Teknik Industri Perlu Ganti Nama?

Setelah bertahun-tahun menjelaskan apa itu teknik industri, saya mengambil kesimpulan bahwa teknik industri perlu mengganti nama untuk menjaga relevansinya saat ini. Hal ini terutama berlaku di institusi teknik industri tempat berkarya saya saat ini yaitu Teknik Industri UI. Mempertimbangkan lokasi di ibu kota dan cakupan kerja lulusannya, TIUI selalu berfokus untuk melayani industri jasa dengan tetap mempertahankan kemampuan untuk bekerja di industri manufaktur atau industri produksi barang. Sehingga akhirnya baru-baru ini disepakati bahwa TIUI akan menjadi A Service System Engineering Education Program. Namun saya sadar bahwa kesepakatan ini juga memiliki peluang untuk menambah permasalahan penjelasan karena: (1) harus menjelaskan dulu teknik industri itu apa dan (2) harus menjelaskan konsep service system engineering.

Ketika memikirkan strategi penjelasan inilah, saya akhirnya berkesimpulan bahwa kesalahan terbesar kami semua (para perekayasa industri) adalah karena kurang sadar bahwa kalimat “industri” akan selalu diterjemahkan oleh publik sebagai pabrik. Apalagi ketika disandingkan dengan kata “teknik”. Padahal jika merujuk kepada adanya istilah industri pariwisata, industri musik, atau industri layanan lainnya, telah jelas bahwa industri tidaklah memiliki makna tunggal ke pabrik atau pembuat barang saja, namun juga ke layanan jasa. Nah, apa arti sesungguhnya dari “industri”? Menurut saya adalah penambahan nilai (value adding)

Kata “industri” memang awalnya secara harfiah didefinisikan sebagai “economic activity concerned with the processing of raw materials and manufacture of goods in factories”, yang memang berarti adalah pabrik. Tapi terjemahan ini jika diambil makna sebenarnya adalah adanya aktivitas penambahan nilai. Aktivitas penambahan nilai (value adding activities) terjadi melalui transformasi satu atau beberapa material menjadi sebuah produk. Sebuah tepung terigu ketika diproses menjadi mie instan, memiliki pertambahan nilai yang dilambangkan dengan harga jual yang meningkat. Jadi ketika perekayasa industri melakukan tugasnya di berbagai proses transformasi di pabrik, ternyata disadari bahwa berbagai prinsip-prinsip yang terjadi di pabrik, dapat diimplementasikan pula di proses transformasi lainnya di non-pabrik.

Mengapa ini terjadi? Karena ini pada aktivitas penambahan nilai ternyata berlaku secara universal di semua bidang. Konsep yang sama juga menyebabkan kata industri dipakai di industri pariwisata dan industri musik. Adanya pertambahan nilai dari sekedar menjual furniture, menjadi menjual kamar hotel, menjadi menjual atraksi wisata menjadi ciri industri pariwisata. Adanya pertambahan nilai dari hanya menyanyi di kamar mandi, menjadi rekaman, acara konser musik dan sebagainya.

Jadi menurut saya, sebaiknya Teknik Industri menjadi Teknik Penambahan Nilai (From Industrial Engineering to Value Adding Engineering). Karena sebenarnya yang dipelajari adalah bagaimana kita merancang, memasang (install) dan meningkatkan aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan sehingga dapat memberikan pertambahan nilai dari apa yang diproses. Harus diakui, untuk belajar maka lebih mudah menggunakan obyek manufaktur sebagai studi kasusnya, dibandingkan obyek jasa. Perhatikan kata lebih mudah, bukan tidak mungkin, karena di TIUI perancangan sistem tidak selalu sebuah proses produksi pabrik, tetapi proses layanan restoran, klinik/rumah sakit atau jasa pelabuhan.

Perhatikan pula  kata aktivitas yang terkoneksi karena ini juga kata kunci dalam peningkatan nilai tambah. Jadi alih-alih berfokus kepada satu aktivitas yang hanya menjanjikan peningkatan terbatas terhadap nilai, maka fokus diberikan kepada koneksi. Itu yang menyebabkan seorang perekayasa industri eh maaf … perekayasa pertambahan nilai, perlu mempelajari berbagai hal secara cukup (bukan sedikit-dikit) untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi koneksi yang bisa memberikan penambahan nilai yang lebih tinggi. Kita memang tidak boleh terlalu dalam mempelajari satu komponen, karena kita bisa terjebak untuk hanya berfokus kepada komponen tersebut saja. Namun di mata publik, ini cukup ini dianggap sama dengan sedikit, jadi terkesan tidak jelas. Padahal seorang perekayasa industri, eh salah lagi.. perekayasa penambahan nilai Winking smile, sebenarnya adalah seorang spesialis, yaitu spesialis generalis.

