISE (Institute of Industrial and Systems Engineering). Dunia mengikuti arah yang sudah kami pilih lebih dahulu.

TIUI tidak mengikuti tren global. TIUI mendahuluinya.


Jeda yang Tidak Benar-Benar Jeda: S3 di Dalam Negeri

Pada 2008, setelah hampir satu dekade menjadi Sekretaris Departemen, saya mengambil keputusan yang sudah lama tertunda: mengejar gelar doktor.

Tapi ada satu hal yang membuat keputusan ini lebih rumit dari yang seharusnya. Idealnya, seorang dosen yang ingin melanjutkan S3 sebaiknya pergi ke luar negeri. Ini penting untuk bisa mengubah pola pikir, meningkatkan kepercayaan diri, mengakses ekosistem penelitian yang lebih luas, membangun jaringan internasional, dan kembali dengan perspektif yang segar. Tapi situasi TIUI saat itu tidak memungkinkan itu. Departemen belum memiliki SDM yang cukup untuk ditinggal ke luar negeri selama tiga tahun. Ada tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja dikosongkan.

Maka saya memilih untuk sekolah di dalam negeri. Bukan pilihan yang paling mudah dari sisi karir akademi, tapi pilihan yang paling bertanggung jawab dari sisi loyalitas terhadap departemen yang sudah saya bangun bersama.

Topik yang saya pilih pun bukan kebetulan. Saya mengambil bidang energi dan pembangunan berkelanjutan, sebuah tema yang pada akhir 2000-an masih belum banyak disentuh oleh komunitas Teknik Industri di Indonesia. Saya mengambil S3 di Teknik Kimia UI. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya: apa hubungannya energi dengan teknik industri? Bagi saya, justru di sanalah pertanyaan yang menarik. Sistem energi adalah salah satu sistem paling kompleks yang ada: penuh umpan balik, penuh aktor yang saling berpengaruh, penuh konsekuensi jangka panjang yang tidak terlihat dalam jangka pendek. Memahaminya adalah keharusan bagi siapa pun yang mengklaim memahami sistem.

Paling tidak yang membanggakan adalah saya lulus cum laude. Dan topik yang dulu terasa “terlalu jauh” dari teknik industri itu kini menjadi salah satu lini penelitian yang paling aktif di SEMS Lab — dari pemodelan transisi energi hingga kebijakan pensiun PLTU dan co-firing biomassa.


Kembali, dan Kali Ini sebagai Ketua

Dari 2013 hingga 2017, saya menjabat sebagai Ketua Departemen Teknik Industri UI.

Ini adalah babak yang berbeda dari masa sekretaris. Dulu, tugas saya adalah membangun fondasi — prosedur, infrastruktur, kebiasaan kelembagaan yang akan bertahan lama. Kali ini, tugasnya adalah mengakselerasi.

Salah satu langkah pertama yang saya dorong adalah membuka program S1 internasional. Ini bukan sekadar menambahkan kelas berbahasa Inggris, ini adalah sinyal bahwa TIUI siap bermain di panggung yang lebih luas. Bersamaan dengan itu, program S3 pun resmi dibuka, melengkapi jalur akademis TIUI dari sarjana hingga doktor.

Untuk program S2, ada masalah yang harus dihadapi dengan jujur. Ketika proses akreditasi berlangsung, temuan yang muncul cukup mengejutkan: topik dan kualitas pengerjaan tesis S2 masih di bawah standar yang dicapai program S1. Ada ironi yang tidak nyaman di situ, program yang seharusnya lebih dalam justru menghasilkan output yang lebih dangkal. Jawabannya bukan menegur mahasiswa, tapi memperbaiki sistemnya. Kami memperkenalkan peminatan, kelompok-kelompok fokus studi yang membantu mahasiswa S2 mengerjakan tesis dengan arah yang lebih jelas dan kedalaman yang lebih terukur.

