Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)

Siang hari di kampus setelah makan siang:

Seorang mahasiswi datang ke rekan kerja saya yang pria, kemudian berkata “Pak, saya positif”.

??????

 

Sering saya kemukakan ketika mengajar bahwa medium komunikasi kita: suara, tulisan, gambar, adalah medium yang sangat lemah untuk mengkomunikasikan apa yang kita maksudkan, karena banyaknya keterbatasan pada medium tersebut dan betapa bergantungnya kita terhadap kesamaan konteks antara pembicara dan pendengar (dalam hal suara misalnya). Sebuah kata kasar bisa menyinggung pendengarnya ketika dalam suasana hati jelek pada suasana formal, tetapi bisa merupakan gurauan pada suasana hati gembira dalam suasana informal.

Untuk itu, sangat penting bagi pemikir sistem untuk memiliki struktur dalam bertanya atau menjawab pertanyaan ketika berkomunikasi, yang akan mengurangi kesalahpahaman ini. Struktur itu dapat disingkat sebagai SPQ&ISA – Situation, Perception, Questions dan Interpretation Structure Answer.

Bertanya dengan SPQ

Situation, uraikan situasi yang membuat anda akan bertanya secara apa adanya (tanpa adanya interpretasi atau pendapat anda terlebih dahulu). Pengantar situasi penting untuk memberikan gambaran bagi penjawab dalam konteks apa anda akan bertanya, sehingga mengurani mis-interpretasi dari pertanyaan anda.

Perception, jelaskan bagaimana menurut anda situasi tadi, disini anda memberikan perspektif anda terhadap situasi, like or dislike, agree or not agree

Questions, pertanyaan yang ingin diajukan

Menjawab dengan ISA

Lanjutkan membaca “Bertanya dan Menjawab ala Berpikir Sistem (SPQ&ISA)”

Think Before You Post

Di dalam ranah sosial media yang sedang menggandrungi semua orang (paling tidak semua orang yang memiliki handphone) ada prinsip kualitas yang juga berlaku, yaitu: Think before Act, yang kemudian dijabarkan ke metode PDCA. Prinsip ini jika diterjemahkan adalah Think before You Post.

Anda harus berhati-hati dalam media sosial. Setiap postingan, apakah komentar, “suara hati”, link, gambar dan lain sebagainya bisa dibaca oleh orang lain secara berbeda. Apalagi jika anda adalah orang yang berfokus kepada tujuan yang salah dalam media sosial: pengin punya “teman” sebanyak mungkin atau postingan sebanyak mungkin setiap hari (post for the sake of posting – atau tweet for the sake of tweeting).

Tidak semua teman adalah teman dekat yang mengerti anda. Teman memiliki berbagai strata: teman tetangga sejak kecil, teman kuliah, teman kerja, teman hobby, teman “atasan”, teman “HRD” dll. Setiap teman memiliki tujuan yang berbeda-beda, ada yang tulus berteman dan ada yang tidak tulus berteman.

Lanjutkan membaca “Think Before You Post”