(Fokus ke interkoneksi yang membuat pula istilah sistem menjadi sering digunakan di teknik industri. Suatu hal yang akan saya jelaskan di tulisan lain.)

Jadi mungkin saatnya teknik industri berganti nama, karena menjelaskannya menjadi lebih mudah karena namanya menjadi lebih asing sehingga tidak ada asumsi awal yang harus dikoreksi. Pembaca atau pendengar tidak akan terjebak dengan kata industri yang berkonotasi dengan hanya pabrik, dan berpindah fokus ke pertambahan nilai. Karena pada kenyataannya memang teknik industri telah meluas dari sejak berdirinya ke industri-industri yang membutuhkan pertambahan nilai.

Berpikir Sistem untuk Kepemimpinan: Konsep 3C

Saya memandang fenomena kepemimpinan yang terjadi di negara kita, baik pada tingkat daerah maupun pusat, ternyata mengerucut dalam 3 hal yang saya sebut sebagai 3Cs of Leadership, yaitu: Character, Competence and Context. Sebuah konsep yang membuat kita seolah-olah selalu memiliki krisis kepemimpinan, tidak hanya secara politik namun juga secara bisnis. Yang saya maksud dengan krisis adalah ketika seolah-olah kita dihadapkan hanya kepada satu pilihan saja atau tidak ada pilihan sama sekali. Buku kuno karangan Warren Bennis, yang dianggap sebagai bapaknya ilmu kepemimpinan modern, on becoming a leader, juga menyoroti hal yang sama terjadi di Amerika. Bukan karena tidak adanya pemimpin, karena kan pasti setiap perusahaan dan organisasi punya pemimpin, namun pemimpin yang berkualitas. Bukan karena tidak ada yang mau jadi pemimpin, namun karena yang cocok jadi pemimpin malah tidak mau menjadi pemimpin dengan berbagai alasannya.

Setelah mencoba untuk mencari tahu tentang berbagai ilmu kepemimpinan, saya sampai pada kesimpulan adanya 4 komponen kepemimpinan penting dalam kepemimpinan, yang akan kita bahas. [sebelum anda merasa bahwa saya membuat kesalahan, karena kan konsepnya 3C, kenapa kok komponennya ada 4? Maka silahkan baca lebih lanjut]

1. Character – Karakter

Karakter merupakan hal pertama yang dibahas ketika orang mulai menyusun konsep kepemimpinan. Pendapat tradisional yang mengakar dimasyarakat adalah bahwa seorang pemimpin adalah dilahirkan, buat dibentuk (leaders are born, not made). Ini karena pendapat ini berlandaskan bahwa karakter merupakan landasan seorang pemimpin, yang memang ada benarnya. Karakter memang seolah-olah merupakan cerminan dalam menentukan pengambilan keputusan. Seorang dengan karakter tegas, akan memimpin dengan tegas pula. Itu yang membuat “ilusi” di negara kita bahwa pemimpin dengan latar belakang militer pasti akan lebih tegas dari bidang sipil. Namun orang lupa bahwa di militer, semua orang dididik untuk patuh kepada atasan, sedangkan di pemerintahan sipil, kepatuhan adalah transaksional, bukan norma. Sehingga pernah ada masa ketika ada persepsi bahwa seorang pemimpin bisnis akan cocok menjadi pimpinan politik, karena sifat transaksionalnya. Namun orang lupa bahwa di bisnis sebenarnya juga ada kemutlakan kewenangan pimpinan, yaitu mereka dengan mudah bisa memecat orang. Anda pernah tahu kemudahan untuk memecat PNS? Hampir amat sangat tidak mungkin sekali. Para pemimpin bisnis ini malah terjebak ke dalam proses transaksional tanpa akhir  karena tidak sadar bahwa there is no such things as “real” win-win in politics. Lanjutkan membaca “Berpikir Sistem untuk Kepemimpinan: Konsep 3C”