Hasilnya: akreditasi nasional terbaik untuk program S1 dan S2. Bukan sebagai tujuan akhir tapi sebagai konfirmasi bahwa arah yang kami tempuh sudah benar.

Di sisi infrastruktur, periode ini juga menjadi masa panen dari kerja-kerja lobi dan proposal yang sudah dirintis bertahun-tahun sebelumnya. Hibah infrastruktur dari pemerintah dan sektor swasta yang berhasil diterima dan dikelola selama masa kepemimpinan tetap signifikan. Jumlah hibah penelitian tahunan dan output publikasi berhasil digandakan selama empat tahun berturut-turut.

Dan yang tidak kalah penting: kami membangun organisasi alumni yang solid. Alumni bukan sekadar orang-orang yang pernah kuliah di sini. Mereka adalah bukti hidup dari apa yang TIUI hasilkan — dan ketika mereka terorganisir dengan baik, mereka menjadi mitra, pendukung, dan perpanjangan tangan departemen ke dunia industri dan pemerintahan.


Kurikulum yang Tumbuh Bersama Zamannya

Infrastruktur fisik, gedung, laboratorium, adalah bagian yang terlihat dari sebuah departemen. Tapi apa yang terjadi di dalam ruang kuliah, apa yang dipelajari mahasiswa, bagaimana cara berpikir yang dibangun, itulah jantungnya.

Kurikulum TIUI tidak pernah statis. Ia bergerak, bernegosiasi dengan kebutuhan zaman, dan terus merefleksikan diri.

Ketika pertama berdiri, tema kurikulumnya adalah “back to basics.” Tidak banyak mata kuliah pilihan, secara SDM dosen memang tidak memungkinkan. Tapi keterbatasan itu justru menjadi berkah: kami memiliki kesempatan untuk benar-benar memperkaya kuliah-kuliah dasar Teknik Industri, membangunnya dengan fondasi yang kuat sebelum dikembangkan ke mana-mana. Kami mengenalkan pola pemecahan masalah yang terstruktur, mengenalkan berpikir sistem, mengenalkan manajemen risiko dan lain sebagainya. Periode 1998 hingga 2005 adalah masa membangun akar.

Dari 2005 hingga 2010, gelombang digitalisasi mulai masuk ke ruang kuliah. Muatan berbasis komputasi meningkat hampir di semua perkuliahan. Ini bukan keputusan yang datang dari atas, ini respons terhadap realitas bahwa dunia industri sudah berubah, dan mahasiswa yang akan lulus ke dunia itu harus siap. Periode ini adalah masa transisi digital TIUI dengan mengembangkan pula berbagai laboratorium di Teknik Industri

Dari 2010 hingga 2015, fokus bergeser ke sistem yang kompleks. Kurikulum diarahkan untuk mengajarkan kepada mahasiswa cara memecahkan masalah yang tidak memiliki jawaban tunggal, masalah dengan banyak aktor, banyak variabel, banyak ketidakpastian. Bersamaan dengan itu, kurikulum pascasarjana mulai diperkuat secara serius.

Dari 2015 hingga 2020, aspek desain produk dan sistem menjadi penekanan utama, sejalan dengan pemikiran bahwa desain adalah jiwa keteknikan yang tidak boleh hilang dari Teknik Industri.

Dan dari 2020 hingga 2025, arus besar data science dan kecerdasan buatan tidak mungkin diabaikan. Kurikulum diarahkan untuk memperkuat aspek komputasional dan kemampuan bekerja dengan data skala besar.

Ke depan, visi keilmuan TIUI sedang mengarah ke sesuatu yang lebih integratif: interkoneksi antara sistem produk dan jasa — Product Service Systems — yang sekaligus ditopang oleh human-centered dan data-driven solutions. Dua nilai yang mungkin terlihat bertentangan, tapi justru itulah tantangannya. Dan itulah yang selalu membuat Teknik Industri menarik, ia hidup di persimpangan antara manusia dan sistem, antara yang terukur dan yang tidak.


Dua Sisi Mata Uang: Lunak dan Keras

Di sepanjang perjalanan ini, saya mencoba konsisten dalam satu hal: bahwa insinyur industri yang utuh bukan hanya insinyur yang pandai menghitung. Ia juga harus bisa berbicara, meyakinkan, dan memimpin.

Untuk sisi keras, saya mendorong penggunaan alat-alat kuantitatif secara serius — system dynamics, multi-methods modeling, simulasi berbasis komputer. Ini bukan sekadar soal teknik analitis. Ini tentang cara berpikir: bahwa dunia nyata penuh umpan balik, penuh keterlambatan, penuh konsekuensi yang tidak terduga. Dan untuk memahaminya, kita butuh alat yang sepadan dengan kompleksitasnya.

Untuk sisi lunak, saya melakukan sesuatu yang mungkin terdengar ganjil untuk sebuah departemen teknik: membuka mata kuliah pilihan Interpersonal Skills.

Keputusan itu lahir dari pengalaman konsultansi. Saya melihat berulang kali bagaimana solusi yang secara teknis brilian gagal diadopsi hanya karena tidak disampaikan dengan cara yang meyakinkan. Ide yang baik, tapi tidak bisa dikomunikasikan, sama saja dengan ide yang tidak ada. Dan itu pemborosan yang tidak bisa saya terima.

Tentu saja ada yang mempertanyakan. Dalam satu sesi akreditasi, seorang reviewer bertanya: kenapa ini perlu menjadi mata kuliah penuh? Bukankah cukup menjadi syarat penugasan di kelas lain?

Saya tetap pada pendirian: mempertahankannya sebagai mata kuliah adalah strategi yang disengaja. Kehadiran mata kuliah itu di dalam kurikulum, bahkan untuk mahasiswa yang tidak sempat mengambilnya, sudah menjadi sinyal. Sinyal bahwa di TIUI, kemampuan berkomunikasi bukan pelengkap. Ia adalah inti.

Apakah itu berhasil? Baru-baru ini, seorang alumni dari lab saya mengirimkan sebuah tangkapan layar dari X — nama baru Twitter. Di sana, ada percakapan publik yang mencatat sesuatu: bahwa mahasiswa Teknik Industri UI punya taste desain dan komunikasi yang konsisten dan berbeda. Bukan karena siapapun mengkampanyekannya. Tapi karena selama bertahun-tahun, hal itu dibangun satu kelas, satu presentasi, satu mahasiswa dalam satu waktu.

Saya juga menjaga agar Systems Thinking menjadi arus utama di Teknik Industri UI. Saya memperkenalkannya sebagai cara berpikir berbasis pola melalui serangkaian pertanyaan yang terstruktur. Bukan sekadar alat analisis, tapi cara melihat dunia. Hari ini ia menjadi mata kuliah wajib di program S2, dan diintegrasikan ke berbagai mata kuliah pilihan S1 seperti Model-Based Decision Making dan Rekayasa Sistem.


Yang Tidak Boleh Dilupakan

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan dengan sangat langsung — bukan kepada pembaca umum, tapi kepada para dosen dan mahasiswa TIUI yang mungkin membaca tulisan ini.

Departemen Teknik Industri UI hari ini bukan sesuatu yang datang dengan mudah.

Ketika departemen-departemen baru lain di Fakultas Teknik UI berdiri, mereka mendapat gedung yang bahkan bukan melalui APBN, tetapi dari dana internal. Kami tidak. Kami harus mencari dana gedung sendiri, membangunnya dengan dana alumni yang dikumpulkan sendiri, baru kemudian mencari peluang APBN dan alhamdulillah mendapatkan.

Ketika departemen lain mendapat dukungan infrastruktur dari Fakultas, kami harus mengembangkan laboratorium dengan dana yang dicari sendiri, satu per satu, peluang per peluang. Seluruh 6 Lab di Teknik Industri, semuanya berdiri bukan karena ada yang memberikan anggaran besar di awal. Tapi karena ada orang-orang yang cukup gigih untuk mencari jalan ketika tidak ada jalan.

Strategi pengembangan pun kami rancang sendiri, tanpa konsultan, tanpa panduan dari atas. Hanya dengan keyakinan bahwa diferensiasi adalah satu-satunya jalan keluar dari ketertinggalan.

Dan jangan lupa: tantangan itu tidak hanya datang dari luar. Ia juga datang dari dalam. Ada beberapa dosen Teknik Industri sendiri yang merasa nyaman untuk tetap berada di bawah naungan Teknik Mesin dan karena kenyamanan itu, mereka tidak mendukung, bahkan terkesan menghambat perjuangan untuk berdiri sendiri. Ini bukan cerita yang mudah diingat, tapi ia perlu disebutkan. Karena perubahan yang nyata hampir selalu menghadapi resistensi, termasuk dari orang-orang yang seharusnya berada di pihak yang sama.

Karena itu, kalau hari ini TIUI disebut sebagai salah satu departemen teknik industri terdepan di Indonesia, dan saya percaya predikat itu bukan sekadar klaim, ketahuilah bahwa ia adalah hasil kerja keras, bukan hasil dari situasi yang menguntungkan sejak awal. Prestasi TIUI punya akar yang dalam dan tidak mudah. Dan akar itu perlu diketahui oleh siapa pun yang akan meneruskan perjalanan ini.

Semangat pejuang itu, yang selalu berusaha membedakan diri, selalu adaptif untuk mencari cara untuk menjadi lebih baik tanpa menunggu bantuan datang adalah DNA yang harus diwariskan, bukan dilupakan.


Penutup: Ketika Skripsi Bisa Berwujud Menjadi Nyata

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sesuatu yang sedikit personal.

Pada 1996, saya menulis skripsi tentang perencanaan strategis sebuah jurusan yang bahkan belum resmi ada. Saya memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya. Saya merumuskan strategi diferensiasi. Saya menggunakan metodologi Hoshin Planning (yang perangkat lunaknya datang lewat pos dalam bentuk floppy disk) untuk memvisualisasikan bagaimana sebuah departemen teknik industri yang mandiri seharusnya dibangun dan dijalankan.

Bertahun-tahun kemudian, kalau saya membuka kembali dokumen itu dan membandingkannya dengan apa yang TIUI menjadi hari ini, ada perasaan yang sulit saya deskripsikan. Bukan sekadar bangga, tapi lebih seperti takjub bahwa garis-garis yang digambar di atas kertas oleh seorang mahasiswa yang belum lulus ternyata benar-benar bisa menjadi peta perjalanan.

Tidak banyak lulusan S1 yang bisa melihat skripsinya terwujud. Saya adalah salah satu yang beruntung.

Tapi lebih dari keberuntungan, ini adalah pengingat: bahwa perencanaan yang sungguh-sungguh, bahkan ketika dilakukan oleh seseorang yang belum punya jabatan, belum punya sumber daya, dan belum punya kepastian — bisa mengubah institusi.

TIUI bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari sebuah rencana yang diperjuangkan selama hampir tiga dekade.

Dan perjalanannya belum selesai.

Dirgahayu Teknik Industri ke 28, 30 Juni 2026


Tulisan ini adalah rekonstruksi narasi personal berdasarkan ingatan dan pengalaman langsung penulis sebagai salah satu pendiri Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia. Beberapa detail kronologis dan konteks institusional mungkin memerlukan verifikasi dari dokumen arsip departemen. Koreksi dan tambahan dari rekan-rekan yang ikut melewati perjalanan ini sangat disambut.

Tinggalkan komentar